RUPSLB Telkom jadi sinyal seriusnya arah digital & AI di Indonesia. Apa dampaknya ke perbankan dan UMKM, dan bagaimana UMKM bisa mulai pakai AI hari ini?
Pergantian Direksi Telkom dan Sinyal Kuat Soal Digital & AI
Telkom baru saja merombak jajaran direksi dan komisarisnya lewat RUPSLB di Jakarta pada 12/12/2025. Nama-nama baru bermunculan, seperti Budi Satria Dharma Purba sebagai Direktur Wholesale & International Service dan Rofikoh Rokhim sebagai Komisaris Independen.
Di permukaan, ini terlihat seperti berita korporasi biasa. Tapi kalau dilihat lebih dalam, langkah seperti ini hampir selalu terkait arah strategi baru: ekspansi bisnis digital, penguatan jaringan internasional, dan pemanfaatan teknologi seperti AI untuk efisiensi dan pertumbuhan.
Ini relevan banget buat dua kelompok:
- bank dan lembaga keuangan yang sedang masuk ke era digital banking, dan
- UMKM yang jadi tulang punggung ekonomi, tapi sering tertinggal dalam adopsi teknologi.
Tulisan ini membahas: apa arti perubahan di Telkom bagi ekosistem digital Indonesia, apa hubungannya dengan AI di perbankan, dan yang paling praktis: apa yang bisa ditiru UMKM dari cara perusahaan besar mengelola inovasi dan teknologi.
Telkom, Struktur Baru, dan Arah Bisnis Digital Indonesia
Pergantian direksi dan komisaris di BUMN besar seperti Telkom jarang terjadi tanpa alasan strategis.
Apa yang Berubah di Telkom?
Dari hasil RUPSLB, struktur Telkom kini diisi posisi-posisi yang sangat “digital dan jaringan”:
- Direktur Wholesale & International Service: Budi Satria Dharma Purba
- Direktur IT Digital: Faizal Rochmad Djoemadi
- Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji
- Serta jajaran direktur lain seperti Direktur Network, Enterprise & Business Service, dan Legal & Compliance.
Di level komisaris, hadirnya Rofikoh Rokhim sebagai Komisaris Independen menambah warna baru dalam pengawasan dan tata kelola. Komisaris dengan latar belakang kuat di ekonomi dan keuangan biasanya mendorong pengambilan keputusan yang lebih berbasis data.
Pesannya jelas: Telkom sedang menata organisasi untuk:
- menguatkan bisnis jaringan dan layanan internasional,
- mendorong layanan digital berbasis data dan AI,
- menjaga tata kelola dan manajemen risiko di tengah ekspansi teknologi.
Kenapa Ini Penting untuk Bank dan UMKM?
Telkom adalah tulang punggung infrastruktur digital negeri ini. Saat Telkom memperkuat:
- jaringan → internet lebih stabil dan luas, terutama di daerah,
- layanan wholesale & international → biaya konektivitas bisa lebih efisien untuk bank dan fintech,
- IT digital → lahir lebih banyak layanan cloud, data center, API, dan solusi AI yang bisa dipakai pihak lain.
Bank dan fintech memanfaatkan ini untuk:
- AI scoring kredit (menilai kelayakan nasabah dengan data alternatif),
- fraud detection real-time,
- chatbot layanan nasabah 24/7 dalam bahasa Indonesia,
- personalisasi penawaran produk keuangan.
UMKM akhirnya jadi penerima manfaat di ujung rantai: kemudahan akses kredit digital, pembayaran non-tunai, sampai solusi AI yang terjangkau.
Dari Telkom ke UMKM: 3 Pelajaran Penting Soal AI
Kalau disederhanakan, ada tiga pelajaran besar dari cara Telkom menata ulang manajemennya yang relevan buat UMKM dan bank yang melayani UMKM.
1. Inovasi Itu Bukan Proyek Sampingan, Tapi Arah Strategis
Direktorat seperti IT Digital, Strategic Business Development & Portfolio, dan Wholesale & International Service bukan sekadar label keren. Itu menunjukkan bahwa inovasi dan digital bukan tempelan, tapi inti strategi bisnis.
