Rebranding BRI & Pelajaran Transformasi Digital untuk UMKM

AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking••By 3L3C

Rebranding BRI bukan cuma soal logo baru. Ini contoh konkret bagaimana transformasi digital dan AI bisa jadi kunci bagi UMKM untuk tetap relevan dan kompetitif.

rebranding BRIAI untuk UMKMtransformasi digitalperbankan digital Indonesiabranding UMKMera digital bankinglayanan keuangan modern
Share:

Featured image for Rebranding BRI & Pelajaran Transformasi Digital untuk UMKM

Rebranding BRI: Sinyal Keras Bahwa Transformasi Itu Wajib

Saat BRI berulang tahun ke-130 pada 16/12/2025, mereka tidak hanya merayakan usia. Mereka mengumumkan rebranding besar: logo baru, warna baru, dan yang lebih penting, cara pandang baru sebagai bank universal modern.

Ini bukan sekadar ganti warna biru jadi lebih cerah. Di balik rebranding BRI ada riset mendalam dari Kantar, Kadence, dan Nielsen yang menemukan sesuatu yang cukup menampar:

  • BRI dipersepsikan sebagai bank “tua” di mata anak muda dan segmen urban.
  • Layanan digitalnya dianggap belum aspiratif.
  • Koneksi emosional brand–nasabah masih lemah.

Kalau perusahaan sebesar BRI saja bisa “dianggap tua” dan kurang relevan, UMKM jelas tidak kebal dari risiko yang sama.

Artikel ini membahas:

  • Apa makna strategis rebranding BRI.
  • Bagaimana transformasi BRI nyambung dengan AI dalam industri perbankan Indonesia.
  • Pelajaran praktis yang bisa langsung dipakai UMKM untuk mulai transformasi digital dan pakai AI, tanpa harus punya budget miliaran.

Apa Sebenarnya yang Diubah BRI?

Rebranding BRI adalah kombinasi perubahan visual, posisi bisnis, dan budaya kerja. Visual memang paling kelihatan, tapi justru bukan yang paling penting.

1. Perubahan identitas visual

Beberapa poin utama dari rebranding:

  • Logo “BRI” dengan biru lebih cerah.
  • Kembali menegaskan tagline “Bank Rakyat Indonesia” di bawah logo.
  • Tiga warna korporasi baru: Nusantara Blue, Mentari Blue, Cakrawala Blue (mengganti kombinasi biru–oranye sebelumnya).

Secara psikologis, warna lebih cerah dan modern biasanya dipakai untuk mengirim pesan:

“Kami bukan lagi pemain lama yang kaku; kami siap untuk era digital dan generasi baru.”

2. Pergeseran posisi: dari “bank rakyat kecil” ke bank universal

Selama ini, banyak orang menganggap BRI = bank mikro, kredit usaha rakyat, dan desa. Itu tidak salah, tapi terlalu sempit untuk ukuran bank sebesar BRI.

Melalui rebranding ini, BRI mau mengubah persepsi itu menjadi bank universal:

  • Melayani seluruh segmen, dari ultra mikro sampai korporasi.
  • Tetap kuat di kredit mikro, tapi tidak mau dikotakkan hanya sebagai “bank kampung”.

Ini identik dengan UMKM yang selama ini dipersepsikan “hanya” jualan offline di pasar, padahal sudah bisa ekspansi ke e-commerce, ekspor, atau produk premium — kalau berani mengubah cara main.

3. Transformasi internal: mindset, perilaku, dan budaya

Poin terpenting justru disampaikan oleh dua pihak:

  • Direktur Utama BRI, Hery Gunardi: fokus pada transformasi bisnis, SDM, dan budaya perusahaan.
  • Kepala BP BUMN, Dony Oskaria: menegaskan rebranding bukan soal logo, tapi pola pikir dan perilaku, termasuk menghapus sekat antara manajemen dan pekerja.

BRI juga menegaskan lima nilai utama:

  • Integritas
  • Kolaborasi
  • Kapabilitas
  • Growth mindset
  • Fokus pada pelanggan

Inilah fondasi yang nantinya akan menopang digitalisasi, otomatisasi proses, sampai pemanfaatan AI di perbankan.


Kenapa Rebranding BRI Relevan Buat UMKM?

BRI melakukan rebranding karena hasil riset menunjukkan ada tujuh masalah persepsi brand. Menariknya, tujuh hal ini juga sangat sering terjadi di UMKM.

Berikut ringkasannya versi sederhana dan relevan untuk bisnis kecil:

  1. Terlalu bergantung pada citra lama
    BRI: terlalu identik dengan “bank rakyat kecil”.
    UMKM: terlalu nyaman dengan “pelanggan setia” dan cara jualan lama.

