IHSG cetak rekor, saham bank digital seperti AGRO mulai dilirik. Apa hubungannya dengan AI, digital banking, dan masa depan perbankan Indonesia?

IHSG Rekor & Bank Digital: Sinyal Kuat Era AI di Perbankan
IHSG menembus rekor baru di kisaran 8.700-an pada pekan ketiga Desember 2025. Di tengah euforia window dressing dan pemangkasan suku bunga global, satu sektor yang pelan tapi pasti mulai mencuri perhatian: bank digital.
Ini bukan sekadar cerita harga saham naik. Kenaikan minat terhadap saham bank digital seperti PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) adalah cermin dari perubahan yang jauh lebih besar: perbankan Indonesia sedang bergeser ke digital banking berbasis AI. Dari kredit UMKM, deteksi fraud, sampai chatbot cerdas, AI mulai jadi “mesin” di balik pertumbuhan.
Artikel ini membahas tiga hal penting:
- Kenapa rekor IHSG dan turunnya suku bunga jadi angin segar untuk bank digital
- Studi kasus Bank Raya (AGRO): kombinasi ekosistem BRI, strategi O2O, dan peluang AI
- Apa arti semua ini bagi masa depan digital banking dan investor di Indonesia
1. IHSG Rekor & Optimisme terhadap Digital Banking
Rekor IHSG di akhir 2025 mengirim pesan jelas: pasar percaya pada prospek ekonomi dan transformasi digital, termasuk sektor perbankan.
Katalis utamanya:
- Window dressing akhir tahun: manajer investasi merapikan portofolio, menaikkan bobot saham yang kinerjanya baik
- Pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember 2025: mendorong aliran dana asing masuk ke emerging market seperti Indonesia
Di situasi seperti ini, investor biasanya memburu dua tipe saham:
- Blue chip defensif (bank besar, konsumer, infrastruktur)
- Growth stock dengan potensi pertumbuhan tinggi, termasuk bank digital
Bank digital menarik karena berada di persimpangan tiga tren besar:
- Digitalisasi UMKM: semakin banyak pelaku usaha memakai POS digital, marketplace, dan payment gateway
- Inklusi keuangan: regulator dan pemerintah mendorong literasi dan akses keuangan sampai ke desa
- Adopsi AI di perbankan: dari kredit scoring alternatif sampai personalisasi produk
IHSG yang mencetak all time high bukan hanya angka di layar. Itu juga sinyal bahwa pasar mulai “menghargai” model bisnis bank yang siap hidup di era data, AI, dan mobile-first.
2. AGRO: Valuasi Masih Rasional di Tengah Euforia Bank Digital
Di tengah kenaikan minat terhadap bank digital, AGRO justru masih diperdagangkan dengan valuasi yang relatif murah.
Per 28/11/2025:
- PBV AGRO: 1,6x
- Rata-rata PBV bank digital: sekitar 3,2x
Artinya, AGRO saat ini dinilai pasar sekitar setengah harga rata-rata peers-nya. Untuk investor yang fokus pada digital banking, ini menarik, karena:
- Model bisnis sudah jelas: digital bank dengan dukungan ekosistem BRI
- Kinerja keuangan mulai konsisten tumbuh
- Sentimen makro (suku bunga turun, inflow asing) lagi bersahabat
Di sisi lain, beberapa saham bank digital lain sudah mendekati atau bahkan melewati puncak valuasi. PBV dan PER yang terlalu tinggi sering membuat investor ragu masuk karena margin of safety tipis.
Di sinilah AGRO beda: bank ini sudah digital, punya ekosistem, punya data, tapi valuasinya belum “selangit”. Untuk yang percaya pada AI dalam industri perbankan dan transformasi digital BRI Group, AGRO itu semacam “opsi murah” untuk masuk ke cerita besar tersebut.
3. Strategi O2O Bank Raya & Kekuatan Ekosistem BRI
Kekuatan utama Bank Raya ada pada kombinasi strategi online-to-offline (O2O) dan ekosistem BRI yang masif.
Apa maksud O2O di bank digital?
