QRIS ke Arab Saudi & India: Lompatan Besar Bank Digital RI

AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking••By 3L3C

QRIS akan hadir di Arab Saudi dan India. Di balik kemudahan “tinggal scan”, ada fondasi besar untuk bank digital Indonesia berbasis AI, inklusi, dan data.

QRIS cross borderAI perbankandigital banking Indonesiapembayaran digitalinklusi keuanganhaji dan umrahJalin Pembayaran Nusantara
Share:

QRIS Menyebrang ke Arab Saudi & India: Kenapa Ini Penting?

Bayangkan jutaan jamaah haji dan umrah asal Indonesia tiap tahun. Selama ini, mereka harus bawa rupiah, tukar ke riyal, siapin uang cash, dan was-was kalau uang hilang. Sekarang, wacananya sederhana tapi dampaknya besar: cukup scan QRIS di Arab Saudi.

Itu yang sedang dipersiapkan PT Jalin Pembayaran Nusantara bersama Bank Indonesia: QRIS cross-border ke Arab Saudi dan India. Di permukaan, ini terlihat seperti sekadar perluasan kanal pembayaran. Tapi buat industri perbankan digital Indonesia, ini sebenarnya fondasi penting menuju layanan perbankan yang makin cerdas, terintegrasi, dan penuh AI.

Tulisan ini membahas:

  • Apa arti perluasan QRIS ke Arab Saudi & India untuk nasabah dan bank
  • Tantangan harmonisasi sistem pembayaran lintas negara
  • Bagaimana QRIS menjadi landasan ekosistem AI dalam perbankan
  • Peluang bisnis baru untuk bank, fintech, dan pelaku usaha Indonesia

QRIS Cross Border: Dari ASEAN ke Jalur Haji & India

QRIS sudah lebih dulu tersedia di enam negara: Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Langkah ke Arab Saudi dan India adalah bab berikutnya yang sangat strategis buat Indonesia.

Kenapa Arab Saudi krusial?

Karena:

  • Jutaan jamaah haji dan umrah Indonesia berangkat tiap tahun
  • Transaksi mereka besar: akomodasi, transportasi, makanan, oleh-oleh, paket wisata
  • Risiko transaksi tunai tinggi: kehilangan, uang palsu, selisih kurs tak transparan

Dengan QRIS cross border di Arab Saudi:

  • Jamaah bisa bayar langsung dari rekening/ewallet Indonesia
  • Valuta asing diurus di belakang layar oleh sistem, bukan oleh jamaah
  • Bank punya data transaksi detail untuk analisis dan proteksi

Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, merangkumnya dengan sangat simpel:

“Nanti kalau naik haji atau umrah nggak perlu lagi bawa uang, tinggal tap-tap aja.”

Itu bukan sekadar kemudahan, tapi lompatan kualitas layanan perbankan syariah dan digital buat jamaah Indonesia.

Kenapa India juga penting?

India adalah:

  • Salah satu ekonomi digital terbesar di dunia
  • Pusat teknologi dengan adopsi pembayaran QR masif
  • Mitra strategis kawasan Asia untuk perdagangan, pendidikan, dan pariwisata

Jika QRIS bisa dipakai di India dan sebaliknya, bank Indonesia:

  • Lebih mudah melayani pelajar, pekerja, dan wisatawan
  • Punya jalur data baru untuk memahami pola transaksi lintas negara
  • Bisa berkolaborasi dengan ekosistem pembayaran digital India yang sudah sangat maju

Ini bukan sekadar soal “QR bisa discan di dua negara”. Ini penghubung langsung ekosistem keuangan Indonesia dengan dua pasar besar dunia.


Tantangan Besar: Harmonisasi Sistem Pembayaran

Di balik kalimat simpel “QRIS bisa dipakai di luar negeri”, ada pekerjaan rumah teknis dan regulasi yang kompleks.

1. Setiap negara punya aturan dan QR sendiri

Ario Tejo menyinggung masalah utama: fragmentasi.

  • Di Indonesia, QR disatukan di bawah standar QRIS
  • Di banyak negara lain, ada banyak standar QR berbeda, silo per bank atau per pemain fintech

Supaya QRIS bisa jalan mulus di negara tujuan, perlu:

  • Standarisasi atau minimal harmonisasi antar-penyedia QR
  • Kesepakatan soal format data, limit transaksi, jenis merchant, dll

Tanpa itu, AI dan sistem backend bank akan kesulitan membaca dan mengolah data lintas negara secara konsisten.

