BNI Xpora, UMKM Go Global, dan Peran AI di Bank

AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking••By 3L3C

BNI Xpora menunjukkan bagaimana bank, teknologi digital, dan AI bisa mendorong UMKM naik kelas dan go global, bukan hanya menyalurkan kredit biasa.

AI perbankanUMKM go globalBNI Xporadigital banking Indonesiainklusi keuanganekonomi digital
Share:

BNI Xpora, UMKM Go Global, dan Peran AI di Bank

Sebagian besar ekspor Indonesia masih dikuasai korporasi besar, padahal lebih dari 60% PDB disumbang UMKM. Ketimpangan ini pelan-pelan mulai bergeser. Contohnya, PT Azaki Food Internasional yang bisa mengirim tempe ke 12 negara dengan dukungan BNI Xpora.

Ini bukan sekadar cerita sukses satu perusahaan. Ini sinyal kuat bahwa perbankan Indonesia mulai serius membangun ekosistem UMKM go global berbasis teknologi – dan di balik itu, fondasinya perlahan mengarah ke AI dalam industri perbankan.

Tulisan ini membahas:

  • Kenapa langkah BNI diapresiasi Kementerian UMKM
  • Apa yang sebenarnya dikerjakan Xpora untuk UMKM
  • Di mana AI dan digital banking masuk dalam strategi ini
  • Peluang praktis untuk UMKM dan pelaku industri yang mau ikut naik kelas

1. Dari Penghargaan ke Strategi: Apa yang Sedang Dibangun BNI?

Penghargaan Kolaborator Entrepreneur Hub dari Kementerian UMKM untuk BNI di acara Apresiasi Wirausaha Inspiratif 2025 bukan sekadar seremoni. Ini kode keras: pemerintah butuh bank yang bukan cuma menyalurkan kredit, tapi juga membangun infrastruktur digital dan global untuk UMKM.

Intinya, BNI sedang memainkan tiga peran besar:

  1. Bank tradisional – menyalurkan pembiayaan UMKM
  2. Mitram bisnis – memberikan pelatihan, kurasi produk, pendampingan ekspor
  3. Penyedia platform digital – lewat Xpora dan layanan seperti wondr by BNI, BNIdirect, dan TapCash

Untuk bisa menjalankan tiga peran ini secara efisien dan skala nasional, AI dan analitik data bukan lagi opsi, tapi kebutuhan.

"Kami optimistis UMKM akan terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional, dan BNI siap menjadi mitra utama UMKM untuk naik kelas dan go global," ujar Direktur Commercial Banking BNI, Muhammad Iqbal.

Dari sudut pandang AI dalam perbankan, ucapan ini artinya: BNI butuh mesin yang bisa memproses data UMKM dalam jumlah besar, menilai risiko, mengotomasi layanan, sekaligus memberi rekomendasi yang relevan untuk tiap pelaku usaha.

2. Xpora: Dari Pelatihan Ekspor ke Ekosistem Digital

Secara permukaan, Xpora terlihat sebagai program pendampingan ekspor UMKM. Tapi kalau dibedah, ini sebenarnya ekosistem digital ekspor.

BNI menyebut beberapa komponen kunci:

  • Pelatihan ekspor: edukasi regulasi, dokumen, standar kualitas
  • Kurasi produk: membantu UMKM memenuhi standar pasar global
  • Akses pasar lewat 9 kantor cabang luar negeri BNI
  • Layanan digital: wondr by BNI, BNIdirect, TapCash untuk efisiensi operasional

Sekarang lihat keterkaitannya dengan AI dan digital banking:

a. Penilaian Kelayakan Ekspor Berbasis Data

Agar UMKM bisa dibawa ke pasar global, bank butuh menjawab beberapa pertanyaan:

  • Bisakah UMKM ini memenuhi volume permintaan ekspor?
  • Bagaimana rekam jejak transaksi dan arus kasnya?
  • Seberapa besar risiko gagal bayar dan risiko operasionalnya?

