IPO COIN & Arsari: Pelajaran AI untuk Keuangan

AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking••By 3L3C

Masuknya Arsari ke COIN dan perubahan rencana dana IPO jadi studi kasus penting: bagaimana AI, data, dan tata kelola cerdas membentuk masa depan keuangan digital.

IPO COINArsari GroupAI perbankandigital banking Indonesiaaset kripto Indonesiarisk managementfintech
Share:

Featured image for IPO COIN & Arsari: Pelajaran AI untuk Keuangan

IPO COIN & Masuknya Arsari: Cermin Baru Keuangan Digital

Harga saham COIN naik dari Rp100 saat IPO di Juli 2025 menjadi Rp3.910 per 12/12/2025. Lonjakan sekitar 3.810% ini bukan sekadar cerita “saham multibagger”. Masuknya Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo dan rencana perubahan penggunaan dana IPO membuka babak baru: bagaimana perusahaan aset kripto merapikan strategi bisnis di tengah sorotan publik, regulasi, dan volatilitas ekstrem.

Ini menarik bukan hanya buat investor ritel, tapi juga buat pelaku fintech, bank digital, dan startup yang sedang menyiapkan IPO. Di era AI dalam industri perbankan Indonesia, keputusan keuangan besar seperti IPO, aksi korporasi, dan perubahan strategi seharusnya tidak lagi mengandalkan intuisi saja, tetapi analitik data dan AI.

Tulisan ini memakai kasus COIN–Arsari sebagai studI singkat: apa yang sebenarnya terjadi, apa sinyalnya untuk pasar, dan bagaimana AI bisa membantu perbankan, fintech, dan startup mengambil keputusan yang lebih terukur.


Apa yang Terjadi di COIN? Fakta Singkat yang Perlu Dipahami

Masuknya Arsari Group ke COIN mengubah peta. Dari sisi narasi, COIN tidak lagi sekadar “emiten kripto pertama di BEI”, tapi mulai diposisikan sebagai bagian dari ekosistem kedaulatan digital Indonesia.

Beberapa poin penting dari pergerakan terbaru COIN:

  1. Investor Baru: Arsari Group
    Arsari Nusa Investama, entitas investasi Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, masuk sebagai pemegang saham COIN. Detail porsi kepemilikan belum dibuka ke publik, tapi secara sentimen pasar, ini mengirim pesan kuat: ada investor institusi besar yang percaya pada prospek jangka panjang COIN.

  2. Ekosistem Aset Digital Berizin OJK
    COIN punya anak usaha:

    • PT Central Finansial X (CFX)
    • PT Kustodian Koin Indonesia (ICC)

    Keduanya sudah berizin dan diawasi OJK. Ini penting, apalagi setelah beberapa kasus platform kripto bermasalah. Di era digital banking, trust dan regulasi adalah mata uang utama.

  3. RUPSLB 30/12/2025: Perubahan Besar di Meja Rapat
    Manajemen COIN menjadwalkan RUPSLB dengan agenda:

    • Perubahan penggunaan dana IPO
    • Perombakan jajaran pengurus
    • Penetapan larangan divestasi bagi pemegang saham pengendali (anti-dump)

    Di sinilah cerita jadi relevan buat pembaca yang tertarik dengan perencanaan keuangan, IPO, dan tata kelola.

  4. Struktur Kepemilikan dan Lonjakan Harga
    Sampai akhir November 2025, kepemilikan COIN antara lain:

    • PT Megah Perkasa: 23,99%
    • PT Bahana Nusantara: 19,93%
    • Budi Mardiono: 7,93%
    • PT Teknologi Anak Nusantara: 5,1%

    Ultimate beneficial owners (UBO): Andrew Hidayat, Jeth Soetoyo, Budi Mardiono, dan Aaron Ang Nio.