Sebagian besar bank digital murni bermain di ranah online. Customer acquisition mengandalkan iklan, promo cashback, dan referral yang mahal. Bank Raya melakukan hal yang sedikit berbeda:
- Aplikasi digital tetap jadi wajah utama ke nasabah
- Tapi akuisisi, edukasi, dan aktivitas nasabah diperkuat jaringan fisik BRI: kantor cabang, Agen BRILink, dan ekosistem UMKM BRI
Hasilnya:
- Biaya akuisisi nasabah lebih rendah dibanding digital bank yang harus “bakar uang” di marketing
- Kepercayaan nasabah lebih tinggi karena ada brand dan jaringan BRI yang sudah dikenal puluhan tahun
Di mana peran AI di model O2O ini?
Di O2O seperti ini, AI bisa masuk di banyak titik:
- Scoring kredit UMKM & Agen BRILink: pakai data transaksi, arus kas, dan behavior, bukan hanya agunan dan laporan keuangan formal
- Rekomendasi produk: AI menganalisis pola tabungan, transaksi QRIS, hingga pembayaran tagihan untuk menawarkan produk yang relevan
- Optimasi jaringan: data dari aplikasi dan cabang fisik dipakai untuk menentukan di area mana perlu lebih banyak agen, promosi, atau layanan baru
Model bisnis yang punya akses ke data fisik dan digital sekaligus biasanya jauh lebih kuat ketika mulai mengadopsi AI secara serius.
4. Kinerja Q3 2025: Bukti Bisnis Digital Bukan Sekadar Gimmick
Pertumbuhan Bank Raya di 9M25 menunjukkan bahwa transformasi digital mereka bukan jargon di presentasi.
Beberapa angka kunci:
- Laba bersih naik 23,9% YoY ke sekitar Rp41,97 miliar
- Kredit digital tumbuh 50,1% YoY
- Produk andalan Pinang Dana Talangan untuk Agen BRILink dan agen keuangan lain tembus Rp17,56 triliun, naik 47,9% YoY
- Simpanan digital naik 61,4% YoY ke Rp1,75 triliun
Angka-angka ini penting karena menunjukkan tiga hal:
- Model kredit berbasis ekosistem bekerja
Fokus ke Agen BRILink dan pelaku UMKM yang sudah punya rekam jejak transaksi membuat risiko kredit lebih terukur. Dengan AI, data transaksi itu bisa diolah jadi skor kredit yang lebih presisi.
-
Nasabah nyaman menyimpan dana secara digital
Pertumbuhan dana pihak ketiga digital >60% YoY menunjukkan bahwa nasabah bukan cuma pinjam, tapi juga menyimpan. Untuk bank digital, basis dana yang stabil ini krusial supaya tidak ketergantungan pada pendanaan mahal. -
Skala bisnis mulai relevan untuk AI
Begitu volume transaksi dan nasabah cukup besar, setiap investasi di AI (misalnya untuk deteksi fraud real-time atau chatbot cerdas) akan semakin bernilai. Semakin banyak data yang masuk, semakin tajam pula model AI-nya.
Buat saya, kombinasi pertumbuhan laba, ekspansi kredit digital, dan dana murah yang naik agresif adalah tanda bahwa Bank Raya sedang membangun pondasi yang sehat untuk jadi digital bank berbasis AI dalam beberapa tahun ke depan.
5. Sentimen Makro: Suku Bunga Turun, AI & Growth Stock Naik
Penurunan suku bunga The Fed pada akhir 2025 adalah “hadiah” untuk saham keuangan, terutama yang berbasis pertumbuhan.
Kenapa?
- Cost of fund global turun, likuiditas longgar
- Investor global cenderung keluar dari aset safe haven ke aset berisiko yang punya growth lebih tinggi
- Emerging market seperti Indonesia jadi sasaran inflow, apalagi dengan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang relatif terjaga
Untuk saham seperti AGRO, dampaknya berlapis:
- Biaya dana perbankan cenderung turun, margin bunga bersih (NIM) berpeluang membaik
- Growth story bank digital yang mengandalkan teknologi dan AI jadi makin menarik saat cost of capital lebih rendah
- Valuasi yang sebelumnya dianggap mahal untuk growth stock sekarang lebih mudah diterima pasar
Jika tren inflow asing ke sektor keuangan berlanjut, sangat mungkin bank digital yang punya:
- Valuasi menarik (PBV belum terlalu tinggi)
- Dukungan grup besar (seperti BRI)
- Narasi kuat soal digital banking dan AI
akan mulai naik panggung dan lebih sering muncul di radar institusi besar.
