Saham Bank Digital & AI: BBYB, AGRO, ARTO Siapa Unggul?

AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking••By 3L3C

Lonjakan BBYB, ARTO, dan AGRO bukan cuma euforia. AI dan data kini jadi faktor kunci yang menggerakkan laba, risiko, dan valuasi bank digital Indonesia.

saham bank digitalAI perbankanBank Neo Commerce BBYBBank Jago ARTOAGROdigital banking Indonesia
Share:

Saham Bank Digital & AI: BBYB, AGRO, ARTO Siapa Unggul?

Lonjakan lebih dari 160% year-to-date di saham Bank Neo Commerce (BBYB) dan reli dua digit di Bank Jago (ARTO) bukan cuma soal euforia pasar. Di balik grafik yang menanjak, ada cerita yang jauh lebih penting: siapa bank digital yang paling siap memanfaatkan AI untuk menang di era banking tanpa cabang?

Ini relevan banget buat dua kubu: investor yang cari growth di sektor bank digital, dan pelaku industri perbankan yang lagi ngebut transformasi digital. Keduanya sekarang ketemu di satu titik: AI bukan lagi fitur tambahan, tapi fondasi bisnis.

Di tulisan ini, kita bahas:

  • Apa yang sebenarnya terjadi di saham bank digital seperti BBYB dan ARTO
  • Bagaimana AI ikut membentuk kinerja dan persepsi investor
  • Kenapa keunggulan AI bisa jadi beda antara juara jangka pendek vs juara jangka panjang
  • Apa yang perlu dipantau investor dan banker ke depan

Apa yang Terjadi dengan Saham BBYB, ARTO, dan Bank Digital Lain?

Saham bank digital lagi “adu ngebut”, dan BBYB sementara berada paling depan.

Beberapa angka penting BBYB per kuartal III/2025:

  • Harga saham tembus Rp565, tertinggi sejak pertengahan 2023
  • Naik >50% dalam sebulan
  • Naik hampir 160% sejak awal tahun
  • Laba bersih ~Rp464 miliar, melonjak dari Rp4,06 miliar (growth > 11.300% YoY)
  • ROA naik ke sekitar 3,45% (dari 0,03%)
  • ROE naik ke sekitar 16,96% (dari 0,16%)
  • NPL gross turun ke sekitar 2,92% (dari 3,72%)
  • NPL net di level sangat rendah, sekitar 0,23%
  • CAR kuat di kisaran 46,73%

Dari sisi pasar:

  • Satu hari perdagangan, BBYB tembus 20,21% naik dalam sehari
  • Volume transaksi sekitar 14 juta lembar
  • Nilai transaksi harian ~Rp762,93 miliar
  • Asing masuk dengan net buy Rp127,55 miliar
  • Pemegang saham besar PT Gozco Capital menambah kepemilikan >72 juta lembar (26/11/2025)

ARTO juga ikut terbang sekitar 11% di hari yang sama, ikut menikmati sentimen positif bank digital seiring IHSG yang cetak rekor dan sektor keuangan yang jadi sorotan.

Intinya: pasar lagi mulai “harga ulang” (re-rating) prospek bank digital, terutama yang sudah mulai sanggup mencetak laba dan menunjukkan efisiensi.


Di Balik Angka: AI Jadi Pembeda Utama Bank Digital

Kalau cuma lihat grafik harga, semua terlihat spekulatif. Tapi di industri bank digital, AI punya peran langsung ke laba, risiko, dan valuasi.

1. AI dan Lonjakan Laba: Lebih dari Sekadar Hemat Biaya

Lonjakan laba BBYB banyak didorong oleh:

  • Turunnya biaya kredit (provision)
  • Efisiensi operasional

Dua hal ini sangat nyambung dengan pemanfaatan AI dan data.

Bank digital yang matang secara AI biasanya punya:

  • Scoring kredit berbasis AI:

    • Pakai data alternatif: pola transaksi, device, perilaku aplikasi, bahkan jam login
    • Hasilnya: approval lebih presisi, NPL bisa ditekan tanpa membunuh pertumbuhan kredit
  • Automated underwriting & collection:

    • Proses analisis kredit otomatis untuk tiket kecil-menengah
    • Reminder & strategi penagihan dipersonalisasi pakai machine learning
  • Fraud detection real-time:

    • Model AI monitor pola transaksi yang tidak lazim dalam hitungan detik
    • Mengurangi fraud loss dan biaya operasional tim investigasi

Perbaikan NPL gross BBYB dari ~3,72% ke 2,92% dan NPL net ke 0,23% adalah sinyal kuat ada perbaikan risk management. Apakah ini 100% karena AI? Tentu faktor bank tradisional seperti kebijakan kredit, kualitas debitur, dan siklus ekonomi juga main. Tapi di bank digital, AI biasanya jadi tulang punggung proses risiko, bukan pelengkap.

