Penghapusan KBMI I bisa memaksa bank mini konsolidasi. Yang cerdas, pakai AI dan digital banking untuk naik kelas, turunkan biaya, dan perluas inklusi keuangan.

KBMI I Dihapus: Sinyal Keras untuk Bank Mini Berbenah
Lebih dari 58% bank di Indonesia saat ini masih berada di kategori KBMI I dengan modal inti di bawah Rp6 triliun. Kalau rencana OJK untuk menghapus kategori ini jadi aturan keras, peta perbankan nasional bisa berubah drastis: mulai dari gelombang merger, right issue jumbo, sampai lahirnya bank digital baru yang lebih ramping dan sarat teknologi.
Di tengah tekanan modal seperti ini, sebagian bank mini akan refleks: cari pemegang saham baru atau merger. Tapi ada satu pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih strategis:
Bisakah AI dan digital banking jadi cara bank mini “naik kelas” tanpa harus bakar modal berlebihan?
Dalam seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking” ini, kita bahas sisi lain dari wacana penghapusan KBMI I: bukan cuma masalah permodalan dan regulasi, tapi juga bagaimana teknologi — terutama AI — bisa mengubah tekanan regulasi menjadi peluang bisnis dan inklusi keuangan.
1. Apa Artinya KBMI I Dihapus bagi Bank Mini?
Penghapusan KBMI I pada dasarnya adalah sinyal bahwa bank terlalu kecil akan makin sulit hidup nyaman. Saat ini, pengelompokan bank berdasarkan modal inti adalah:
- KBMI I: sampai Rp6 triliun
- KBMI II: > Rp6 triliun – Rp14 triliun
- KBMI III: > Rp14 triliun – Rp70 triliun
- KBMI IV: > Rp70 triliun
Dari sekitar 105 bank, 61 bank masih berada di KBMI I. Artinya, mayoritas pemain adalah bank kecil yang:
- Margin tipis
- Basis nasabah terbatas
- Produk relatif standar
- Kapasitas teknologi sering tertinggal
Kalau KBMI I benar‑benar dihapus dan ada batas modal minimum baru yang lebih tinggi, bank‑bank ini dipaksa memilih:
- Tambah modal (right issue, private placement, suntikan pemegang saham)
- Merger atau diakuisisi
- Ubah model bisnis jadi lebih efisien dan digital supaya menarik bagi investor dan layak naik kelas
OJK saat ini masih menggunakan pendekatan persuasif, tapi pengalaman 2021–2022 waktu modal inti minimum Rp3 triliun diwajibkan sudah kasih pelajaran:
- Konsolidasi terjadi besar‑besaran
- Banyak bank kecil bertransformasi jadi bank digital
- Saham bank mini sempat jadi primadona di BEI
Kalau pola yang sama terulang, fase berikutnya bukan cuma soal siapa mengakuisisi siapa, tapi siapa yang paling siap membangun fondasi digital dan AI.
2. Dua Jalan Bank Mini: Tambah Modal atau Cari Pasangan
Secara praktis, respon bank mini terhadap tekanan regulasi akan jatuh ke dua jalur besar.
A. Tambah Modal & Tetap Mandiri
Bank yang pemegang sahamnya kuat biasanya memilih opsi ini.
Strategi umum:
- Right issue ke publik
- Private placement ke investor strategis
- Suntikan langsung dari pemegang saham pengendali
Masalahnya, pasar sekarang lebih selektif. Investor tidak lagi tertarik pada bank kecil yang hanya hidup dari margin bunga dan tak punya keunggulan teknologi.
Yang dicari investor sekarang:
- Rencana jelas ke arah digital banking
- Kemampuan menekan biaya operasional (Cost to Income Ratio)
- Strategi ekspansi ke segmen UMKM, gig worker, dan retail dengan dukungan AI untuk penilaian kredit, fraud, dan personalisasi
Tanpa cerita digital dan AI yang kuat, tambahan modal sering cuma jadi “tambal sulam” neraca. Bank bisa naik kelas KBMI, tapi tetap kalah bersaing.
B. Merger, Akuisisi, dan Kolaborasi
Banyak bank mini lain realistis: lebih efisien kalau bergabung atau diakuisisi.
