Perombakan direksi BRI jadi sinyal arah baru strategi AI dan digital banking. Apa artinya untuk nasabah, UMKM, dan investor? Ini analisis lengkapnya.

Rombak Direksi BRI: Sinyal Serius ke Arah AI & Digital Banking
Satu hal yang sering diabaikan investor: perubahan direksi di bank besar hampir selalu diikuti perubahan strategi. BRI baru saja merombak jajaran pengurus lewat RUPSLB pada 17/12/2025, dan ini bukan sekadar rotasi kursi. Untuk perbankan Indonesia, khususnya di era AI dan digital banking, ini adalah sinyal penting.
BRI bukan bank kecil yang sedang coba-coba. Ini bank dengan ratusan ribu agen, jutaan nasabah mikro, dan ambisi besar di layanan digital seperti BRImo dan ekosistem ultra mikro. Jadi, ketika susunan direksi diubah — terutama di posisi kunci seperti Finance & Strategy, Consumer Banking, IT, dan Risk Management — pasar wajar kalau langsung bertanya:
“Apa langkah berikutnya di digital banking dan pemanfaatan AI?”
Artikel ini membahas:
- Apa saja perubahan susunan direksi BRI terbaru
- Kenapa perombakan ini relevan dengan transformasi digital dan AI
- Area mana saja di BRI yang sangat mungkin digarap dengan AI (fraud, kredit, layanan nasabah, inklusi keuangan)
- Implikasi untuk nasabah, pelaku UMKM, dan investor
Susunan Direksi Baru BRI: Siapa Pegang Apa?
Jawaban singkatnya: BRI menempatkan orang-orang baru di kursi yang sangat strategis untuk era digital banking.
Berikut susunan direksi BRI terbaru berdasarkan RUPSLB Rabu, 17/12/2025:
- Direktur Utama: Hery Gunardi
- Wakil Direktur Utama: Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari
- Direktur Finance & Strategy: Achmad Royadi
- Direktur Consumer Banking: Aris Hartanto
- Direktur Legal & Compliance: Mahdi Yusuf
- Direktur Network dan Retail Funding: Aquarius Rudianto
- Direktur Micro: Akhmad Purwakajaya
- Direktur Commercial Banking: Alexander Dippo Paris Y. S.
- Direktur Treasury and International Banking: Farida Thamrin
- Direktur Corporate Banking: Riko Tasmaya
- Direktur Operations: Hakim Putratama
- Direktur Information Technology: Saladin Dharma Nugraha Effendi
- Direktur Manajemen Risiko: Ety Yuniarti
Beberapa poin kunci dari perombakan ini:
-
Viviana naik jadi Wakil Direktur Utama
Sebelumnya memegang posisi Finance & Strategy, sekarang naik satu tingkat ke posisi Wadirut. Ini biasanya pertanda perusahaan ingin menguatkan eksekusi strategi jangka panjang, termasuk transformasi digital dan ekspansi ekosistem. -
Direktur Finance & Strategy baru: Achmad Royadi
Posisi ini adalah “mesin perencanaan” bank. Semua rencana investasi teknologi, pengembangan AI, penguatan infrastruktur data, sampai efisiensi biaya digital akan melewati meja ini. -
Direktur Consumer Banking baru: Aris Hartanto
Segmen consumer adalah rumahnya produk digital: mobile banking, kartu, pinjaman konsumtif, dan pengalaman nasabah ritel. Kalau BRI ingin mempercepat adopsi AI di BRImo, personalisasi penawaran, dan integrasi ekosistem, sini titik tekannya. -
Direktur Manajemen Risiko dan Direktur Legal & Compliance baru
- Manajemen Risiko: Ety Yuniarti
- Legal & Compliance: Mahdi Yusuf
Di era AI dan data-driven banking, manajemen risiko dan kepatuhan bukan cuma soal cek manual dan laporan berkala. Bank butuh model risiko berbasis machine learning, sistem anti-fraud real time, dan tata kelola data yang kuat.
Dari komposisi ini, kelihatan satu pola: BRI sedang merapikan tim inti untuk strategi, risiko, konsumer, dan teknologi — empat area yang jadi fondasi digital banking berbasis AI.
Kenapa Perubahan Direksi Penting untuk Strategi Digital & AI BRI?
Perubahan direksi di bank BUMN ini sering dibaca sebagai penyesuaian arah besar: dari fokus ekspansi cabang fisik ke optimasi digital, dari manual ke otomatis, dari transaksi ke analitik.
Ada tiga alasan kenapa perombakan direksi BRI ini relevan buat agenda AI dalam perbankan Indonesia.