2. AI dan Efisiensi: Cost to Income Jadi Senjata

Bank digital yang sukses akan hidup dari scale dan automation. Di sini AI bikin perbedaan besar:

  • Chatbot bahasa Indonesia berbasis NLP untuk layanan 24/7 tanpa menambah CS berlapis-lapis
  • Rekomendasi produk otomatis, misalnya tawaran top-up limit, KTA digital, atau paylater berdasarkan pola transaksi
  • Proses operasional (reconciliations, fraud alert triage, AML monitoring) ditangani oleh machine learning, bukan 100% manual

Dampaknya muncul di:

  • Rasio beban operasional terhadap pendapatan (BOPO) yang makin efisien
  • ROA dan ROE yang naik tanpa perlu agresif buka cabang fisik

Kita sudah lihat indikasinya di BBYB lewat naiknya ROA dan ROE secara tajam. Itu sinyal bank mulai menemukan “sweet spot” antara growth dan efisiensi — pola yang nyaris mustahil tanpa digital dan AI sebagai core.


BBYB vs AGRO vs ARTO: Siapa Paling Menarik buat Era AI Banking?

Jawabannya tidak sesederhana “mana yang naik paling tinggi hari ini”. Juara jangka pendek (price) dan juara jangka panjang (fundamental + kapabilitas AI) bisa beda.

Mari lihat dari tiga kacamata: model bisnis, kekuatan ekosistem, dan potensi AI.

1. Model Bisnis & Ekosistem

Tanpa menyebut angka atau strategi internal detail tiap bank, pola umumnya seperti ini:

  • BBYB (Bank Neo Commerce)

    • Fokus pada retail mass market dan pengguna aplikasi dengan penawaran bunga menarik dan pengalaman full digital
    • Tumbuh agresif di funding ritel dan kredit konsumer/tiket kecil
    • Cocok untuk eksperimen scoring kredit AI karena datanya kaya dan transaksional
  • ARTO (Bank Jago)

    • Kuat di ekosistem (terkait dengan platform digital besar di Indonesia)
    • Banyak bermain di bank as a service (BaaS), jadi infrastruktur keuangan untuk fintech dan superapp
    • Kapabilitas AI cenderung tertanam di integrasi API, risk engine, dan rekomendasi produk dalam ekosistem
  • AGRO (Bank Rakyat Indonesia Agroniaga / BRI Agro)
    • Berada di payung grup BRI, dengan kekuatan data UMKM dan agro
    • Potensi besar untuk main AI credit scoring UMKM berbasis data transaksi dan supply chain
    • Fokus ke segmen produktif bisa jadi keunggulan jangka panjang, kalau AI dimanfaatkan dengan benar

Investor yang serius di sektor ini harus mulai nanya:

Bukan cuma “EPS naik berapa?”, tapi “seberapa dalam AI diintegrasikan ke proses lending, risk, dan operasional bank ini?”

2. Potensi AI sebagai Faktor Valuasi

Ada beberapa indikator praktis yang bisa dipakai buat menilai “maturity AI” sebuah bank digital (meski dari luar, kita cuma bisa baca sinyal):

  1. Portofolio produk digital

    • Ada fitur personalisasi?
    • Ada pre-approved loan berdasarkan perilaku?
  2. Kualitas risk metric

    • NPL terjaga walau ekspansi kredit agresif
    • Coverage ratio dan provision menunjukkan risk model bekerja
  3. Efisiensi operasional

    • BOPO turun seiring volume tumbuh
    • ROA/ROE naik bukan cuma karena one-off gain
  4. Kolaborasi teknologi

    • Kerja sama dengan fintech, AI startup, atau hyperscaler cloud
    • Penerapan analytics dan data lake yang serius (sering muncul di laporan tahunan/paparan publik)

BBYB dengan lonjakan laba dan perbaikan NPL jelas sedang di-“reward” pasar. ARTO dan AGRO mungkin punya jalan cerita berbeda, tapi benang merahnya tetap sama: investor akan makin menghargai bank digital yang bisa membuktikan AI mereka berdampak ke angka.


Mengapa Minat Investor ke Bank Digital Meningkat Lagi di Akhir 2025?