Ini bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga:
- Menggabungkan basis nasabah dan jaringan
- Menyatukan kapabilitas teknologi
- Menghemat biaya regulasi dan operasional
Di sinilah peluang AI muncul. Bank besar yang mengakuisisi bank mini biasanya mencari:
- Akses ke segmen tertentu (daerah, komunitas, niche bisnis)
- Lisensi bank yang sudah jadi
- Potensi menjadikan bank mini sebagai vehicle bank digital baru
Kalau bank mini sudah punya pondasi digital (core banking modern, API, data yang rapi), integrasi AI untuk scoring, chatbot, dan rekomendasi produk akan jauh lebih mudah dan murah.
3. Dari Konsolidasi ke Digitalisasi: Di Mana Peran AI?
Jawaban singkatnya: AI adalah cara paling masuk akal bagi bank mini untuk tumbuh tanpa harus memperbesar cabang dan karyawan secara agresif.
Dalam konteks penghapusan KBMI I, AI bisa menjadi senjata di beberapa area kunci:
3.1. Penilaian Risiko & Optimisasi Modal
Bank kecil sering terkunci di portofolio kredit yang konservatif karena takut NPL naik. Dengan AI credit scoring, bank mini bisa:
- Menilai kelayakan kredit UMKM dan individu berbasis data alternatif (mutasi rekening, e‑commerce, pembayaran digital)
- Mengukur risiko per debitur dengan lebih presisi
- Menentukan pricing bunga dan limit kredit sesuai profil risiko
Dampaknya:
- Modal inti yang terbatas bisa diputar lebih produktif
- Rasio risiko bisa dikelola berdasarkan data, bukan sekadar intuisi
- Bank lebih berani masuk ke segmen unbanked dan underbanked tanpa mengorbankan prudential banking
3.2. Otomasi Operasional: Turunkan Biaya, Naikkan Skala
Kalau mau naik kelas KBMI, tidak cukup cuma menambah modal. Biaya operasional harus turun, supaya ROE menarik bagi investor.
AI bisa membantu di lini ini:
- Chatbot & voicebot berbahasa Indonesia untuk melayani nasabah 24/7
- Otomasi back office (reconciliations, verifikasi dokumen KYC, monitoring transaksi)
- AI‑assisted compliance untuk memantau transaksi mencurigakan dan mendukung AML/CFT
Hasilnya:
- Cabang fisik tidak perlu ditambah agresif
- Tim kecil bisa menangani volume nasabah lebih besar
- Bank punya ruang untuk mengalokasikan modal ke pengembangan produk, bukan sekadar biaya rutin
3.3. Personalisasi Layanan & Inklusi Keuangan
Bank mini yang pintar sebenarnya punya keunggulan: mereka dekat dengan komunitas. AI bisa memperkuat kedekatan ini.
Beberapa contoh penerapan:
- Sistem rekomendasi produk yang menawarkan tabungan, kredit mikro, atau asuransi sesuai pola transaksi dan perilaku nasabah
- Pengingat otomatis untuk cicilan, tabungan berjangka, atau top up saldo yang dikemas seperti asisten keuangan pribadi
- Segmentasi nasabah berbasis AI untuk program literasi keuangan yang lebih tepat sasaran
Ini bukan cuma bikin nasabah betah. Dalam konteks nasional, personalisasi berbasis AI ini sangat relevan dengan agenda inklusi keuangan Indonesia, khususnya untuk:
- Pelaku UMKM di daerah
- Pekerja informal dan gig worker
- Generasi muda yang malas ke cabang, tapi aktif di aplikasi
4. Strategi Nyata untuk Bank Mini: Dari Sekadar “Compliance” ke “Competitiveness”
Kalau saya ringkas, ada dua tipe respon bank mini saat regulasi berubah:
- Mode bertahan: hanya fokus memenuhi angka regulasi
- Mode menyerang: menjadikan regulasi sebagai momentum merombak model bisnis
Menurut saya, opsi kedua jauh lebih sehat, dan AI adalah komponen wajib di dalamnya.
