Ekspansi QRIS ke Saudi & India: Lompatan Baru Bank Digital RI

AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking••By 3L3C

Ekspansi QRIS ke Arab Saudi & India bukan sekadar bayar pakai QR di luar negeri. Ini momentum strategis untuk inklusi keuangan dan penerapan AI di bank Indonesia.

QRIS cross borderAI perbankandigital banking Indonesiainklusi keuanganpembayaran digitalArab SaudiIndia
Share:

QRIS ke Arab Saudi & India: Lompatan Senyap yang Mengubah Main Game

Satu fakta yang jarang disorot: volume transaksi QRIS di Indonesia sempat melonjak lebih dari 150% year-on-year dalam beberapa periode 2025. Di tengah ledakan itu, muncul kabar baru: QRIS sedang dijajaki untuk hadir di Arab Saudi dan India.

Buat banyak orang, ini terdengar seperti berita rutin soal sistem pembayaran. Buat pelaku perbankan, fintech, dan bank digital, ini beda cerita. Ekspansi QRIS cross border adalah gerbang ke inklusi keuangan global, bahan bakar baru buat AI dalam industri perbankan, dan cara konkret bank Indonesia masuk lebih dalam ke rantai nilai digital economy dunia.

Tulisan ini membahas kenapa langkah PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) membawa QRIS ke Arab Saudi dan India bukan sekadar soal “bayar pakai QR di luar negeri”, tapi soal strategi digital banking, data, dan AI yang akan menentukan siapa pemimpin berikutnya di industri keuangan Indonesia.


Apa Makna Strategis Ekspansi QRIS ke Arab Saudi & India?

Ekspansi QRIS cross border ke Arab Saudi dan India punya tiga dampak utama: kemudahan transaksi, penguatan posisi Indonesia di sistem pembayaran regional, dan terbukanya lahan baru untuk penerapan AI di perbankan.

1. Manfaat langsung: dari jamaah haji sampai pelancong bisnis

Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, menyebut penjajakan QRIS ke dua negara ini baru saja dilakukan. Implikasinya cukup jelas:

“Nanti kalau naik haji ataupun umrah nggak perlu lagi bawa uang, tinggal tap-tap aja.”

Dalam konteks praktis:

  • Jamaah haji & umrah bisa bayar konsumsi, belanja, atau transportasi lokal hanya dengan scan QR pakai aplikasi pembayaran Indonesia.
  • Wisatawan dan pebisnis yang bepergian ke India tak perlu repot tukar uang tunai dalam jumlah besar.
  • Risiko kehilangan uang cash berkurang drastis, apalagi untuk jamaah lansia atau rombongan besar.

Di belakang layar, ini artinya bank dan lembaga switching seperti Jalin harus mampu:

  • Menangani konversi mata uang real-time.
  • Mengelola settlement lintas negara dengan akurat dan cepat.
  • Menjamin keamanan transaksi di ekosistem yang jauh lebih kompleks.

Semua itu adalah area yang makin sulit di-handle secara manual, sehingga AI dan analitik cerdas jadi faktor penentu.

2. Posisi Indonesia di peta pembayaran digital global

Saat ini, QRIS cross border sudah berjalan dengan enam negara: Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Penambahan Arab Saudi dan India akan menaikkan kelas QRIS dari sekadar regional ASEAN plus ke network yang:

  • Menjangkau pusat ibadah dunia Muslim (Arab Saudi), sangat relevan dengan mayoritas penduduk Indonesia.
  • Terhubung ke salah satu ekonomi digital terbesar dunia (India), yang juga kuat di teknologi dan startup.

Ini bukan cuma soal gengsi. Semakin luas jangkauan QRIS:

  • Semakin kuat daya tawar bank Indonesia dalam kerja sama regional.
  • Semakin besar peluang interkoneksi dengan sistem AI global (fraud detection, scoring, compliance monitoring, dan seterusnya).

Tantangan Utama: Harmonisasi Sistem Pembayaran & Regulasi

Jawaban jujurnya: membawa QRIS ke negara lain itu rumit. Ario menegaskan setiap negara punya aturan dan metode pembayaran masing-masing. Di sinilah masalah mulai muncul.

Fragmentasi QR di luar Indonesia

Keunggulan Indonesia adalah satu standar nasional: QRIS. Di banyak negara lain, justru sebaliknya:

  • Ada banyak penyedia QR berbeda dengan format dan standar tak seragam.
  • Kadang setiap bank, e-wallet, atau aggregator punya QR-nya sendiri.

Untuk bisa bekerja sama dengan Bank Indonesia, Ario menyebut satu hal penting:

“Kalau mau bekerja sama dengan satu negara, mereka harus bersatu dulu. Itu biasanya tantangannya.”