1. Finance & Strategy: Dari Biaya IT Jadi Investasi AI
Di banyak bank, teknologi dulu dianggap cost center. Sekarang, dengan AI, teknologi adalah revenue driver dan risk reducer.
Direktur Finance & Strategy akan sangat menentukan:
- Seberapa agresif BRI berinvestasi di data platform dan cloud
- Seberapa besar porsi anggaran untuk AI-based credit scoring dan fraud detection
- Bagaimana bank menyeimbangkan dividen ke pemegang saham (BRI baru saja tebar dividen interim) dengan investasi jangka panjang di digital banking
Kalau strategi keuangannya mendukung, BRI bisa:
- Mempercepat otomatisasi proses kredit mikro dan ritel
- Mengurangi biaya operasional lewat AI di operasional cabang
- Meningkatkan pendapatan fee-based dari layanan digital baru
2. Consumer & Micro: Area Paling Siap Disentuh AI
Segmen consumer dan micro adalah “lahan emas” untuk AI di perbankan Indonesia. Data historis kredit, pola transaksi, perilaku pembayaran, sampai aktivitas di aplikasi mobile bisa dipakai untuk:
-
Skoring kredit alternatif
Nasabah UMKM dan mikro yang belum punya agunan formal bisa dinilai melalui data transaksi, riwayat pembayaran tagihan, hingga perilaku tabungan. -
Personalisasi penawaran
Sistem AI bisa mengidentifikasi nasabah yang berpotensi butuh KUR, top up pinjaman, atau produk investasi, dan menawarkan secara tepat waktu dan relevan. -
Pengelolaan limit & risiko
Limit kartu kredit, pinjaman digital, hingga produk paylater bisa diatur dinamis berdasarkan perilaku real time, bukan sekadar data lama.
Direktur Consumer dan Direktur Micro yang kuat di digital akan mendorong pemanfaatan AI ini, bukan cuma menambah fitur kosmetik di aplikasi.
3. Risk & Compliance: Tanpa Ini, AI Hanya Gimmick
AI di perbankan tanpa manajemen risiko yang matang adalah resep masalah. Di Indonesia, pengawasan OJK dan regulasi data semakin ketat. Direksi baru di Manajemen Risiko dan Legal & Compliance berpotensi mendorong:
- Penerapan AI-based fraud detection yang memantau transaksi 24/7 dan memberi peringatan otomatis
- Penguatan anti-money laundering (AML) berbasis pola transaksi, bukan sekadar threshold nominal
- Tata kelola data privacy yang sejalan dengan regulasi dan kepercayaan nasabah
Ini krusial, karena kepercayaan nasabah Indonesia terhadap bank BUMN relatif tinggi. Jangan sampai adopsi teknologi justru mencederai kepercayaan itu.
Di Mana AI Paling Masuk Akal di BRI Saat Ini?
BRI sudah cukup dikenal dengan ekspansi digitalnya. Dengan komposisi direksi baru, beberapa area berikut sangat logis jadi fokus pengembangan AI dalam digital banking.
1. Chatbot & Layanan Pelanggan Berbahasa Indonesia
Ini langkah paling cepat terasa ke nasabah.
Apa yang bisa dilakukan AI?
- Chatbot yang paham Bahasa Indonesia dan dialek lokal untuk menjawab pertanyaan dasar: cek saldo, mutasi, blokir kartu, informasi KUR, dan lain-lain
- Routing otomatis ke CS manusia kalau kasusnya kompleks
- Respons 24/7 tanpa perlu antre di cabang atau call center
Efeknya buat BRI:
- Mengurangi beban call center
- Memperpendek waktu respon keluhan
- Meningkatkan kepuasan nasabah digital, terutama pengguna BRImo
2. Deteksi Fraud dan Keamanan Transaksi
Kasus penipuan online, phising, dan social engineering di Indonesia terus naik. Bank yang tidak serius di area ini cepat atau lambat akan dihukum pasar.
AI bisa bantu BRI dengan:
- Menganalisis pola transaksi tidak wajar: frekuensi tinggi, lokasi mencurigakan, device baru, dan sebagainya
- Memberi peringatan instan ke nasabah via push notification ketika ada aktivitas tak biasa
- Menandai rekening yang berpotensi digunakan untuk penipuan atau money mule
Dengan Direktur Manajemen Risiko dan Direktur Legal & Compliance yang baru, BRI punya momentum untuk membangun sistem anti-fraud yang lebih cerdas dan proaktif.
3. Skoring Kredit Alternatif untuk UMKM & Ultra Mikro
Ini area yang sangat cocok dengan DNA BRI.