4.1. Roadmap Transformasi Praktis 2–3 Tahun
Buat bank mini yang serius, kira‑kira peta jalannya seperti ini:
Tahun 1: Fondasi Digital & Data
- Modernisasi core banking atau minimal buka akses via API
- Rapikan data nasabah dan data transaksi dalam satu data lake/warehouse
- Luncurkan aplikasi mobile banking yang layak pakai (bukan sekadar cek saldo)
Tahun 2: Implementasi AI Tahap Awal
- Implementasi chatbot untuk layanan dasar dan FAQ
- Pilot project AI credit scoring untuk segmen terbatas (misalnya kredit mikro atau KTA digital)
- Pakai AI untuk fraud detection dan monitoring transaksi mencurigakan
Tahun 3: Skalakan & Integrasikan
- Perluas penggunaan credit scoring AI ke lebih banyak produk
- Kembangkan personal financial management (PFM) di aplikasi: insight otomatis, budgeting, rekomendasi
- Integrasikan AI di proses internal lain: HR (screening CV), legal (dokumen), dan audit internal
Dengan roadmap seperti ini, bank mini bisa datang ke investor atau calon partner dengan narasi yang jauh lebih kuat: bukan cuma “kami butuh modal”, tapi “kami sedang membangun bank digital berbasis AI yang scalable”.
4.2. Beli, Bangun Sendiri, atau Kolaborasi?
Tidak semua bank mini harus membangun AI dari nol. Ada tiga pendekatan:
- Build: cocok untuk bank yang punya dana besar dan tim TI kuat, biasanya bank yang sudah di KBMI II atau punya grup teknologi
- Buy (solution siap pakai): gunakan platform AI scoring, chatbot, dan anti‑fraud dari vendor lokal/global yang sudah comply dengan regulasi Indonesia
- Partner: kolaborasi dengan fintech, perusahaan teknologi, atau BPO yang menyediakan Banking as a Service dan modul AI
Kuncinya:
- Pastikan data tetap milik bank dan dikelola sesuai standar keamanan
- Pilih solusi yang bisa terintegrasi dengan core banking saat ini
- Utamakan vendor yang paham konteks regulasi OJK dan BI
5. Dampak ke Investor & Pasar Modal: AI Sebagai “Premium” Valuasi
Dari sisi pasar modal, rencana penghapusan KBMI I hampir pasti menyalakan lagi minat ke saham bank mini — sama seperti periode 2021–2022.
Namun sekarang ada pembeda besar: narasi digital dan AI bukan lagi bonus, tapi keharusan.
Investor akan lebih tertarik pada bank yang:
- Punya rencana jelas implementasi AI di kredit, risiko, dan layanan nasabah
- Sudah menunjukkan angka operasional yang membaik (CIR turun, NPL terkendali)
- Berani menggarap segmen baru (UMKM, digital native) dengan dukungan teknologi
Bank mini yang hanya mengandalkan merger tanpa transformasi digital mungkin tetap selamat, tapi sulit menjadi bintang di pasar.
Penutup: Regulasi Memaksa, AI Memberi Peluang
Rencana penghapusan KBMI I adalah wake‑up call yang keras, terutama untuk 61 bank mini yang masih ada di kelompok ini. Mereka memang bisa memilih antara tambah modal atau cari pasangan, tapi itu baru menyentuh kulit luarnya.
Kalau bank hanya mengejar angka modal tanpa mengubah cara bekerja, mereka akan tetap kecil — hanya saja di kelas KBMI yang lebih tinggi. Jalan yang lebih menarik adalah memanfaatkan momen regulasi ini untuk lompat ke era digital banking berbasis AI: model bisnis lebih ramping, layanan lebih personal, dan jangkauan nasabah jauh lebih luas.
Untuk manajemen bank, regulator, maupun investor, pertanyaan besarnya sekarang bukan lagi “KBMI I jadi dihapus atau tidak?”, melainkan:
Siapa bank mini yang berani menjadikan AI sebagai inti strategi naik kelas — bukan sekadar aksesoris teknologi?
Seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking” akan terus mengulas contoh konkret, use case, dan pendekatan implementasi AI yang realistis untuk bank di Indonesia. Kalau bank Anda sedang menyusun strategi modal dan konsolidasi, ini saat yang tepat untuk memastikan AI ada di meja diskusi, bukan hanya di slide presentasi.