BNI Xpora menunjukkan bagaimana digital banking dan potensi AI bisa mempercepat UMKM Indonesia menembus pasar global, dari tempe ekspor ke 12 negara hingga kredit yang lebih tepat sasaran.
BNI Xpora, AI & UMKM Go Global: Dari Tempe ke 12 Negara
Sebagian besar UMKM Indonesia masih berjualan dengan pola sederhana, sementara konsumen mereka sudah lintas negara dan serba digital. Kontras ini kelihatan banget ketika kita lihat kisah PT Azaki Food Internasional, mitra BNI Xpora yang berhasil ekspor tempe ke 12 negara. Dari Jepang, Korea Selatan, China, Amerika Serikat, sampai Belanda.
Kisah di balik penghargaan “Kolaborator Entrepreneur Hub” dari Kementerian UMKM untuk BNI ini bukan sekadar seremoni. Ini contoh konkret bagaimana perbankan digital dan teknologi (termasuk AI) mulai jadi tulang punggung UMKM yang mau naik kelas dan menembus pasar global.
Artikel ini bagian dari seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”. Fokusnya: bagaimana program seperti BNI Xpora, layanan digital BNI, dan potensi AI bisa mempercepat ekspor UMKM, dari sisi pembiayaan, pengelolaan risiko, sampai analisis pasar global.
Kenapa UMKM Butuh Bank yang Melek Digital & AI untuk Ekspor
UMKM yang ingin ekspor tidak cukup hanya punya produk bagus. Tantangannya:
- Akses pembiayaan ekspor yang sering berbelit
- Minim pengetahuan regulasi dan standar negara tujuan
- Kesulitan mencari buyer yang tepat di pasar global
- Risiko kurs, risiko gagal bayar, hingga risiko logistik
Bank yang masih manual jelas kewalahan mengurus jutaan UMKM dengan karakter bisnis yang sangat beragam. Di sini digital banking dan AI mulai terasa perannya.
AI di perbankan bisa membantu UMKM go global dengan cara:
-
Analisis kelayakan kredit lebih cepat
Menggunakan data transaksi, histori rekening, bahkan data alternatif (misal data marketplace dan payment gateway) untuk memprofilkan risiko UMKM secara lebih akurat. -
Pemetaan pasar ekspor yang lebih tajam
Model AI bisa menganalisis tren permintaan produk di berbagai negara, perubahan harga komoditas, sampai preferensi konsumen, sehingga UMKM tahu negara mana yang paling potensial. -
Monitoring risiko secara real-time
Dari fluktuasi kurs, isu geopolitik, hingga perubahan regulasi impor tertentu yang bisa berdampak ke penjualan. -
Personalisasi solusi perbankan
Bukan lagi satu paket layanan untuk semua, tapi rekomendasi produk (kredit, trade finance, cash management) yang disesuaikan dengan profil usaha dan tujuan ekspor.
Tanpa fondasi digital yang kuat, mustahil bank bisa mengoperasikan ini dalam skala besar. Di titik ini, langkah BNI lewat Xpora dan layanan digitalnya jadi menarik untuk dibedah.
BNI Xpora: Dari Pembiayaan ke Ekspor, Bukan Cuma Kasih Kredit
Penghargaan Kolaborator Entrepreneur Hub dari Kementerian UMKM untuk BNI datang bukan tiba-tiba. Ada ekosistem yang mereka bangun lewat BNI Xpora.
Secara garis besar, Xpora memposisikan BNI bukan cuma sebagai pemberi kredit, tetapi sebagai partner ekspor. Pendekatannya end-to-end:
1. Pelatihan & Kurasi Produk
BNI Xpora tidak langsung bicara pembiayaan. Mereka mulai dari fondasi:
- Pelatihan ekspor: dokumen apa saja, skema pembayaran (L/C, open account, dll.), standar kualitas negara tujuan
- Pendampingan kurasi produk: packaging, standar halal, sertifikasi, sampai penyesuaian rasa/kualitas untuk pasar tertentu
Di sini, AI punya ruang besar untuk ikut bermain:
- Sistem product readiness score yang menilai kesiapan produk untuk ekspor berdasarkan foto, deskripsi, komposisi, dan standar pasar tujuan
- Rekomendasi otomatis sertifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk tiap negara
2. Akses Pasar lewat Kantor Cabang Luar Negeri
BNI mengandalkan sembilan kantor cabang luar negeri untuk membuka pintu pasar ekspor bagi mitra Xpora. Ini bukan hanya soal jaringan, tapi juga data.