Di sinilah AI scoring menjadi relevan:

  • Menggunakan data transaksi rekening
  • Data pembayaran supplier dan pelanggan
  • Pola penjualan (misalnya dari integrasi dengan marketplace atau POS)

Bank yang sudah punya infrastruktur digital seperti BNIdirect dan wondr by BNI jauh lebih mudah menambahkan lapisan AI untuk analitik risiko dan pembiayaan.

b. Otomasi Layanan untuk Skala Nasional

Mengelola ribuan UMKM secara manual itu mustahil. Bank butuh:

  • Chatbot cerdas berbahasa Indonesia untuk menjawab pertanyaan ekspor dasar
  • Rekomendasi produk keuangan otomatis (giro, kredit, trade finance) berbasis profil UMKM
  • Notifikasi proaktif: misalnya mengingatkan batas waktu dokumen ekspor, kurs menguntungkan, atau kebutuhan top up modal kerja

Semua ini sangat cocok dijalankan dengan AI, terutama NLP (Natural Language Processing) dan rekomendasi berbasis machine learning yang membaca pola transaksi.

c. Kasus Azaki Food: Satu Contoh, Banyak Pelajaran

PT Azaki Food Internasional yang menembus 12 negara dengan produk tempe adalah contoh bagus bagaimana ekosistem ini bekerja:

  • Butuh pengelolaan cashflow yang rapi: di sini BNIdirect dan solusi cash management berperan
  • Butuh pembayaran lintas negara yang efisien: cabang luar negeri BNI menjadi pintu
  • Butuh tracking dan analisis transaksi jangka panjang: bahan baku sempurna untuk model AI pembiayaan ekspor di masa depan

Kalau bank punya ratusan “Azaki” lain, data kolektif inilah yang nantinya bisa dipakai untuk membangun model AI penilaian risiko UMKM ekspor yang makin akurat.

3. Di Mana Persisnya AI Masuk ke Strategi UMKM BNI?

Walaupun artikel CNBC belum menyebut kata “AI” secara eksplisit, arah pengembangannya jelas mengarah ke sana. Secara praktis, ada beberapa use case AI perbankan yang sangat relevan untuk program seperti Xpora.

3.1. Skoring Kredit Alternatif untuk UMKM

Banyak UMKM bagus yang:

  • Tidak punya agunan memadai
  • Laporan keuangan belum rapi
  • Tapi punya data transaksi digital yang kaya

AI dapat membantu dengan:

  • Alternative credit scoring: membaca pola transaksi rekening, e-wallet, payment gateway
  • Menilai konsistensi omzet, pola pembayaran gaji, dan repeat order
  • Menggabungkan data perilaku (behavioral data) untuk memprediksi risiko

Hasilnya:

  • UMKM yang sebelumnya ditolak bisa lolos pembiayaan
  • Proses analisis lebih cepat dan konsisten
  • Inklusi keuangan meningkat tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian

3.2. Deteksi Fraud dan Keamanan Transaksi

Semakin banyak transaksi digital, semakin besar risiko fraud. Untuk bank besar yang mengelola ratusan ribu UMKM, rule-based system saja sudah tidak cukup.

AI dapat:

  • Mendeteksi pola transaksi yang tidak wajar secara real-time
  • Mengirim alert atau memblokir transaksi berisiko tinggi secara otomatis
  • Belajar dari kasus fraud sebelumnya dan mengurangi false positive

Bagi UMKM, ini krusial. Mereka bisa fokus ke bisnis, sementara bank membantu mengamankan jalur transaksi.

3.3. Personalisasi Layanan UMKM

UMKM di sektor:

  • Makanan minuman
  • Fashion
  • Jasa kreatif
  • Pertanian

punya kebutuhan pembiayaan dan cashflow yang sangat berbeda. Di sinilah AI untuk personalisasi masuk:

  • Menawarkan paket produk yang beda untuk UMKM musiman (misal pariwisata) vs harian (ritel)
  • Memberi rekomendasi kurs ekspor saat tren menguntungkan berdasarkan histori
  • Mengirim insight: "Omzet Anda naik 23% dalam 3 bulan, Anda layak mempertimbangkan fasilitas modal kerja tambahan."

Personalisasi seperti ini sulit dilakukan manual oleh RM (Relationship Manager) kalau nasabahnya puluhan ribu. AI membuatnya cukup realistis.

3.4. Chatbot UMKM Berbahasa Indonesia

UMKM butuh banyak tanya:

  • Cara buka L/C?
  • Dokumen apa yang dibutuhkan untuk ekspor ke Jepang?
  • Cara pakai BNIdirect atau wondr by BNI?

Chatbot berbasis AI yang paham bahasa Indonesia sehari-hari (bahkan istilah lokal) bisa menjadi frontliner digital:

  • Menjawab pertanyaan 24/7
  • Mengarahkan ke produk atau form yang tepat
  • Mengumpulkan data kebutuhan nasabah untuk dianalisis lebih lanjut

Chatbot yang terintegrasi dengan data transaksi bahkan bisa menjawab lebih spesifik, bukan sekadar FAQ umum.

