Bank Raya menunjukkan bagaimana digital banking dan AI bisa nyata membantu PKL dan UMKM lewat Saku Bisnis, QRIS, dan pendampingan komunitas.
Digital Banking Bukan Cuma untuk Korporat Besar
Ribuan pedagang kaki lima (PKL) di Indonesia masih mengandalkan catatan kertas, uang tunai di kaleng biskuit, dan ingatan kepala untuk mengatur keuangan. Di sisi lain, bank digital, AI, dan QRIS berkembang sangat cepat. Kesenjangan inilah yang selama beberapa tahun terakhir pelan-pelan dipersempit.
Contohnya menarik: Bank Raya, bank digital bagian dari BRI Group, membangun Cluster Unggulan untuk PKL Sidodadi di Semarang. Bukan hanya bantuan fisik seperti fasilitas usaha, tapi juga pendampingan literasi keuangan digital, pemanfaatan aplikasi, hingga penggunaan QRIS Bisnis dan fitur kasir.
Ini bukan sekadar program CSR manis di atas kertas. Ini adalah contoh nyata bagaimana digital banking dan teknologi (termasuk AI) bisa mendorong inklusi keuangan UMKM, terutama pelaku usaha mikro seperti PKL.
Artikel ini membedah:
- Kenapa pendekatan seperti Bank Raya ke PKL Sidodadi itu krusial untuk ekonomi Indonesia
- Apa saja fitur digital banking yang benar-benar berguna buat pedagang kecil
- Di mana peran AI dalam mempercepat inklusi keuangan
- Bagaimana pelaku UMKM lain bisa meniru langkah-langkah praktis ini
PKL, UMKM, dan Kenapa Inklusi Keuangan Itu Soal “Makan Hari Ini”
PKL sering dipandang kecil, tapi kontribusinya ke ekonomi lokal sangat besar. Banyak kota di Indonesia hidup dari putaran uang di sektor informal ini. Masalahnya, mayoritas PKL:
- Tidak punya pembukuan rapi
- Campur uang pribadi dan uang usaha
- Tidak punya histori transaksi digital
- Sulit mengakses kredit formal karena tidak punya jaminan dan bukti arus kas
Inklusi keuangan di sini bukan jargon. Untuk pedagang kecil, punya akses ke bank digital berarti:
- Lebih aman: uang tidak cuma disimpan tunai
- Lebih terukur: ada history transaksi yang bisa dilihat kapan saja
- Lebih berpeluang dapat modal: data transaksi bisa jadi dasar analisis kredit
Program seperti Cluster Unggulan PKL Sidodadi yang dijalankan Bank Raya menyasar tepat ke masalah ini: bukan hanya memberi fasilitas fisik, tapi mengajak PKL “masuk” ke ekosistem digital banking secara bertahap.
Bank Raya tidak mulai dari nol di Sidodadi saja. Sebelumnya mereka sudah membangun tujuh cluster lain seperti:
- Cluster Alun-Alun Kota Batu Malang
- Cluster Kuliner Keprabon (Surakarta)
- Cluster Pujasera Hayamwuruk (Semarang)
- Cluster Pasar Kranggan (Yogyakarta)
- Cluster Paguyuban Emak-Emak Pedagang Keprabon (Gedang Ambon)
- Cluster Jatiraras Cibinong (Bogor)
Total, sudah lebih dari 200 pelaku usaha yang diberdayakan. Polanya konsisten: pendekatan komunitas, edukasi rutin, dan penggunaan fitur-fitur bank digital yang relevan untuk usaha mikro.
Bagaimana Bank Digital Mendukung PKL Secara Nyata
Jawaban singkatnya: dengan membuat transaksi harian lebih mudah, terukur, dan bisa dianalisis. Di Bank Raya, ini dikemas lewat kombinasi community branch, Saku Bisnis, QRIS Bisnis, dan Fitur Kasir.
1. Community Branch: Bank Turun ke Lapangan, Bukan Nunggu di Aplikasi
Bank digital sering dianggap “dingin” dan jauh karena semua serba lewat aplikasi. Bank Raya mencoba merapikan ini lewat konsep community branch: tim yang aktif mendampingi komunitas secara langsung.
Pendampingan mereka ke PKL dan UMKM biasanya mencakup:
- Edukasi pengelolaan uang usaha vs uang pribadi
- Cara memakai aplikasi bank digital untuk jualan
- Cara baca mutasi transaksi dan memantau arus kas
- Literasi keuangan digital: keamanan transaksi, PIN, OTP, dan seterusnya
Langkah seperti ini penting. Teknologi saja tidak cukup; perilaku dan kebiasaan pedagang juga harus ikut berubah. Di sinilah kombinasi offline (pendampingan) dan online (aplikasi) terasa masuk akal.