  2. Dipersepsikan “tua” oleh generasi muda
    BRI: kurang menarik di mata Gen Z dan urban.
    UMKM: brand terlihat jadul, desain visual ketinggalan, tidak aktif di digital.

  3. Layanan digital belum aspiratif
    BRI: aplikasi dan pengalaman digital belum memenuhi ekspektasi nasabah muda.
    UMKM: belum punya channel digital yang rapi, belum pakai tools otomatis.

  4. Koneksi emosional lemah
    BRI: brand terasa fungsional, kurang “dekat” secara emosional.
    UMKM: jarang membangun cerita brand, hanya jual produk tanpa narasi.

  5. Tidak nyambung dengan ekspektasi Gen Z
    BRI: visual, tone, dan layanan belum cukup relevan.
    UMKM: konten tidak menarik di TikTok/Instagram, cara komunikasi kaku.

  6. Pengelolaan brand tidak konsisten
    BRI: ada ketidaksinkronan sistemik dalam branding.
    UMKM: logo beda-beda, harga ngawur, pelayanan tidak stabil.

  7. Kurang dipertimbangkan di segmen urban dan konsumer
    BRI: less considered untuk segmen tertentu.
    UMKM: produk bagus, tapi jarang muncul dalam “shortlist” konsumen digital.

Pelajarannya?
Kalau BRI mau relevan, mereka harus berubah. Kalau UMKM mau bertahan di 2026 ke depan, ceritanya sama: harus berani transformasi, bukan hanya di permukaan, tapi sampai ke cara kerja dan cara mengambil keputusan.

Di titik ini, AI bisa jadi alat bantu yang sangat efektif — asal tahu dipakai di mana.


Dari Bank ke UMKM: Di Mana AI Masuk dalam Transformasi?

Dalam seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”, kita sering bahas hal-hal seperti penilaian kredit alternatif, deteksi fraud, dan chatbot bank. Di level BRI, AI biasanya dipakai untuk:

  • Analisis risiko kredit berdasarkan data transaksi.
  • Deteksi transaksi mencurigakan secara real-time.
  • Personalisasi penawaran produk ke nasabah.
  • Chatbot layanan nasabah 24/7 dalam bahasa Indonesia.

Sekarang, adaptasinya ke UMKM:

1. Analitik penjualan dan prediksi permintaan

Kalau bank pakai AI untuk mengukur risiko kredit, UMKM bisa pakai AI untuk menjawab pertanyaan sederhana tapi krusial:

  • Produk mana yang paling laku per minggu/bulan?
  • Hari dan jam apa penjualan paling tinggi?
  • Stok apa yang berisiko menumpuk atau habis duluan?

Ada banyak tools berbasis AI yang bisa membaca file Excel penjualan, lalu memberikan insight otomatis: grafik, pola musiman, sampai rekomendasi stok.

Manfaat praktis untuk UMKM:

  • Mengurangi stok mati.
  • Memastikan barang laris selalu tersedia.
  • Menentukan promo berbasis data, bukan perasaan.

2. Layanan pelanggan yang lebih cepat dan konsisten

BRI menguatkan koneksi emosional dan layanan lewat digital. UMKM bisa meniru dengan:

  • Chatbot WhatsApp atau website yang menjawab pertanyaan standar: harga, varian, ongkir, jam buka.
  • Template balasan pesan yang disusun dengan bantuan AI dalam bahasa yang ramah dan konsisten.

AI membantu UMKM tidak lagi tertinggal balas chat, yang sering jadi alasan konsumen lari ke toko lain.

3. Pemasaran yang relevan untuk Gen Z & digital native

Salah satu masalah BRI: brand belum selaras dengan ekspektasi Gen Z. UMKM pun sering bingung bikin konten yang “nyambung” dengan anak muda.

AI bisa membantu:

  • Menyusun ide konten TikTok/Instagram Reels.
  • Menulis caption yang sesuai tone brand.
  • Merangkum review pelanggan jadi testimoni menarik.

Kuncinya: data asli dari bisnis tetap dari Anda, AI membantu merapikan dan mempercepat eksekusi.

4. Pengelolaan keuangan yang lebih rapi

Perbankan modern sangat bergantung pada data keuangan yang akurat. UMKM sering kalahnya di sini.

Dengan AI, UMKM bisa:

  • Mengelompokkan transaksi (bahan baku, operasional, gaji, dll.) secara otomatis dari mutasi rekening.
  • Membuat ringkasan keuangan bulanan dari catatan kasar.
  • Menyusun proyeksi cash flow sederhana.