AI dapat membantu dengan:
- Matching antara profil UMKM Indonesia dan calon buyer di luar negeri
- Analisis pola pembayaran dan risiko buyer berdasarkan histori transaksi global
- Rekomendasi negara tujuan baru berdasarkan tren permintaan produk serupa
Kisah PT Azaki Food Internasional yang berhasil ekspor tempe ke 12 negara adalah contoh bahwa jaringan + data + pendampingan bisa berbuah ekspor konsisten.
3. Layanan Digital: wondr by BNI, BNIdirect, TapCash
BNI mengintegrasikan beberapa platform digital:
- wondr by BNI – ekosistem digital untuk pelaku usaha
- BNIdirect – solusi cash management untuk mengelola arus kas dan transaksi secara terpusat
- TapCash – uang elektronik untuk mendukung transaksi ritel
Ketiganya bisa jadi fondasi penerapan AI:
- Analisis pola transaksi harian untuk mengukur kesehatan bisnis
- Prediksi cash flow agar bank bisa menawarkan kredit modal kerja ekspor tepat waktu
- Segmentasi pelanggan UMKM berdasarkan perilaku transaksi, bukan sekadar ukuran omzet
Hasilnya, pembiayaan untuk UMKM bisa diproses lebih cepat, dengan risiko yang terukur.
Dari Penghargaan ke Strategi: Apa yang Sebenarnya BNI Lakukan
Penghargaan dari Kementerian UMKM di acara Apresiasi Wirausaha Inspiratif 2025 menegaskan dua hal: kolaborasi dan arah strategi.
Menteri UMKM menyoroti pentingnya pilar “grow” dan “sustain”. Bukan cuma naik sebentar, tapi bertahan di tengah perubahan ekonomi global. Dari perspektif saya, ini ngena banget ke tiga area yang sedang jadi fokus perbankan modern:
1. Penguatan Kapasitas Ekspor
BNI menegaskan komitmen memperkuat kemampuan ekspor UMKM. Di sini, AI bisa membantu di tiga tahap:
- Pra-ekspor: analisis kelayakan pasar, simulasi harga, dan prediksi margin
- Saat ekspor: monitoring kurs, jadwal pengiriman, dan risiko buyer
- Pasca ekspor: analisis performa tiap negara tujuan dan buyer, mana yang perlu diperkuat atau dihindari
2. Peningkatan Literasi Digital Pelaku UMKM
Banyak UMKM yang sebenarnya bankable, tapi terlihat berisiko di mata bank karena pencatatan keuangan berantakan dan serba manual.
Dengan aplikasi digital yang mudah dipakai, lalu ditopang AI di belakang layar, bank bisa:
- Mengubah data transaksi harian jadi laporan keuangan otomatis
- Menghasilkan skor kelayakan yang lebih adil bagi UMKM kecil
- Memberi insight praktis, seperti: kapan sebaiknya menaikkan kapasitas produksi, atau kapan stok sebaiknya dikurangi
3. Akses Pembiayaan yang Lebih Luas & Tepat Sasaran
Kunci inklusi keuangan bukan cuma “lebih banyak kredit”, tapi kredit yang tepat.
AI dalam perbankan bisa:
- Menilai risiko berdasarkan pola transaksi, bukan hanya agunan
- Menawarkan limit kredit dinamis yang mengikuti performa bisnis
- Mengurangi bias subjektif dalam proses analisis kredit manual
Ketika BNI bilang siap menjadi “mitra utama UMKM untuk naik kelas dan go global”, arah pengembangannya sangat mungkin mengarah ke sini: perbankan berbasis data, dengan AI sebagai otak di belakangnya.
Contoh Nyata: Bagaimana AI Bisa Mempercepat Ekspor UMKM
Biar lebih konkret, bayangkan alur berikut untuk sebuah UMKM makanan olahan yang ingin ikut program seperti BNI Xpora.