Untuk UMKM, ini berarti:
- AI dan digital jangan cuma jadi “coba-coba kalau sempat”.
- Harus ada waktu khusus dan orang yang bertanggung jawab untuk urusan digital, sekecil apa pun usahanya.
Contoh praktis:
- Toko fashion online menunjuk satu staf khusus untuk mengelola iklan, analitik, dan chat otomatis.
- Warung makan rumahan pakai aplikasi kasir yang bisa merekam data transaksi dan menganalisis menu terlaris.
2. Data dan Jaringan Adalah “Bensin” AI
Telkom memperkuat network dan layanan wholesale karena tahu: tanpa jaringan yang kuat, semua mimpi digital cuma wacana.
Hal serupa berlaku untuk AI di perbankan dan UMKM:
- Bank butuh data transaksi yang rapi untuk membangun model AI kredit scoring.
- UMKM butuh pencatatan keuangan digital supaya bisa di-skor AI kredit oleh bank atau fintech.
Kalau UMKM masih pakai catatan manual, sulit bagi bank untuk memberi pinjaman berbasis AI karena datanya minim. Sebaliknya, UMKM yang sudah:
- memakai aplikasi kasir digital,
- menerima pembayaran QRIS,
- berjualan di marketplace,
akan punya jejak digital yang bisa dipakai bank untuk memberi kredit lebih cepat dan akurat.
3. Manajemen Risiko dan Kepatuhan Bukan Penghambat, Tapi Pelindung
Struktur Telkom memasukkan posisi Direktur Keuangan & Manajemen Risiko dan Direktur Legal & Compliance yang kuat. Di dunia AI dan digital, risiko salah kelola data, pelanggaran privasi, atau fraud meningkat.
Bagi perbankan dan UMKM:
- Bank harus memastikan penggunaan AI untuk kredit dan fraud sesuai regulasi OJK dan BI.
- UMKM perlu paham cara mengelola data pelanggan dengan aman (misalnya, tidak sembarangan share data kontak, tidak menyimpan data kartu secara asal).
AI yang dipakai tanpa memikirkan risiko hanya akan jadi masalah di kemudian hari.
Praktik AI di Perbankan yang Langsung Menguntungkan UMKM
AI di perbankan Indonesia bukan lagi wacana. Sudah banyak bank dan fintech yang menggunakannya, dan efek langsungnya menyentuh kehidupan UMKM.
1. Kredit UMKM dengan AI Scoring
Bank kini mulai memanfaatkan AI untuk penilaian kredit dengan data alternatif, seperti:
- histori transaksi di rekening,
- data penjualan di marketplace,
- pola bayar tagihan (listrik, internet, e-wallet),
- perilaku penggunaan aplikasi.
Dampaknya untuk UMKM:
- UMKM yang tadinya susah punya agunan bisa dinilai dari kinerja bisnis nyata, bukan hanya jaminan fisik.
- Proses pengajuan pinjaman bisa jauh lebih cepat, kadang dalam hitungan jam.
Ini semua sangat bergantung pada ketersediaan data digital. Peran Telkom dan pemain infrastruktur digital lain adalah memastikan jaringan internet dan sistem terintegrasi dengan baik.
2. Deteksi Fraud Transaksi UMKM
Transaksi digital UMKM—baik lewat QRIS, e-commerce, maupun payment gateway—semakin besar. Di sisi lain, potensi fraud juga naik.
Bank dan penyedia pembayaran memakai AI-based fraud detection untuk:
- memantau pola transaksi tidak biasa,
- mendeteksi akun yang berpotensi disalahgunakan,
- memblokir transaksi mencurigakan secara otomatis.
UMKM diuntungkan karena:
- risiko pembobolan akun atau transaksi palsu lebih rendah,
- reputasi toko tetap aman karena sistem lebih cepat merespons anomali.