Artinya, sebelum bicara soal AI dan inovasi canggih, pekerjaan dasarnya adalah standarisasi dan harmonisasi.

Harmonisasi SOP: area emas buat AI compliance

Begitu sistem pembayaran mulai terhubung lintas negara, kompleksitas SOP (Standard Operating Procedure) melonjak:

  • Bagaimana prosedur komplain jika transaksi gagal?
  • Siapa yang menanggung jika terjadi settlement lebih atau kurang?
  • Bagaimana dispute resolution untuk transaksi lintas yurisdiksi?

Semuanya butuh dokumentasi rinci, monitoring terus-menerus, dan eksekusi konsisten. Di sinilah AI di perbankan bisa memainkan peran sebagai:

  • Pengawas kepatuhan otomatis: mengingatkan, memantau, dan mengklasifikasi kasus yang berpotensi melanggar SOP.
  • Asisten regulasi: membantu tim legal & compliance menganalisis perbedaan regulasi antarnegara dan mensimulasikan risiko.

Tanpa dukungan AI, biaya operasional untuk mengurus cross border payment bisa sangat tinggi dan sulit diskalakan.


Dari QRIS ke AI: Data Transaksi sebagai “Emas Baru” Bank Digital

Setiap kali seorang jamaah haji scan QRIS di Makkah, atau pebisnis Indonesia bayar hotel di Mumbai, data berharga tercipta. Di skala jutaan transaksi, ini berubah menjadi bahan baku utama untuk AI di industri perbankan.

1. Deteksi fraud dan keamanan tingkat lanjut

Sisi paling kritikal dari cross border payment adalah keamanan. Transaksi lintas negara lebih rentan:

  • Penyalahgunaan identitas
  • Akun zombie / bot
  • Skema pencucian uang (AML)

AI dan machine learning bisa digunakan untuk:

  • Mendeteksi pola transaksi tidak wajar berdasarkan lokasi, jam, nominal, dan kebiasaan pengguna.
  • Menghentikan atau menahan sementara transaksi mencurigakan dalam hitungan detik.
  • Mengurangi false positive yang bikin nasabah terganggu, sambil tetap menjaga tingkat keamanan yang tinggi.

Contoh konkret yang mungkin terjadi:

  • Nasabah yang biasanya hanya bertransaksi dalam negeri, tiba-tiba melakukan 20 transaksi kecil dalam 10 menit di luar negeri dengan pola merchant mencurigakan.
  • AI engine akan memberi skor risiko tinggi dan memicu notifikasi ke sistem fraud monitoring bank.

Tanpa AI, pola semacam ini nyaris mustahil disaring cepat di tengah ratusan juta transaksi QRIS.

2. Personalisasi layanan untuk nasabah global

Data transaksi QRIS cross border juga sangat kaya untuk personalisasi layanan:

  • Bank bisa mengenali nasabah yang rutin ke Arab Saudi untuk haji/umrah dan menawarkan:
    • Paket tabungan haji digital
    • Asuransi perjalanan syariah
    • Notifikasi kurs dan promo merchant tertentu di Tanah Suci
  • Nasabah yang sering ke India dalam rangka bisnis bisa ditawari:
    • Fasilitas kredit modal kerja berbasis histori arus transaksi
    • Layanan FX (foreign exchange) dengan rate lebih kompetitif

AI di sini berperan sebagai otak yang:

  • Menganalisis pola perjalanan dan pengeluaran lintas negara.
  • Mengelompokkan nasabah ke segmen yang lebih presisi.
  • Menghasilkan rekomendasi produk real-time yang relevan dan tidak mengganggu.

Hasilnya sederhana tapi kuat: engagement naik, churn turun, dan cross-selling lebih tepat sasaran.


Dampak pada Inklusi Keuangan: Dari Warung Lokal ke Pasar Global

QRIS sejak awal didesain sebagai alat inklusi keuangan: memudahkan UMKM, pedagang pasar, sampai pengusaha kecil menerima pembayaran digital tanpa EDC mahal.

Ekspansi ke Arab Saudi dan India bisa mengangkat cerita ini ke level berikutnya.

1. UMKM lokal, pelanggan internasional

Bayangkan pola berikut:

  • Agen travel haji & umrah kecil di kota-kota second-tier Indonesia menggunakan QRIS untuk menerima pembayaran DP dari jamaah.
  • Mereka lalu bermitra dengan merchant di Arab Saudi yang juga menerima pembayaran QR standar internasional yang terhubung QRIS.