    Dari sisi harga, kenaikan 3.810% dalam kurang dari setahun adalah alarm sekaligus peluang. Untuk bank, regulator, dan fintech, saham seperti ini adalah laboratorium hidup: bagaimana pasar memprice-in narasi teknologi, risiko, dan momentum.


Mengapa Perubahan Dana IPO Itu Krusial di Era Data & AI

Perubahan penggunaan dana IPO bukan hal sepele. Ini menyangkut trust investor, arah strategi, dan risiko hukum. Di kasus COIN, RUPSLB akan membahas revisi rencana penggunaan dana yang tadinya sudah dipaparkan saat IPO.

Di sini, saya melihat tiga pelajaran penting untuk perusahaan keuangan dan startup fintech:

1. Rencana IPO Harus Adaptif, Tapi Tetap Data-Driven

Pasar aset kripto sangat dinamis. Regulasi bergerak, sentimen global berubah cepat, dan teknologi baru (termasuk AI) terus muncul. Wajar kalau rencana awal dana IPO perlu disesuaikan.

Bedanya, di 2025 ini, penyesuaian tidak boleh berdasarkan feeling semata. Dengan AI, perusahaan bisa:

Article image 2

  • Memetakan skenario makro (suku bunga, kebijakan BI, regulasi kripto global) dan dampaknya ke pendapatan.
  • Mensimulasikan alokasi dana ideal: berapa persen ke teknologi, compliance, pengembangan produk, ekspansi regional, dll.
  • Mengukur risiko likuiditas dan runway berdasarkan berbagai skenario stres.

Startup keuangan yang masih menyusun prospektus IPO seharusnya sudah memakai model AI untuk simulasi kondisi ekstrem. Bukan baru panik setelah harga saham bergerak liar.

2. Investor Besar Ingin Narasi yang Konsisten & Transparan

Masuknya Arsari Group membawa ekspektasi: tata kelola yang lebih kuat dan narasi bisnis yang lebih “institutional friendly”. Investor seperti ini tidak cuma lihat potensi capital gain, tapi juga:

  • Seberapa serius perusahaan investasi di compliance dan manajemen risiko.
  • Seberapa matang strategi monetisasi dan ekspansi.
  • Seberapa rapi pelaporan keuangan dan pelacakan kinerja.

Di sinilah AI untuk analytic & reporting masuk:

  • Sistem pelaporan real-time ke manajemen dan pemegang saham kunci.
  • Dashboard AI yang menunjukkan health check bisnis: growth user, fee-based income, cost per acquisition, churn, sampai fraud level.
  • Simulasi jika strategi berubah: misalnya menggeser fokus dari retail trader ke institusi, atau dari trading fee ke layanan kustodian.

Perusahaan yang bisa menjelaskan perubahan penggunaan dana IPO dengan data kuat akan jauh lebih dipercaya.

3. Larangan Divestasi & Manajemen Risiko Pasar

Agenda rapat soal larangan divestasi bagi pemegang saham pengendali jadi sinyal penting. Tujuannya jelas: mencegah aksi jual besar yang bisa mengguncang harga.

Dari perspektif AI di pasar modal dan perbankan, hal seperti ini bisa dikaitkan dengan:

  • Model deteksi manipulasi pasar: AI bisa mengidentifikasi pola transaksi tidak wajar, front-running, atau wash trading.
  • Stress test portofolio kredit bank: jika bank punya eksposur ke saham-saham high beta seperti COIN (baik lewat margin, repo, atau pembiayaan ke perusahaan terafiliasi), AI bisa memprediksi dampak volatilitas ekstrem ke NPL dan modal.

Bank digital dan bank umum yang mulai banyak membiayai sektor fintech perlu punya machine learning model yang menganggap saham-saham seperti COIN sebagai input risiko, bukan sekadar angka di laporan harian.


Dari Kripto ke Bank Digital: Benang Merahnya Ada di Data

Banyak yang menganggap COIN dan emiten kripto lain sebagai “dunia lain” dibanding bank konvensional. Menurut saya, jaraknya makin tipis.