Di akhir 2025, ada beberapa faktor yang bikin bank digital kembali jadi pusat perhatian:

  1. IHSG mencetak rekor dan sektor keuangan ikut kecipratan sentimen positif
  2. Ada pergeseran dana dari saham siklikal ke growth yang punya cerita jelas, termasuk bank digital yang sudah mulai menghasilkan laba
  3. Pasar mulai melihat siapa yang berhasil melewati fase “bakar uang” dan berpindah ke fase monetisasi + efisiensi

Di titik ini, bank digital yang serius di AI punya narasi yang jauh lebih menarik:

  • Mereka bisa bilang ke pasar: “Kami bukan cuma punya aplikasi bagus, tapi juga risk engine yang kuat dan efisien.”
  • Mereka bisa menunjukkan: “NPL turun, biaya kredit terkendali, tapi penyaluran kredit tetap tumbuh.”

Itu alasan kenapa data seperti:

  • NPL gross turun
  • ROE tembus dua digit
  • CAR tetap tebal

jadi “jualan” penting di sesi paparan publik, dan sering jadi pemicu aksi akumulasi institusi, seperti yang terlihat di BBYB dengan penambahan kepemilikan Gozco Capital dan masuknya investor asing.


Untuk Investor & Banker: Apa yang Harus Dipantau ke Depan?

Untuk Investor Ritel & Institusi

Kalau fokus Anda di saham bank digital Indonesia, beberapa hal ini layak masuk checklist:

  1. Apakah bank punya strategi AI yang konkret?

    • Bukan sekadar menyebut “AI” di presentasi, tapi terlihat di produk dan indikator risiko
  2. Apakah pertumbuhan laba berkelanjutan?

    • Pertumbuhan >1000% seperti BBYB menarik, tapi lihat juga:
      • Tren beberapa kuartal ke depan
      • Kualitas portofolio kredit saat ekonomi berubah
  3. Bagaimana rasio risiko dan modal?

    • NPL dan CAR harus tetap sehat meski ekspansi agresif
  4. Apakah valuasi masih masuk akal dibanding potensi pertumbuhan?

    • Saham yang sudah naik 160% bisa tetap menarik kalau growth fundamental dan kapasitas AI-nya kuat

Untuk Manajemen Bank & Praktisi Perbankan

Di sisi lain, kalau Anda berada di dalam industri perbankan, pelajaran dari BBYB, ARTO, dan AGRO cukup jelas:

  • AI bukan proyek sampingan departemen IT. AI harus masuk ke:
    • Strategi kredit
    • Desain produk
    • Operasional back office
  • Data harus rapi dulu, baru bicara AI canggih. Tanpa data yang terstruktur, hasil model akan bias dan membahayakan risk profile.
  • Talenta AI & data jadi sama pentingnya dengan relationship manager di era bank konvensional.

Ada peluang besar di area:

  • Penilaian kredit UMKM berbasis data transaksi
  • Deteksi fraud untuk pembayaran real-time
  • Chatbot bahasa Indonesia yang benar-benar paham konteks lokal
  • Personalisasi penawaran produk untuk meningkatkan cross-selling

Bank yang menggabungkan fondasi keuangan kuat + ekosistem digital + AI yang matang akan berada di jalur yang tepat untuk menang bukan hanya di bursa, tapi juga di pasar nasabah.


Penutup: Juara Sebenarnya Adalah Bank yang Paling Serius di AI

Lonjakan BBYB, pergerakan ARTO, dan mulai diliriknya AGRO menunjukkan satu hal: pasar mulai membedakan bank digital yang sekadar hype dengan yang punya mesin bisnis nyata. Dan di era ini, “mesin” itu hampir selalu berarti AI + data.

Bagi investor, pertanyaannya bergeser dari “mana yang paling murah?” menjadi:

Bank digital mana yang paling siap menggunakan AI untuk menjaga kualitas kredit, menekan biaya, dan menumbuhkan laba bertahun-tahun ke depan?

Bagi pelaku industri perbankan, pesan besarnya sederhana: jika strategi digital Anda belum punya tulang punggung AI, Anda akan tertinggal, bukan hanya dalam persaingan layanan, tapi juga dalam pandangan investor.

Seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking” berikutnya akan mengupas lebih teknis bagaimana bank di Indonesia membangun credit scoring berbasis AI dan apa dampaknya ke inklusi keuangan. Ini area yang akan sangat menentukan siapa juara sesungguhnya di peta bank digital Indonesia beberapa tahun ke depan.