2. Saku Bisnis: Pisahkan Uang Dagang dan Uang Dapur
Salah satu fitur kunci di aplikasi Raya adalah Saku Bisnis. Secara sederhana, ini “dompet” khusus di dalam aplikasi untuk mengelola uang usaha.
Beberapa fungsi pentingnya untuk PKL dan UMKM:
-
Pemisahan dana usaha
Nasabah bisa membuat hingga lima saku bisnis berbeda. Contoh praktis:- Saku 1: Modal dagang harian
- Saku 2: Tabungan renovasi gerobak
- Saku 3: Gaji karyawan
- Saku 4: Dana darurat usaha
- Saku 5: Ekspansi (beli gerobak kedua)
-
Mass transfer untuk payroll dan supplier
Fiturmass transfermemungkinkan transfer sekaligus ke 10 rekening tujuan real-time. Dampaknya:- Bayar gaji karyawan tidak perlu satu-satu
- Bayar beberapa supplier dalam sekali jalan
-
Monitoring keuangan lebih rapi
Mutasi rekening bisa dicek kapan saja, sehingga pedagang bisa melihat:- Pola pemasukan harian/mingguan
- Pengeluaran terbesar untuk apa
- Kapan usaha lagi sepi atau ramai
Buat lembaga keuangan berbasis AI, data seperti ini emas. Di balik layar, model AI untuk penilaian kredit (credit scoring) bisa membaca pola transaksi untuk menilai risiko dan kapasitas bayar, tanpa harus bergantung pada jaminan fisik.
3. QRIS Bisnis: Dari Uang Tunai ke Jejak Digital
QRIS mungkin terdengar teknis, tapi bagi PKL, manfaatnya langsung:
- Bisa menerima pembayaran dari berbagai aplikasi pembayaran
- Tidak perlu uang kembalian yang sering bikin ribut
- Mengurangi risiko uang hilang atau salah hitung
Data dari Bank Raya menunjukkan pada September 2025, QRIS Bisnis mereka sudah dipakai di 23 kota dengan lebih dari 11.000 merchant. Artinya, ribuan pelaku usaha kecil sudah mulai meninggalkan pola “semua tunai, semua di kepala”.
Untuk PKL Sidodadi dan cluster lain, QRIS Bisnis terintegrasi dengan aplikasi Bank Raya sehingga:
- Setiap transaksi langsung tercatat real-time
- Pedagang dapat notifikasi saat ada pembayaran
- Pencairan dana bisa dilakukan hingga 4 kali sehari (4 batch)
Ini bukan cuma memudahkan arus kas. Jejak transaksi inilah yang nanti bisa dipakai AI untuk:
- Mengukur omset rata-rata harian
- Melihat tren musiman (ramai saat weekend, lebaran, tahun baru, dll.)
- Mengidentifikasi anomali yang bisa terkait fraud atau penyalahgunaan akun
4. Fitur Kasir: Dari Buku Tulis ke Dashboard Sederhana
Fitur Kasir dalam Saku Bisnis membantu pedagang mengelola transaksi bisnis, termasuk kalau mereka punya karyawan yang ikut mengoperasikan kasir.
Manfaat praktis untuk UMKM:
- Karyawan bisa mencatat transaksi tanpa akses penuh ke rekening
- Pemilik usaha bisa memantau total penjualan harian secara digital
- Data transaksi bisa diekspor atau dianalisis untuk kebutuhan usaha
Dalam konteks AI dalam industri perbankan, fitur kasir seperti ini adalah “sensor” yang menangkap data perilaku bisnis sehari-hari. Di tangan bank yang serius mengembangkan analitik dan AI, data ini bisa diolah untuk membuat:
- Rekomendasi limit kredit yang lebih adil
- Penawaran produk keuangan yang dipersonalisasi
- Peringatan dini kalau ada transaksi yang mencurigakan
Di Mana Peran AI dalam Semua Ini?
Banyak orang mengira AI di perbankan cuma soal chatbot yang bisa jawab pertanyaan nasabah. Padahal, untuk segmen UMKM dan PKL, peran AI jauh lebih strategis.
Beberapa contoh penerapan AI yang relevan dengan model seperti yang dilakukan Bank Raya:
1. Credit Scoring Alternatif untuk PKL dan UMKM
PKL jarang punya slip gaji, laporan keuangan formal, atau jaminan properti. Di sinilah AI-based credit scoring jadi solusi.
Dengan data dari:
- Mutasi Saku Bisnis
- Volume transaksi QRIS
- Pola pemasukan dan pengeluaran
Model AI bisa:
- Menilai stabilitas omzet usaha
- Mengukur kemampuan bayar cicilan
- Menentukan limit pinjaman yang masuk akal
Hasilnya, pedagang yang sebelumnya “tidak bankable” jadi punya akses ke kredit. Inilah inti inklusi keuangan berbasis teknologi.