4. Momentum Pemerintah: Grow, Sustain, dan Transformasi Digital

Menteri UMKM RI, Maman Abdurrahman, menekankan dua pilar: grow dan sustain di tengah transformasi ekonomi global. Poin menariknya, pemerintah sekarang secara terbuka menuntut:

  • Inovasi
  • Digitalisasi
  • Tata kelola usaha yang sehat

Artinya apa bagi bank dan UMKM?

  1. Bank perlu bergerak lebih agresif ke arah digital dan AI.
  2. UMKM yang mau go global harus berani “melek data” dan sistem digital.

Dibanding 5–7 tahun lalu, sekarang:

  • Akses internet UMKM jauh lebih merata
  • Sistem kasir digital, marketplace, dan payment gateway sudah umum
  • Data yang bisa dipakai untuk analitik dan AI tersedia lebih banyak

Ini saat yang tepat bagi perbankan – termasuk BNI – untuk mengonversi kondisi ini menjadi ekosistem pembiayaan dan ekspor berbasis AI.

5. Apa Artinya untuk UMKM dan Pelaku Industri?

Kalau Anda pelaku UMKM, profesional perbankan, atau pegiat ekonomi digital, langkah BNI ini memberi beberapa sinyal penting.

5.1. Untuk UMKM: Digital Bukan Lagi Bonus

Kalau target Anda cuma jual di sekitar kota, pendekatan konvensional mungkin masih cukup. Tapi kalau mimpi Anda go global, beberapa hal mulai jadi wajib:

  • Punya rekam jejak transaksi digital (rekening bisnis, payment gateway, POS digital)
  • Menjaga pencatatan keuangan meski sederhana
  • Aktif mengikuti pelatihan dan program resmi seperti Xpora
  • Siap menggunakan layanan perbankan digital (BNIdirect, wondr, dsb.)

Semakin rapi jejak digital Anda, semakin mudah AI di bank “membaca” bisnis Anda dan memberi skor yang baik.

5.2. Untuk Bank dan Fintech: Standar Baru Inklusi Keuangan

Model BNI – memadukan:

  • pendampingan UMKM,
  • jaringan global,
  • dan platform digital –

adalah blueprint menarik untuk AI dalam industri perbankan Indonesia:

  • Gunakan data dari platform digital sebagai bahan bakar AI scoring
  • Integrasikan AI ke layanan harian (notifikasi, rekomendasi, fraud detection)
  • Bangun ekosistem, bukan cuma produk satuan

Saya pribadi melihat, bank yang terlambat membangun kemampuan AI di segmen UMKM akan sulit bersaing 3–5 tahun ke depan. Bukan hanya dengan bank lain, tapi juga dengan fintech yang lebih lincah.

5.3. Untuk Pemerintah dan Regulator

Penghargaan ke BNI ini menunjukkan satu hal:

Pemerintah tidak hanya mendorong penyaluran kredit UMKM, tapi juga menghargai kolaborasi dan inovasi digital yang memperkuat akses UMKM ke pasar global.

Ke depan, arah kebijakan yang pro-open data, integrasi sistem, dan sandbox inovasi AI di sektor keuangan akan sangat menentukan kecepatan transformasi ini.

6. Penutup: UMKM Go Global Butuh Bank yang Melek AI

BNI dengan Xpora, dukungan kantor cabang luar negeri, dan layanan digital seperti wondr by BNI dan BNIdirect sedang membangun sesuatu yang lebih dari sekadar program pendampingan. Mereka sedang menyusun fondasi ekosistem ekspor UMKM yang di masa depan akan sangat bergantung pada AI dan data.

Bagi UMKM, pesannya jelas:

  • Rapikan data, gunakan kanal digital, dan manfaatkan program seperti Xpora.
  • Semakin “terlihat” secara digital, semakin mudah bank melihat potensi Anda – dan di titik itulah AI perbankan akan bekerja untuk Anda, bukan melawan Anda.

Bagi pelaku industri perbankan, langkah berikutnya bukan hanya meniru Xpora, tetapi mengintegrasikan AI secara serius ke seluruh rantai nilai UMKM – dari akuisisi nasabah, penilaian risiko, sampai pengembangan pasar global.

Era AI dalam perbankan Indonesia bukan lagi pertanyaan “kapan”, tapi “seberapa siap Anda memanfaatkannya untuk mengantar UMKM naik kelas dan tembus pasar global?”.