6. AI dalam Bank Digital: Dari Chatbot ke Deteksi Fraud
AI adalah “otak” yang membuat bank digital lebih efisien, lebih personal, dan lebih aman. Bank seperti AGRO, yang punya jaringan fisik dan basis data UMKM lewat BRI, sebenarnya duduk di atas “tambang data” yang sangat kaya.
Beberapa contoh aplikasi AI yang relevan untuk AGRO dan bank digital Indonesia:
1) Penilaian Kredit Alternatif untuk UMKM
Banyak UMKM di Indonesia gak punya laporan keuangan formal, tapi punya jejak digital:
- Transaksi di Agen BRILink
- Pembayaran QRIS
- Transaksi marketplace
- Tagihan listrik, pulsa, dan lain-lain

AI bisa mengolah data ini untuk:
- Menilai kemampuan bayar dengan lebih akurat
- Mengurangi bias manual dalam analisis kredit
- Mempercepat proses approval dari hitungan hari jadi hitungan menit
2) Chatbot Bahasa Indonesia yang Benar-Benar Bermanfaat
Chatbot di banyak aplikasi bank masih terasa “kaku”. Dengan model bahasa AI yang makin matang, bank bisa membangun chatbot yang paham konteks lokal:
- Mengerti bahasa campur-campur (Indonesia + sedikit bahasa daerah)
- Bisa jelaskan produk dengan bahasa sehari-hari
- Tahu kapan harus eskalasi ke agent manusia
Ini cocok untuk nasabah UMKM yang mungkin gak terbiasa baca dokumen panjang, tapi nyaman bertanya via chat.
3) Deteksi Fraud Real-Time
Transaksi digital yang tumbuh cepat juga berarti risiko fraud naik. AI bisa dipakai untuk:
- Mendeteksi pola transaksi mencurigakan dalam hitungan detik
- Membandingkan perilaku nasabah hari itu dengan pola historisnya
- Memblokir atau menunda transaksi aneh sambil mengirim verifikasi ke nasabah
Untuk bank digital seperti AGRO yang banyak bermain di pinjaman jangka pendek dan transaksi agen, sistem deteksi fraud berbasis AI adalah benteng penting agar pertumbuhan tidak dibayar dengan lonjakan NPL.
4) Personalisasi Layanan & Cross-Selling
Dengan AI, bank bisa berhenti “menebak-nebak” dan mulai menawarkan produk yang benar-benar relevan:
- UMKM dengan arus kas stabil bisa ditawari plafon kredit lebih besar
- Agen yang sering top up pulsa bisa ditawari paket usaha digital
- Nasabah yang konsisten menabung bisa diarahkan ke produk investasi BRI Group
Semua ini ujungnya satu: pendapatan per nasabah naik, dan pengalaman mereka terasa jauh lebih personal.
7. Apa Artinya untuk Investor & Masa Depan Digital Banking?
AGRO memberi gambaran menarik tentang arah AI dalam industri perbankan Indonesia:
- Ekosistem besar seperti BRI + bank digital fokus (Bank Raya) = kombinasi ideal untuk menguji dan menggelar solusi AI skala nasional
- Kinerja Q3 2025 menunjukkan bisnis inti sudah tumbuh; AI berikutnya akan jadi akselerator, bukan sekadar eksperimen
- Valuasi yang masih di bawah rata-rata bank digital memberi ruang bagi investor yang berpikir beberapa tahun ke depan, bukan cuma satu musim window dressing
Bagi pelaku industri perbankan lain, pelajaran pentingnya jelas:
- Tanpa AI, digital banking cuma jadi aplikasi cantik dengan biaya operasional tinggi
- Tanpa ekosistem dan data yang kaya, AI di bank hanya berhenti di proof of concept
- Pemenang jangka panjang adalah mereka yang bisa menggabungkan jaringan fisik, kanal digital, dan AI dalam satu strategi yang menyatu
Seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking” akan terus mengulas contoh-contoh konkret seperti ini. AGRO dan bank digital lain hanyalah awal dari transformasi panjang yang akan mengubah cara orang Indonesia menabung, meminjam, dan berinvestasi.
Pada titik tertentu, pertanyaan utamanya bukan lagi “bank mana yang pakai AI”, tapi sejauh mana AI sudah meresap ke setiap keputusan, produk, dan interaksi di bank tersebut.