BRI punya jutaan data transaksi:
- Data tabungan dan giro
- Pembayaran angsuran KUR dan mikro
- Data agen BRILink
- Data transaksi digital via BRImo
Dengan AI, data ini bisa diolah menjadi model skoring kredit alternatif untuk:
- UMKM tanpa jaminan kuat, tapi punya arus kas bagus
- Pekerja informal yang selama ini sulit mengakses kredit bank
- Nasabah ultra mikro di desa yang selama ini lebih dekat ke rentenir daripada ke bank
Dari sudut kampanye inklusi keuangan berbasis teknologi, ini poin paling kuat. Jika dikelola benar, AI bisa membuat akses kredit lebih adil, lebih cepat, dan tetap terkontrol risikonya.
4. Personalisasi Pengalaman di Aplikasi BRImo
Jutaan pengguna BRImo punya perilaku yang sangat beragam. Selama ini, banyak aplikasi bank masih memberi pengalaman yang sama untuk semua orang.
Dengan AI, BRI bisa:
- Menampilkan beranda BRImo yang berbeda untuk tiap segmen (pegawai gaji tetap, pelaku usaha, mahasiswa, pensiunan)
- Memberikan rekomendasi produk: tabungan berjangka, reksa dana, asuransi mikro, berdasarkan pola transaksi
- Mengirim notifikasi yang relevan dan tidak mengganggu, misalnya: pengingat menabung, pengingat cicilan jatuh tempo, atau peluang diskon di merchant favorit
Hasilnya: engagement naik, cross-selling produk meningkat, dan nasabah merasa aplikasinya “mengerti” kebutuhan mereka.
Apa Artinya Bagi Nasabah, UMKM, dan Investor?
Perombakan direksi ini bukan hanya urusan internal korporasi. Dampaknya bisa terasa sampai ke level warung di desa, pelaku UMKM kota, sampai investor ritel yang pegang saham BBRI di portofolionya.
Untuk Nasabah Ritel
Anda bisa mengharapkan:
- Layanan digital yang lebih cepat, lebih stabil, lebih personal
- Penanganan fraud yang lebih tanggap
- Pengalaman BRImo yang makin kaya fitur tapi tetap mudah dipakai
Untuk UMKM dan Sektor Mikro
Jika arah strateginya konsisten dengan potensi AI, pelaku usaha bisa mendapat:
- Proses pengajuan kredit yang lebih singkat berkat otomatisasi dan skoring berbasis data
- Produk pembiayaan yang lebih cocok dengan pola arus kas bisnis
- Pendampingan digital melalui ekosistem BRI dan mitra
Untuk Investor BBRI
Perubahan direksi ditambah pembagian dividen interim menunjukkan dua hal:
- Manajemen ingin tetap atraktif untuk pemegang saham melalui dividen
- Di saat yang sama, mereka sedang menata ulang mesin strategi untuk beberapa tahun ke depan
Bagi investor jangka menengah-panjang, kuncinya adalah memantau:
- Seberapa cepat BRI mengeksekusi program digital dan AI pasca perombakan direksi
- Dampaknya ke biaya operasional (BOPO), kualitas aset (NPL), dan pertumbuhan fee-based income
Menatap Ke Depan: BRI, AI, dan Masa Depan Digital Banking Indonesia
Transformasi digital perbankan Indonesia tidak bisa berjalan tanpa pemain besar seperti BRI. Perombakan direksi kali ini memberi sinyal bahwa manajemen sadar: untuk menang di era AI dan digital banking, mereka harus kuat di:
- Strategi dan penganggaran teknologi
- Consumer & micro yang berbasis data
- Manajemen risiko dan kepatuhan yang modern
Seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking” yang sedang kita jalankan menunjukkan pola yang sama di banyak bank:
siapa yang paling cepat mengubah struktur dan budaya manajemen, biasanya yang paling sukses memanfaatkan AI.
Bagi Anda yang bergerak di sektor keuangan, teknologi, atau UMKM, momen ini justru waktu yang tepat untuk:
- Mencari kolaborasi dengan bank yang serius menggarap AI
- Menyiapkan data dan proses internal agar siap terhubung dengan ekosistem digital bank
- Mengedukasi tim soal peluang dan risiko penggunaan AI di layanan keuangan
BRI sudah menata ulang kursi pengambil keputusan. Langkah berikutnya yang akan menarik untuk dipantau adalah: bagaimana keputusan-keputusan itu diterjemahkan menjadi produk, fitur, dan pengalaman digital yang betul-betul terasa manfaatnya bagi jutaan nasabah di seluruh Indonesia.