Langkah 1: Onboarding & Profiling Otomatis
UMKM mendaftar lewat aplikasi. Sistem AI:
- Membaca data NIB, NPWP, laporan transaksi digital, dan histori rekening
- Menghitung skor risiko dan skor potensi ekspor dalam hitungan menit
Hasilnya: bank cepat tahu UMKM ini cocoknya dibantu di sisi mana dulu—pembiayaan, pelatihan, atau kurasi produk.
Langkah 2: Rekomendasi Pasar Tujuan
AI menganalisis:
- Tren impor produk serupa di berbagai negara
- Preferensi rasa, regulasi pangan, dan kisaran harga di tiap pasar
Lalu sistem menyarankan, misalnya:
“Produk Anda berpotensi untuk pasar Timur Tengah dan Asia Tenggara, dengan penyesuaian kemasan dan sertifikasi tertentu.”
Langkah 3: Penawaran Kredit & Layanan Keuangan yang Dipersonalisasi
Berdasarkan cash flow dan kebutuhan produksi untuk ekspor, sistem mengusulkan:
- Skema kredit modal kerja ekspor yang sesuai
- Limit yang aman bagi arus kas UMKM
- Simulasi cicilan dalam beberapa skenario
Langkah 4: Monitoring & Pendampingan Berbasis Data
Setelah ekspor berjalan, AI:
- Memantau kestabilan pembayaran dari buyer luar negeri
- Mendeteksi pola telat bayar yang berulang
- Memberi peringatan dini ke bank dan UMKM jika risiko meningkat
Dengan pola seperti ini, UMKM nggak dibiarkan jalan sendiri, sementara bank tetap bisa mengelola risiko dengan cermat.
Tips Praktis untuk UMKM yang Mau Manfaatkan Digital Banking & AI
Buat pelaku UMKM yang ingin menembus pasar global lewat dukungan perbankan digital seperti BNI, beberapa langkah berikut cukup realistis untuk mulai sekarang:
-
Mulai rajin pakai rekening usaha & pembayaran digital
Semakin rapi data transaksi Anda, semakin mudah bank dan AI menilai kelayakan usaha Anda. -
Ikut program pelatihan ekspor yang disediakan bank atau pemerintah
Jangan cuma kejar pembiayaan. Pahami juga regulasi, standar kualitas, dan cara negosiasi dengan buyer internasional. -
Manfaatkan dashboard dan laporan otomatis dari aplikasi bank
Gunakan laporan tersebut untuk mengukur perkembangan usaha bulanan. Itu juga bahan kuat saat mengajukan kredit. -
Jaga kualitas produk dan konsistensi pengiriman
AI bisa bantu analisis, tapi reputasi tetap ditentukan kualitas barang dan disiplin operasional. -
Berani tanya & diskusi dengan RM (relationship manager) bank
Banyak solusi perbankan yang sebenarnya tersedia, tapi tidak dipakai karena nasabah nggak pernah menanyakan.
Masa Depan: Perbankan AI sebagai “Mesin Ekspor” UMKM Indonesia
Kalau kita tarik ke gambar besar, cerita BNI, Xpora, dan penghargaan dari Kementerian UMKM ini menunjukkan arah yang jelas: perbankan Indonesia mulai bergeser dari sekadar penyalur kredit menjadi orkestrator ekosistem UMKM go global.
Di seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”, benang merahnya selalu sama:
- AI bukan pengganti manusia, tapi alat untuk membuat keputusan lebih cepat dan lebih akurat
- Digital banking bukan hanya aplikasi keren di layar, tapi infrastruktur untuk inklusi keuangan yang sesungguhnya
- UMKM yang siap tumbuh adalah UMKM yang mau memanfaatkan data, teknologi, dan kolaborasi
BNI sudah memberi sinyal kuat: memperkuat kapasitas ekspor, literasi digital, dan akses pembiayaan UMKM dengan dukungan platform digital. Langkah logis berikutnya adalah mengintegrasikan AI lebih dalam ke seluruh proses, dari onboarding nasabah sampai keputusan kredit dan analisis pasar global.
Kalau Anda pelaku UMKM, pertanyaan terbesarnya bukan lagi “bisa ekspor atau tidak”, tapi:
Seberapa cepat Anda mau menyiapkan bisnis agar siap disandingkan dengan sistem perbankan digital dan AI yang sedang dibangun sekarang?