Di level data, ini memberi bank dan fintech insight bahwa:

  • Agen tersebut punya arus kas stabil
  • Transaksi mereka legit dan berulang
  • Profil risiko mereka relatif rendah

AI dapat memanfaatkan pola ini untuk:

  • Menyusun skoring kredit alternatif berbasis transaksi QRIS.
  • Memberi akses pembiayaan kerja (misalnya pembelian kuota seat hotel/transport) bagi agen kecil yang tadinya susah mengakses kredit bank.

Itu bentuk nyata inklusi keuangan berbasis teknologi, bukan sekadar jargon.

2. Perbankan syariah & peluang data haji-umrah

Arab Saudi punya posisi khusus untuk industri keuangan Indonesia karena terkait erat dengan ekonomi syariah:

  • Bank syariah bisa memanfaatkan data transaksi haji-umrah untuk menyusun produk yang lebih presisi.
  • AI dapat membaca pola pengeluaran jamaah: berapa yang dihabiskan untuk konsumsi, belanja oleh-oleh, transport, dan lainnya.

Dari situ, bank bisa:

  • Mendesain paket tabungan yang realistis berdasarkan data rata-rata pengeluaran jamaah, bukan asumsi.
  • Menyusun edukasi finansial berbasis data kepada calon jamaah tentang kisaran biaya riil, sehingga perencanaan keuangan lebih matang.

Semua ini bermuara pada satu hal: lebih banyak masyarakat yang bisa mengakses produk keuangan yang benar-benar sesuai kebutuhan, bukan sekadar produk generik.


Apa yang Harus Dilakukan Bank & Fintech Indonesia dari Sekarang?

QRIS cross border ke Arab Saudi dan India masih dalam tahap penjajakan, tapi menunggu terlalu lama sama saja menyerahkan kesempatan ke pesaing. Ada beberapa langkah praktis yang menurut saya sebaiknya mulai dilakukan bank dan fintech sekarang.

1. Rapikan fondasi data dan arsitektur AI

Sebelum bicara AI canggih:

  • Pastikan data transaksi QRIS sudah terstruktur rapi.
  • Bangun data lake yang bisa menampung dan mengolah data lintas kanal (mobile banking, e-wallet, QRIS, kartu).
  • Tentukan use case AI prioritas: apakah mau fokus ke fraud, personalisasi, atau scoring kredit dulu.

Realitanya, banyak institusi tergoda beli solusi AI mahal, tapi data internal masih berantakan. Itu seperti beli mobil sport tapi jalanan di depan rumah masih berbatu.

2. Bangun tim lintas fungsi: bisnis, risiko, dan teknologi

Ekspansi QRIS lintas negara menyentuh banyak sisi:

  • Bisnis & produk: desain layanan baru untuk pelancong, jamaah, dan pelaku bisnis.
  • Risiko & compliance: pastikan setiap skema pembayaran sesuai regulasi BI dan otoritas negara mitra.
  • Teknologi & data: siapkan infrastruktur pembayaran dan AI.

Tim lintas fungsi yang kuat akan membantu organisasi:

  • Bergerak cepat ketika skema Saudi & India resmi berjalan.
  • Mengurangi miskomunikasi antara tim IT dan bisnis.

3. Siapkan experience nasabah yang benar-benar mulus

QRIS cross border baru terasa manfaatnya kalau pengalaman nasabah sesederhana scan–konfirmasi–beres.

Perbankan dan fintech perlu:

  • Mengintegrasikan kurs real-time dengan tampilan yang jelas di aplikasi.
  • Menyediakan chatbot berbasis AI berbahasa Indonesia yang paham konteks transaksi luar negeri.
  • Menghadirkan fitur notifikasi proteksi: misalnya peringatan jika nasabah terlalu sering transaksi di merchant berisiko tinggi.

Di era digital banking, UX yang buruk sama saja mengarahkan nasabah ke aplikasi pesaing yang lebih rapi.


Penutup: QRIS Cross Border + AI, Kombinasi Strategis Bank Indonesia

Ekspansi QRIS ke Arab Saudi dan India bukan hanya kabar baik bagi jamaah haji dan pelancong. Ini adalah momentum strategis untuk:

  • Menguatkan posisi Indonesia di ekosistem pembayaran global.
  • Mendorong inklusi keuangan yang lebih nyata, dari level individu sampai UMKM.
  • Mengakselerasi penerapan AI dalam industri perbankan Indonesia, terutama untuk fraud detection, personalisasi, dan skoring kredit alternatif.

Bagi bank dan fintech yang serius di era digital banking, pertanyaannya bukan lagi “perlu ikut?” tapi “seberapa siap data, tim, dan AI engine kita ketika QRIS benar-benar hidup di Saudi dan India?”

Yang bergerak sekarang akan memimpin. Yang menunggu, akan sibuk mengejar.