Ada tiga benang merah yang menyatukan industri aset digital, bank digital, dan perbankan tradisional yang sedang bertransformasi:

1. Keduanya Mengandalkan Trust Berbasis Teknologi

  • COIN membangun trust lewat lisensi OJK, tata kelola, dan narasi “kedaulatan digital Indonesia”.
  • Bank digital membangun trust lewat keamanan sistem, UX yang mulus, dan kecepatan transaksi.

Di belakang itu semua, AI security & risk memegang peran kunci:

  • Deteksi fraud real time di kanal mobile dan internet banking.
  • Scoring perilaku nasabah dari pola transaksi.
  • Monitoring anomali di infrastruktur pembayaran dan perdagangan aset.

Platform yang mengklaim “digital” tapi tidak punya fondasi AI di keamanan dan risiko pada akhirnya akan kesulitan mempertahankan kepercayaan publik.

2. Data Nasabah Jadi Bahan Bakar Utama

Article image 3

Dalam ekosistem COIN (COIN–CFX–ICC), data yang mengalir luar biasa kaya:

  • Pola trading aset kripto
  • Frekuensi setoran dan penarikan
  • Jenis aset yang disukai (stablecoin vs high beta)

Di perbankan, data yang mirip datang dari:

  • Transaksi kartu
  • Transfer antarbank
  • Top-up e-wallet
  • Cicilan kredit

Dengan AI dan machine learning, data ini bisa diolah untuk:

  • Personalised offer: produk investasi, kredit, atau proteksi yang cocok dengan profil risiko.
  • Early warning system: mendeteksi nasabah yang berpotensi gagal bayar atau berpindah ke kompetitor.
  • Segmentasi cerdas: bukan lagi sekadar “mass, affluent, high net worth”, tapi micro-segment berbasis perilaku.

Ekosistem seperti COIN bisa jadi “laboratorium” bagi bank digital untuk menguji model-model ini, tentu dengan tetap patuh pada aturan privasi dan perlindungan data.

3. Regulasi Menjadi Panggung Inovasi, Bukan Penghambat

COIN dan entitas anaknya sudah berada di bawah pengawasan OJK. Bank digital pun begitu. Banyak pelaku industri mengeluh regulasi menghambat inovasi. Saya justru melihat arah yang berbeda: regulator makin data-driven, dan ini membuka peluang kolaborasi berbasis AI.

Contohnya:

  • Regulator meminta pelaporan data granular yang bisa diolah AI untuk memantau risiko sistemik.
  • Sandbox regulasi untuk menguji produk berbasis AI seperti robo-advisor, credit scoring alternatif, dan platform aset digital.
  • Format laporan yang seragam sehingga model AI di regulator bisa melakukan analitik lintas industri.

COIN yang sedang mengubah rencana penggunaan dana IPO punya kesempatan untuk menunjukkan: inovasi aset digital bisa sejalan dengan regulasi, selama didukung data dan transparansi.


Bagaimana AI Bisa Membantu Startup & Bank Mengelola IPO dan Aksi Korporasi

Dari kasus COIN–Arsari, ada beberapa langkah praktis yang bisa diadopsi startup keuangan, bank digital, dan bahkan bank umum yang sedang merencanakan IPO anak usaha digitalnya.

1. Bangun “IPO War Room” Berbasis Data

Sebelum dan sesudah IPO, perusahaan sebaiknya punya tim kecil yang didukung dashboard AI untuk:

  • Memantau sentimen pasar (media, sosial, forum investor).
  • Menganalisis pergerakan harga saham dan volume.
  • Menghubungkan data operasional (user growth, revenue, churn) dengan pergerakan saham.

Dengan begitu, ketika ada lonjakan seperti yang dialami COIN, manajemen tidak hanya bereaksi ke harga, tapi juga memahami apa yang sebenarnya digerakkan oleh data fundamental dan apa yang sekadar noise.

