BRI memakai RUPSLB dan kinerja kuat 2025 sebagai fondasi tata kelola untuk mendorong digital banking dan layanan berbasis AI yang aman dan inklusif.

Transformasi BRI: Tata Kelola Kuat, Pondasi Layanan AI
Laba bersih konsolidasian BRI tembus sekitar Rp41,23 triliun sampai Kuartal III/2025, dengan ROE di kisaran 17% dan CAR di atas 23%. Angka-angka ini bukan cuma soal laba, tapi sinyal jelas: fondasi bisnis, manajemen risiko, dan tata kelola bank sedang dibangun untuk sesuatu yang lebih besar – termasuk ekspansi digital banking dan layanan berbasis AI.
RUPSLB BRI pada 17/12/2025 mungkin terlihat sangat korporat: perubahan anggaran dasar, pendelegasian persetujuan RKAP 2026, sampai perombakan direksi dan komisaris. Namun kalau ditarik ke konteks yang lebih luas, langkah ini adalah bagian dari persiapan BRI masuk lebih dalam ke era perbankan berbasis data, otomatisasi, dan kecerdasan buatan.
Artikel ini membahas kenapa penguatan tata kelola dan struktur manajemen BRI justru krusial untuk:
- mempercepat adopsi AI perbankan,
- mengembangkan digital banking yang aman,
- dan mendorong inklusi keuangan masyarakat Indonesia, terutama segmen UMKM dan mikro.
1. RUPSLB BRI 2025: Bukan Sekadar Ganti Direksi
Inti dari RUPSLB BRI 17/12/2025 adalah tiga hal: penyesuaian anggaran dasar, pendelegasian persetujuan RKAP 2026, dan perubahan susunan pengurus. Di permukaan, ini terdengar administratif. Dalam praktik, ini adalah reset arah strategi untuk beberapa tahun ke depan.
Apa saja keputusan kunci RUPSLB?
-
Perubahan Anggaran Dasar (AD)
BRI menyesuaikan AD dengan:- UU BUMN terbaru (UU 19/2003 yang telah diubah dengan UU 16/2025), termasuk penguatan hak istimewa Saham Seri A Dwiwarna milik negara;
- POJK 30/2024 tentang Konglomerasi Keuangan, yang mengatur perusahaan induk konglomerasi keuangan.
Dampaknya ke digital dan AI? Bank yang menjadi induk konglomerasi keuangan wajib punya:
- kontrol risiko terintegrasi (bank, multifinance, asuransi, dsb),
- standar tata kelola data dan teknologi yang sama di seluruh grup.
Untuk AI perbankan, ini penting karena pemodelan risiko kredit, deteksi fraud, dan scoring nasabah membutuhkan data lintas entitas yang diatur ketat: legal, aman, dan transparan.
-
Pendelegasian Persetujuan RKAP 2026
RUPSLB memberikan kewenangan kepada Dewan Komisaris (dengan persetujuan Pemegang Saham Seri B Terbanyak) untuk menyetujui RKAP 2026.Artinya:
- proses persetujuan strategi dan anggaran 2026 bisa lebih cepat;
- ruang manuver manajemen untuk mengeksekusi program digital dan AI menjadi lebih luwes, selama tetap dalam koridor tata kelola.
Di dunia produk digital, siklus inovasi itu cepat. Menunggu persetujuan berlapis-lapis berbulan-bulan itu mahal. Struktur kewenangan yang lebih gesit tapi tetap terkontrol adalah prasyarat penting untuk transformasi digital banking yang serius.
-
Perubahan Susunan Direksi dan Komisaris
RUPSLB menetapkan komposisi baru pengurus BRI, antara lain:- Komisaris Utama: Kartika Wirjoatmodjo
- Direktur Utama: Hery Gunardi
- Wakil Direktur Utama: Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari*
- Direktur Information Technology: Saladin Dharma Nugraha Effendi
- plus direktur spesifik: Micro, Commercial, Corporate, Consumer, Manajemen Risiko, Legal & Compliance, Finance & Strategy, dan lainnya.
Tanda bintik (*) pada beberapa direktur menandakan mereka mulai aktif setelah mendapat persetujuan OJK. Ini bagian dari fit and proper test yang memastikan kompetensi dan integritas pengurus – lagi-lagi, kunci untuk transformasi digital yang kredibel.
2. Kinerja BRI 2025: Bensin untuk Mesin Digital Banking
BRI menutup Kuartal III/2025 dengan kinerja yang cukup solid:
- Total aset: sekitar Rp2.123 triliun
- Pertumbuhan kredit & pembiayaan: sekitar 6,26% yoy
- Dana Pihak Ketiga (DPK): Rp1.475 triliun, tumbuh 8,25% yoy
- Komposisi dana murah (CASA): sekitar 67,7%
- NPL: sekitar 3,1% dengan NPL coverage 183,1%
- ROA: sekitar 2,7%; ROE: sekitar 17,0%
- CAR konsolidasi: sekitar 25,4%; bank only: sekitar 23,0%
Angka-angka ini menunjukkan dua hal yang relevan untuk era AI perbankan Indonesia.