2. SOP komplain dan settlement lintas yurisdiksi

Transaksi lintas negara selalu memunculkan pertanyaan:

  • Kalau ada komplain, siapa yang tanggung jawab duluan?
  • Kalau ada selisih kurs atau kelebihan/kekurangan settlement, siapa yang menyesuaikan?
  • SLA penyelesaian masalah berapa hari, pakai kanal apa, dalam bahasa apa?

Karena itu Jalin bicara soal “harmonisasi SOP komplain dan settlement”. Di sinilah teknologi dan AI bisa bantu:

  • AI-powered dispute management: mengklasifikasi komplain, memprediksi kasus serupa, dan menyarankan resolusi
  • Automated reconciliation: sistem otomatis mendeteksi selisih transaksi antar-bank lintas negara

3. Regulasi dan kepatuhan (compliance)

Bank Indonesia tidak bisa sekadar “nyalakan switch” dan QRIS langsung berlaku di negara lain. Perlu:

  • MoU antar bank sentral
  • Pengaturan AML/CFT (anti-pencucian uang & pendanaan terorisme)
  • Perlindungan data dan privasi nasabah lintas batas

Di sinilah AI compliance dan regtech akan makin dominan di bank Indonesia:

  • Machine learning memantau transaksi QRIS cross-border secara real time
  • Sistem mendeteksi pola mencurigakan yang tak terlihat oleh manual review

Dari QRIS ke AI: Fondasi Data untuk Bank Digital

QRIS bukan teknologi AI. Tapi QRIS adalah mesin penghasil data (data engine) yang sangat kuat. Dan tanpa data, AI di perbankan hanyalah jargon.

Data QRIS: Emas baru untuk bank digital

Setiap transaksi QRIS menyimpan:

  • Lokasi merchant
  • Waktu transaksi
  • Nominal dan kategori belanja
  • Pola perilaku nasabah: frekuensi, jam favorit, jenis merchant

Begitu QRIS meluas ke Arab Saudi dan India, pola datanya makin kaya:

  • Musim haji/umrah vs pola konsumsi jamaah
  • Destinasi favorit, jenis belanja dominan (hotel, restoran, oleh-oleh, logistik)
  • Pola transaksi pelajar atau pekerja di India

Data seperti ini adalah bahan bakar buat AI dalam industri perbankan:

  • Personalisasi: rekomendasi produk syariah, paket haji/umrah, asuransi perjalanan
  • Scoring alternatif: calon debitur yang rutin transaksi rapi via QRIS dinilai lebih layak kredit
  • Segmentasi nasabah: cluster khusus “jamaah haji/umrah digital savvy”, “pelajar Indonesia di India”, dll

Fraud detection yang makin cerdas

Transaksi lintas negara rawan fraud. Di sinilah AI punya peran besar:

  • Model AI bisa mengenali pola normal nasabah – misalnya nasabah biasanya transaksi di Jakarta, tiba-tiba ada transaksi besar di Riyadh di luar musim haji, sistem bisa trigger verifikasi
  • Anomali lintas negara bisa dianalisis:
    • volume transaksi tak wajar,
    • merchant rating buruk,
    • pola jam transaksi mencurigakan.

Tanpa standardisasi seperti QRIS, data dari berbagai sistem QR akan berantakan. Bank akan kesulitan membangun model AI yang akurat. QRIS membuat data konsisten, sehingga AI bisa bekerja maksimal.


Dampak ke Nasabah: Dari Nyaman Jadi Benar-Benar Cerdas

Banyak orang menganggap QRIS cross-border hanya soal kemudahan bayar. Nyatanya, kalau bank serius memanfaatkan AI di baliknya, pengalaman nasabah bisa naik beberapa level.

1. Perjalanan haji & umrah yang benar-benar cashless

Skenario ideal beberapa tahun ke depan:

  • Sebelum berangkat, nasabah dapat simulasi biaya perjalanan berbasis data historis QRIS jamaah lain
  • Saat di Arab Saudi, aplikasi bank menampilkan:
    • rekomendasi merchant halal & terpercaya,
    • estimasi pengeluaran harian,
    • peringatan kalau belanja mulai over budget
  • Setelah pulang, nasabah menerima ringkasan otomatis: total pengeluaran, kategori belanja, saran perencanaan keuangan untuk perjalanan berikutnya

Semua ini hanya mungkin jika data transaksi QRIS diproses oleh sistem analitik dan AI, bukan sekadar dicatat sebagai angka di mutasi rekening.