2. Gunakan AI untuk Menyusun dan Meninjau Ulang Rencana Dana IPO

Rencana dana IPO idealnya di-review berkala menggunakan simulasi AI:

  • Skenario berbeda: konservatif, moderat, agresif.
  • Dampak perubahan alokasi (misalnya menambah porsi ke R&D AI, memperkuat tim risk & compliance, atau ekspansi lintas negara).
  • Proyeksi jalur profitabilitas dan kebutuhan pendanaan tambahan.

Saat, seperti COIN, perusahaan perlu mengubah rencana penggunaan dana IPO, mereka bisa datang ke RUPSLB dengan argumen yang kuat:

Article image 4

“Jika 20% dana IPO dialihkan ke pengembangan AI risk engine, kita mengurangi potensi kerugian kredit macet hingga X% dalam 3 tahun ke depan.”

Angka seperti ini jauh lebih meyakinkan daripada sekadar “untuk pengembangan teknologi”.

3. Manajemen Risiko Investor & Kepemilikan Saham

Agenda larangan divestasi bagi pemegang saham pengendali bisa diperkaya dengan:

  • Analisis AI tentang dampak potensial penjualan saham besar terhadap volatilitas.
  • Simulasi skenario free float, likuiditas, dan potensi masuk/keluar dari indeks.

Untuk bank dan lembaga keuangan yang punya eksposur ke saham-saham high growth:

  • Model AI bisa membantu menentukan batasan eksposur ke sektor tertentu (misalnya aset digital) agar tidak berlebihan.
  • Sistem early warning jika ada pola transaksi mencurigakan yang bisa memicu tekanan harga.

4. Komunikasi ke Publik yang Lebih Cerdas

AI NLP (natural language processing) sudah cukup matang untuk:

  • Menganalisis reaksi pasar terhadap press release, paparan publik, dan laporan keuangan sebelumnya.
  • Memberi rekomendasi framing pesan yang lebih jelas dan tidak menimbulkan salah paham.

Ketika COIN menjelaskan perubahan dana IPO dan masuknya Arsari, narasi yang konsisten dan berbasis data akan sangat menentukan apakah pasar menerima keputusan itu sebagai penguatan strategi, atau justru sebagai sinyal masalah.


Apa Artinya untuk Era AI dalam Perbankan Indonesia?

Kasus COIN–Arsari ini memperlihatkan satu hal:

Transformasi digital di keuangan Indonesia tidak lagi berhenti di mobile app atau UX. Pertarungannya sekarang ada di kualitas data, algoritma AI, dan tata kelola.

Bagi bank digital, fintech lending, platform kripto, dan bahkan bank besar, ada beberapa pesan yang menurut saya tidak boleh diabaikan:

  • AI risk & compliance bukan lagi nice-to-have, tapi core system.
  • IPO dan aksi korporasi harus didukung laboratorium data, bukan sekadar tim komunikasi.
  • Investor institusi besar akan semakin memilih perusahaan yang bisa menjelaskan keputusan strategis dengan angka, model, dan skenario yang jelas.

Ke depan, kita mungkin akan melihat lebih banyak kolaborasi:

  • Bank yang menyediakan layanan AI risk engine-as-a-service untuk fintech kecil.
  • Bursa dan regulator memakai AI untuk mengawasi saham-saham dengan volatilitas ekstrem.
  • Startup aset digital seperti COIN yang bekerja sama dengan bank digital dalam produk hybrid (rekening + kripto + investasi, semua dengan proteksi risiko AI).

Kalau Anda sedang membangun produk keuangan, menyiapkan IPO, atau mengelola risiko di bank, ini waktunya bertanya:

“Bagian mana dari proses saya yang masih mengandalkan insting, padahal bisa dibuat lebih cerdas dengan AI dan data?”

Begitu pertanyaan itu dijawab dengan jujur, biasanya jalan transformasi akan terlihat jauh lebih jelas.