2.1 Modal kuat, ruang investasi teknologi luas
CAR yang tebal memberi ruang bagi BRI untuk:
- tetap ekspansif di kredit (termasuk ke UMKM dan segmen ultra mikro),
- sambil berinvestasi besar di infra IT, data platform, dan solusi AI.
Investasi AI perbankan itu bukan hanya beli software:
- upgrade core banking untuk real-time processing,
- bangun data lake dan data warehouse,
- rekrut data scientist dan machine learning engineer,
- mengubah proses kerja cabang dan call center.
Semua ini butuh modal, waktu, dan keberanian mengambil risiko yang terukur. Bank dengan profitabilitas dan permodalan kuat lebih siap melakukannya.
2.2 Kualitas aset terjaga, fondasi scoring AI yang sehat
NPL di sekitar 3,1% dengan coverage di atas 180% menandakan disiplin manajemen risiko yang relatif baik. Ini penting untuk dua alasan:
-
Data historis kredit yang “bersih”
Model AI untuk credit scoring dan early warning system butuh dataset besar yang merekam perilaku bayar nasabah dengan kualitas pencatatan yang rapi. Bank yang rapi mengelola risiko akan punya data lebih bisa dipercaya. -
Kepercayaan regulator dan investor
Regulator cenderung lebih nyaman memberi ruang inovasi ke bank yang terbukti prudent. Untuk AI perbankan yang menyentuh penilaian kredit dan penetapan limit, faktor kepercayaan ini sangat krusial.
3. Tata Kelola sebagai Syarat Wajib Adopsi AI Perbankan
Dalam seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”, satu pola yang selalu muncul adalah ini: AI hanya akan bermanfaat kalau tata kelolanya kuat. RUPSLB BRI 2025 menunjukkan tiga lapis fondasi tata kelola yang sangat relevan.
3.1 Kepatuhan regulasi dan pengawasan OJK
Penyesuaian anggaran dasar dengan UU BUMN dan POJK konglomerasi keuangan membuat struktur BRI:
- selaras dengan standar pengawasan terbaru,
- siap menghadapi tuntutan governance data dan teknologi yang makin ketat.
Bagi adopsi AI, ini menyentuh aspek seperti:
- perlindungan data nasabah,
- transparansi algoritma (tidak diskriminatif, dapat diaudit),
- pencegahan penyalahgunaan data untuk penawaran produk yang agresif.
3.2 Direksi fungsional: IT, Risiko, Legal & Compliance di garis depan
Komposisi direksi BRI yang sangat fungsional – ada Direktur Information Technology, Direktur Manajemen Risiko, Direktur Legal & Compliance – menunjukkan AI bukan lagi isu departemen kecil di pojok.
Di bank yang serius dengan AI perbankan, tiga fungsi ini harus:
- duduk bersama dari awal saat merancang produk digital,
- menyepakati data apa yang boleh dipakai, untuk tujuan apa,
- mengatur bagaimana model AI diuji, dipantau, dan diperbaiki.
Tanpa itu, AI justru bisa menimbulkan:
- risiko hukum (gugatan terkait bias atau penyalahgunaan data),
- risiko reputasi (ketidakjelasan penolakan kredit, misalnya),
- risiko operasional (model error karena data kotor).
3.3 Delegasi RKAP: kecepatan inovasi dengan pagar pengaman
Pendelegasian kewenangan persetujuan RKAP ke Dewan Komisaris (dengan persetujuan pemegang saham utama) memberi keseimbangan antara:
- kecepatan: manajemen bisa mengajukan dan mengeksekusi proyek digital/AI lebih lincah,
- kontrol: komisaris dan pemegang saham besar tetap punya suara kuat dalam prioritas dan batas risiko.
Di konteks transformasi digital banking, ini berarti proyek seperti:
- pembaruan mobile banking,
- implementasi chatbot AI berbahasa Indonesia,
- pengembangan credit scoring alternatif untuk UMKM,
bisa diakselerasi tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.
4. Dari Tata Kelola ke Layanan AI: Contoh Nyata di Perbankan
Bagaimana langkah RUPSLB dan kinerja BRI 2025 ini bisa diterjemahkan ke layanan nyata berbasis AI? Ada beberapa jalur yang sangat masuk akal di konteks Indonesia.
4.1 AI untuk penilaian kredit UMKM dan segmen mikro
Sebagai bank yang kuat di segmen mikro, BRI punya peluang besar memanfaatkan AI untuk credit scoring alternatif, misalnya dengan:
- data transaksi rekening,
- pola pembayaran cicilan sebelumnya,
- data perilaku dari aplikasi mobile,
- informasi suplai dan distribusi (untuk pelaku usaha tertentu).