2. Deteksi Fraud dan Keamanan Transaksi
Semakin banyak transaksi digital, semakin tinggi risiko penipuan. AI dapat:
- Mengamati pola transaksi nasabah
- Mendeteksi aktivitas tidak biasa (misalnya transaksi besar mendadak di luar jam atau lokasi normal)
- Memberikan alert otomatis ke sistem atau nasabah
Bagi PKL yang mungkin belum terlalu paham soal keamanan digital, proteksi otomatis seperti ini sangat membantu.
3. Personalisasi Edukasi dan Layanan
Bank yang serius dengan literasi keuangan digital bisa memakai AI untuk:
- Mengelompokkan nasabah UMKM berdasarkan perilaku transaksi
- Mengirimkan edukasi yang relevan: misalnya video pendek cara pisahkan uang usaha, tips atur cash flow jelang liburan akhir tahun, dsb.
- Menyusun rekomendasi produk: tabungan usaha, asuransi sederhana, hingga pembiayaan modal kerja
Di tingkat front-end, chatbot berbasis AI berbahasa Indonesia yang baik dapat menjawab:
- Cara aktivasi QRIS
- Cara menggunakan mass transfer
- Cara melihat laporan penjualan
Tanpa nasabah harus antri di cabang atau telepon call center lama.
Pelajaran Praktis untuk UMKM dan PKL di Kota Lain
Buat kamu yang punya usaha kecil – entah warung makan, laundry kiloan, atau gerobak kopi – pendekatan seperti yang dilakukan di Cluster Unggulan Sidodadi bisa ditiru dalam beberapa langkah sederhana.
1. Mulai Pisahkan Uang Usaha dan Uang Pribadi
Kalau bankmu menyediakan fitur mirip Saku Bisnis, pakai. Kalau belum:
- Buat minimal dua rekening: pribadi dan usaha
- Biasakan semua hasil jualan masuk ke rekening usaha dulu
- Tentukan gaji untuk dirimu sendiri, tarik rutin dari rekening usaha ke rekening pribadi
2. Pakai QRIS atau Pembayaran Digital Lain
Tidak harus langsung 100% cashless. Bisa mulai dengan:
- Satu QRIS di gerobak atau warung
- Catat (atau biarkan sistem mencatat) transaksi harian
- Amati, apakah pelanggan mulai terbiasa bayar non-tunai
Semakin banyak transaksi digital, semakin tebal histori transaksi kamu di sistem.
3. Manfaatkan Fitur Kasir atau Pencatatan Digital
Kalau aplikasi bank punya fitur kasir, pakai untuk:
- Input penjualan harian
- Memantau barang laris dan tidak laku
- Menghitung omzet tanpa harus menumpuk bon
Kalau belum ada, bisa gunakan aplikasi pencatatan keuangan sederhana. Intinya sama: hindari semua cuma diingat di kepala.
4. Ikut Program Literasi atau Komunitas
Banyak bank digital mulai serius membangun komunitas seperti:
- Cluster UMKM
- Program pendampingan TJSL
- Kelas online via media sosial
Cari di kotamu, lalu ikut. Pengalaman saya, belajar bareng pedagang lain biasanya lebih “masuk” daripada baca modul sendirian.
Arah ke Depan: AI, Bank Digital, dan UMKM Indonesia
Kasus Bank Raya di Cluster Unggulan PKL Sidodadi menunjukkan satu hal penting: inklusi keuangan di era digital banking itu sangat mungkin, asalkan pendekatannya tepat.
Bukan cuma bikin aplikasi canggih, tapi:
- Turun ke komunitas lewat community branch
- Mengajari cara pakai fitur seperti Saku Bisnis, QRIS Bisnis, dan Fitur Kasir
- Membangun jejak data yang kelak bisa dibaca AI untuk membuka akses pembiayaan
Dalam seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”, contoh seperti ini adalah jembatan antara teori dan praktik. AI, analitik, dan digital banking bukan hanya milik nasabah premium dan korporat besar. Justru, dampak sosial dan ekonominya paling terasa saat menyentuh PKL, warung, dan UMKM di level paling bawah.
Kalau kamu pelaku usaha kecil, langkah berikutnya sederhana: mulai pindahkan sebagian aktivitas keuanganmu ke kanal digital, pilih bank yang serius dengan UMKM, dan manfaatkan fitur-fitur yang sudah ada. Di sisi lain, kalau kamu dari industri perbankan atau fintech, pertanyaannya jelas:
Apakah solusi AI dan digital banking yang kamu bangun sudah benar-benar menyentuh kebutuhan pedagang kecil, atau masih berhenti di brosur dan presentasi?