3. Chatbot dan Asisten Virtual untuk Layanan UMKM
Banyak bank sudah punya chatbot bahasa Indonesia untuk nasabah, termasuk pelaku UMKM:
- cek saldo dan mutasi,
- tanya status pengajuan kredit,
- informasi promo produk.
UMKM sendiri juga bisa meniru ini dalam skala kecil:
- mengaktifkan auto-reply WhatsApp Business,
- memakai chatbot sederhana untuk jawab FAQ di website atau toko online,
- menggunakan template jawaban yang rapi dan konsisten.
Hasilnya: pemilik usaha tidak harus online 24 jam, tapi calon pelanggan tetap dapat respon cepat.
Langkah Praktis: Cara UMKM Mulai Pakai AI Secara Bertahap
AI sering terdengar rumit, padahal untuk UMKM pendekatannya bisa sangat sederhana. Kuncinya: mulai dari hal kecil yang berdampak besar.
1. Bereskan Dulu Pondasi Digital
Sebelum bicara AI canggih, pastikan beberapa hal ini:
- Pakai aplikasi kasir atau pembukuan digital (bukan catatan kertas).
- Terima pembayaran non-tunai (QRIS, transfer bank, e-wallet).
- Simpan data pelanggan dengan rapi (nama, nomor kontak, riwayat pembelian) dengan izin mereka.
Dengan pondasi ini, UMKM punya “bensin data” yang suatu saat bisa dipakai sistem AI di bank atau platform lain.
2. Gunakan AI Sederhana yang Sudah Tersedia
Tidak perlu bikin sistem sendiri. Banyak fitur AI yang sudah terpaket dalam aplikasi yang umum dipakai UMKM, misalnya:
- Fitur rekomendasi iklan otomatis di platform iklan digital.
- Optimasi jam tayang konten di media sosial.
- Auto-translate dan auto-caption untuk konten video.
Di sisi perbankan, UMKM bisa memanfaatkan:
- aplikasi mobile banking bisnis yang memberi analitik transaksi,
- fitur simulasi pinjaman dan rekomendasi produk.
3. Bangun Kebiasaan Mengambil Keputusan Berbasis Data
Ini mungkin langkah paling penting.
Contoh kebiasaan yang bisa dilatih:
- Sebelum menambah stok, cek dulu data penjualan 3 bulan terakhir.
- Tentukan jam buka atau jam promosi berdasarkan jam transaksi tersibuk.
- Evaluasi produk/layanan dengan melihat margin dan frekuensi penjualan, bukan hanya “feeling”.
Kalau kultur “lihat data dulu” sudah terbentuk, penggunaan AI yang lebih canggih nanti akan jauh lebih natural.
AI, Telkom, dan Perbankan: Apakah UMKM Sudah Siap?
Perombakan direksi dan komisaris Telkom lewat RUPSLB adalah sinyal bahwa pemain besar negeri ini sedang serius mengatur ulang strategi untuk era digital berbasis data dan AI. Di sisi lain, perbankan Indonesia juga makin agresif mengembangkan AI untuk kredit, fraud detection, dan layanan digital banking.
Posisi UMKM ada di tengah-tengah: sebagai pengguna infrastruktur, nasabah bank, sekaligus pelaku bisnis yang juga bisa memakai AI dalam skala yang lebih sederhana.
Kalau perusahaan sebesar Telkom saja berani mengubah struktur pengurus demi memperkuat bisnis digital, rasanya tidak masuk akal kalau UMKM masih merasa “AI itu bukan buat saya”. Justru sekarang momen yang pas, sebelum persaingan makin ketat di 2026 dan seterusnya.
Langkah konkrit yang bisa Anda ambil minggu ini:
- Pilih satu alat digital untuk mulai mencatat transaksi secara rapi.
- Aktifkan minimal satu fitur otomatis (AI atau otomasi) di platform yang sudah Anda pakai.
- Bicara dengan pihak bank atau fintech yang Anda gunakan soal produk pembiayaan UMKM berbasis data.
Transformasi besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Pertanyaannya tinggal satu: Anda mau mulai sekarang, atau menunggu sampai pesaing Anda yang duluan pakai AI?