Dengan tata kelola data yang kuat, AI dapat membantu:
- memberi akses kredit ke pelaku usaha yang sebelumnya tidak punya jaminan atau laporan keuangan rapi,
- mempercepat proses persetujuan dari hitungan hari menjadi hitungan jam atau bahkan menit,
- menurunkan biaya analisa kredit manual.
Ini langsung menyentuh inklusi keuangan – salah satu agenda besar digital banking di Indonesia.
4.2 Chatbot dan virtual assistant berbahasa Indonesia
Dengan struktur IT dan customer banking yang jelas, BRI bisa memperdalam pemakaian chatbot dan virtual assistant berbasis AI untuk:
- melayani pertanyaan dasar (saldo, mutasi, limit, status transaksi),
- membantu edukasi produk (tabungan, deposito, pinjaman),
- memberi panduan langkah demi langkah di aplikasi.
Keuntungan buat nasabah:
- layanan 24/7 tanpa bergantung call center manual,
- jawaban lebih cepat dan konsisten,
- pengalaman memakai bank digital yang lebih natural dalam Bahasa Indonesia (bahkan bahasa daerah).
Namun di balik itu, dibutuhkan:
- pengelolaan data percakapan yang patuh regulasi,
- filter konten dan keamanan informasi,
- proses eskalasi ke manusia saat kasus kompleks.
Semua kembali ke tata kelola dan struktur organisasi yang siap.
4.3 Deteksi fraud dan keamanan transaksi berbasis AI
Kenaikan transaksi digital membuat risiko penipuan dan kejahatan siber ikut naik. Di sini AI sangat berguna untuk:
- memonitor pola transaksi janggal secara real time,
- memberi peringatan otomatis ke nasabah dan tim risiko,
- memblokir transaksi mencurigakan sebelum dana hilang.
Bank dengan data transaksi ritel yang masif seperti BRI punya “emas” untuk melatih model deteksi fraud yang makin canggih. Tapi lagi-lagi, tanpa:
- pengawasan dewan komisaris,
- kebijakan risk management yang jelas,
- koordinasi dengan regulator,
pemanfaatan AI di area sensitif seperti ini bisa berbenturan dengan hak nasabah atau aturan KYC/AML.
5. Apa Artinya untuk Nasabah dan Pelaku Bisnis?
Buat nasabah ritel, UMKM, sampai korporasi, rangkaian langkah BRI di RUPSLB 2025 dan kinerja 2025 ini punya beberapa implikasi praktis.
5.1 Layanan makin digital, tapi tetap diawasi ketat
Kita bisa mengharapkan:
- proses buka rekening, ajukan kredit, dan transaksi harian makin digital dan cepat,
- lebih banyak fitur personalisasi di aplikasi (rekomendasi produk, pengingat tagihan, analisa cashflow),
- peningkatan keamanan lewat pemantauan berbasis AI.
Namun di saat yang sama, karena BRI adalah BUMN yang diawasi ketat, ruang inovasi AI tetap berada dalam koridor:
- kepatuhan terhadap OJK dan UU BUMN,
- perlindungan nasabah,
- tata kelola risiko yang prudent.
5.2 Bagi pengusaha dan UMKM: akses pembiayaan bisa makin luas
Dengan kombinasi:
- portofolio kredit yang besar,
- CASA tinggi (biaya dana lebih efisien),
- dan investasi teknologi,
bank seperti BRI relatif lebih siap untuk:
- menurunkan biaya proses kredit,
- mengembangkan produk pembiayaan lebih fleksibel,
- memakai AI untuk membaca kelayakan usaha dari data transaksi sehari-hari.
Artinya, pelaku UMKM yang bankable “semi” – sebelumnya sulit dapat kredit karena minim dokumen – bisa lebih mudah masuk sistem perbankan melalui pendekatan berbasis data dan AI.
Penutup: Era AI Perbankan Butuh Fondasi, Bukan Sekadar Aplikasi
RUPSLB BRI 17/12/2025 memperlihatkan satu hal yang sering terlupakan ketika orang bicara AI dalam perbankan: sebelum bicara chatbot pintar atau scoring otomatis, bank harus berbenah di tata kelola, struktur manajemen, dan kesiapan regulasi.
BRI sedang membangun kombinasi yang menarik:
- kinerja keuangan kuat,
- modal tebal untuk investasi teknologi,
- manajemen dan komisaris yang disesuaikan dengan regulasi terbaru,
- serta fokus pada segmen mikro dan UMKM yang sangat cocok untuk solusi AI inklusif.
Bagi siapa pun yang mengikuti seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”, kisah BRI ini menunjukkan arah: masa depan perbankan Indonesia akan ditentukan oleh bank yang bisa menggabungkan governance yang solid dengan keberanian mengadopsi AI secara bertanggung jawab.
Pertanyaannya sekarang, bukan lagi apakah bank perlu AI, tapi: seberapa siap tata kelola dan datanya untuk membuat AI benar-benar bermanfaat bagi jutaan nasabah di seluruh Indonesia?