2. Edukasi dan inklusi keuangan yang lebih tajam

QRIS sudah terbukti mendorong inklusi keuangan UMKM di Indonesia. Dengan jalur ke luar negeri:

  • UMKM penyedia paket haji/umrah di Indonesia bisa merekam seluruh aliran pembayaran dengan rapi, memudahkan akses pembiayaan dari bank
  • Bank bisa membuat konten edukasi personal: tips atur uang untuk perjalanan religi, kalkulator tabungan haji, dsb

Saya pribadi melihat, bank yang menggabungkan QRIS + analitik + AI edukasi finansial berbahasa Indonesia akan jauh lebih diingat nasabah daripada bank yang sekadar “ikut tren QRIS”.


Peluang Bisnis untuk Bank & Fintech Indonesia

Perluasan QRIS ke Arab Saudi dan India tidak hanya soal teknologi, tapi juga strategi bisnis dan diferensiasi.

1. Produk spesifik perjalanan religi berbasis data

Bank bisa mengembangkan:

  • Tabungan haji/umrah dengan rekomendasi nominal setoran berdasarkan pola belanja QRIS jamaah sebelumnya
  • Kartu debit/credit & ewallet dengan fitur proteksi khusus untuk transaksi di Tanah Suci
  • Asuransi perjalanan dengan premi yang disesuaikan profil risiko hasil analisis AI

2. Partnership lintas negara

Ekspansi QRIS memaksa bank untuk:

  • Berkolaborasi dengan switching, bank, dan fintech luar negeri
  • Membangun kanal data dan settlement yang aman dan efisien

Bagi bank yang serius dengan era AI dalam perbankan, ini peluang untuk:

  • Mengembangkan model bersama partner global
  • Mengadopsi praktik terbaik fraud detection dan risk management internasional

3. Diferensiasi di era digital banking

Hampir semua bank sekarang bicara “digital banking”, tapi kenyataannya banyak yang masih sebatas aplikasi mobile biasa.

QRIS cross-border + AI bisa jadi pembedanya:

  • Bank yang mampu memberi insight personal berbasis transaksi lintas negara akan terasa lebih “pintar” di mata nasabah
  • Bank bisa memposisikan diri sebagai partner perjalanan hidup (haji, pendidikan, bisnis), bukan sekadar tempat simpan uang

Yang paling menarik: semua ini bisa dijalankan di atas infrastruktur yang sedang disiapkan oleh pemain seperti Jalin. Bank tinggal menentukan seberapa agresif memanfaatkan datanya.


Langkah Selanjutnya untuk Pelaku Industri & Pembaca

QRIS menuju Arab Saudi dan India bukan sekadar berita pasar uang. Ini sinyal jelas bahwa ekosistem pembayaran Indonesia sedang naik kelas ke level global, dan AI akan jadi lapisan berikutnya.

Buat bank dan fintech Indonesia, beberapa langkah konkret yang masuk akal:

  • Audit kesiapan data QRIS: sudahkah terstruktur rapi untuk dianalisis AI?
  • Bangun tim kecil data & AI yang fokus ke use case QRIS (fraud, personalisasi, scoring)
  • Rancang produk spesifik untuk segmen yang paling diuntungkan: jamaah haji/umrah, pelajar, pekerja migran, pelancong

Buat pembaca sebagai nasabah, hal yang bisa disiapkan sekarang:

  • Biasakan pakai QRIS di dalam negeri, supaya nanti transisi ke luar negeri mulus
  • Pilih bank atau ewallet yang serius mengembangkan fitur analitik dan keamanan, bukan cuma ikut-ikutan tren

Era “AI dalam Industri Perbankan Indonesia” tidak datang dalam satu malam. Ia dibangun pelan-pelan, dimulai dari hal yang kelihatannya sederhana: standar QR, data yang rapi, dan keberanian bermain di panggung global. QRIS ke Arab Saudi dan India adalah salah satu batu loncatan terpenting di jalur itu.

Pertanyaannya, beberapa tahun lagi, bank mana yang akan dikenal sebagai bank yang benar-benar pintar, bukan sekadar digital?