Semakin rapi keuangan, semakin besar peluang UMKM disetujui kredit oleh bank—termasuk BRI—karena datanya jelas dan bisa dianalisis.


Lima Langkah Praktis UMKM Meniru Cara BRI Bertransformasi

Transformasi BRI memang skala besar, tapi prinsipnya bisa diperkecil untuk skala UMKM. Berikut versi praktisnya.

1. Audit: bagaimana pelanggan melihat bisnis Anda sekarang?

BRI mulai dari riset persepsi publik. UMKM bisa mulai dengan versi sederhana:

  • Tanya 10–20 pelanggan: apa tiga kata yang muncul di kepala mereka saat dengar nama bisnis Anda?
  • Cek review di marketplace dan Google Maps (kalau ada).
  • Lihat kembali desain logo, kemasan, dan feed media sosial.

Tujuannya: jujur melihat gap antara citra yang diinginkan dan citra yang dirasakan orang.

2. Rapikan identitas visual dan pesan brand

Tidak perlu langsung bayar agensi mahal. Fokus dulu ke tiga hal:

  • Logo yang konsisten (tidak berubah-ubah di setiap media).
  • Palet warna yang jelas (maksimal 3–4 warna utama).
  • Satu kalimat singkat yang menjelaskan nilai bisnis Anda, seperti tagline “Bank Rakyat Indonesia” di logo baru BRI.

AI desain bisa membantu memberi ide bentuk logo, kombinasi warna, atau gaya visual yang cocok dengan segmen Anda.

3. Tetapkan nilai dan standar layanan

Seperti BRI punya integritas, kolaborasi, dan growth mindset, UMKM juga perlu “nilai main” yang jelas. Misalnya:

  • Cepat: balas chat maksimal 10 menit.
  • Jujur: kalau stok habis, bilang dari awal dan tawarkan alternatif.
  • Rapi: setiap pengiriman disertai nota dan kartu ucapan.

AI bisa bantu membuat SOP tertulis: dari cara menjawab chat, format packing, sampai cara minta testimoni.

4. Pilih satu area untuk mulai pakai AI

Tidak perlu langsung semua serba AI. Pilih satu titik yang paling sakit dulu:

  • Kebanjiran chat? → mulai dari chatbot atau template balasan.
  • Bingung bikin konten? → gunakan AI ide dan penulisan konten.
  • Pusing laporan keuangan? → pakai AI untuk merapikan catatan dan membuat ringkasan.

Kuncinya: AI = asisten, bukan bos. Anda tetap yang memutuskan.

5. Ukur hasil, lalu tingkatkan pelan-pelan

Sama seperti bank yang mengukur dampak transformasi lewat data nasabah dan kinerja, UMKM juga perlu mengukur:

  • Waktu balas chat sebelum/ sesudah pakai AI.
  • Jumlah konten per minggu sebelum/sesudah.
  • Penjualan atau margin setelah 3 bulan.

Begitu kelihatan dampaknya, baru masuk ke area lainnya: dari pemasaran ke keuangan, dari operasional ke layanan pelanggan.


AI, Perbankan, dan UMKM: Satu Arah, Skala Berbeda

Rebranding BRI menunjukkan satu hal penting: bahkan institusi keuangan terbesar pun harus berani mengakui kekurangan dan berubah. Mereka merapikan identitas, memperkuat budaya, dan terus mengarah ke model bank universal modern yang sangat digital dan berbasis data.

Di level sistem, perbankan Indonesia sudah bergerak ke era digital banking berbasis AI: penilaian kredit alternatif, deteksi fraud, personalisasi layanan, chatbot bahasa Indonesia, sampai inklusi keuangan berbasis data. Gelombang ini pada akhirnya akan “menarik” UMKM untuk ikut naik kelas — atau tersingkir.

UMKM tidak harus menunggu sempurna untuk mulai. Mulai saja dari hal yang paling dekat:

  • Kenali dulu persepsi pelanggan terhadap bisnis Anda.
  • Rapikan visual dan pesan brand.
  • Gunakan AI sebagai asisten untuk pekerjaan rutin dan analisis.

Transformasi bukan tentang siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling konsisten belajar dan beradaptasi. Kalau BRI bisa merombak diri di usia 130 tahun, tidak ada alasan UMKM yang baru berusia 3–10 tahun tetap berjalan dengan cara lama.

Pertanyaannya sekarang: bagian mana dari bisnis Anda yang paling siap disentuh AI dalam 30 hari ke depan?