Aset bank syariah RI tembus Rp1.028 T. Pertanyaannya: siapkah industri ini mengadopsi AI untuk pembiayaan, fraud, dan layanan digital yang lebih inklusif?
Aset Perbankan Syariah Pecah Rekor, Tapi Siapkah Masuk Era AI?
Total aset perbankan syariah Indonesia tembus Rp1.028,18 triliun per Oktober 2025, naik 11,34% yoy dan jadi rekor tertinggi sepanjang sejarah industri. Pembiayaan mencapai Rp685,55 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp820,79 triliun. Angkanya besar, momentumnya kuat.
Yang sering luput dibahas: pertumbuhan sebesar ini tidak akan bertahan kalau model bisnisnya masih konvensional, hanya diganti akad. Di saat bank konvensional sudah agresif memakai AI untuk penilaian kredit, deteksi fraud, dan layanan digital, bank syariah tidak bisa hanya mengandalkan label halal dan pertumbuhan organik.
Tulisan ini membedah: apa arti rekor Rp1.028 triliun itu, di mana peluang digital banking syariah, dan bagaimana AI bisa jadi mesin akselerasi berikutnya – dari inklusi keuangan sampai efisiensi pengelolaan aset.
1. Di Balik Angka Rp1.028 Triliun: Momentum Emas Perbankan Syariah
Rekor aset ini bukan sekadar angka besar di laporan OJK. Ini sinyal bahwa perbankan syariah sudah keluar dari fase “niche” dan mulai masuk ke arus utama sistem keuangan Indonesia.
Beberapa poin penting dari data OJK:
- Total aset: Rp1.028,18 triliun (tumbuh 11,34% yoy)
- Pembiayaan: Rp685,55 triliun (tumbuh 7,78% yoy)
- DPK: Rp820,79 triliun (tumbuh 14,26% yoy)
- Semua angka ini all time high sepanjang sejarah bank syariah di Indonesia.
OJK lewat RP3SI 2023–2027 sudah jelas: industri ini akan didorong lewat spin-off, konsolidasi, dan penguatan skala ekonomi. Mayoritas Bank Umum Syariah masih di KBMI 1, artinya kecil secara aset dan kapasitas. Tanpa teknologi, terutama AI, sulit bersaing dengan bank besar yang sudah jauh di depan.
Kenapa momentum ini krusial untuk era AI di bank syariah?
- Basis data sudah cukup besar. Dengan aset di atas Rp1.000 triliun dan ratusan triliun pembiayaan, bank syariah punya data transaksi, perilaku, dan profil nasabah yang kaya. Ini bahan bakar utama AI.
- Skala ekonomi mulai terlihat. Konsolidasi dan spin-off membuat beberapa entitas syariah makin besar, cukup punya budget dan urgensi untuk investasi serius di AI.
- Ekspektasi nasabah berubah. Nasabah bank syariah sekarang terbiasa dengan super-app, QRIS, dan real-time support. Mereka tidak akan menolerir layanan lambat hanya karena “ini syariah”.
Singkatnya, pertumbuhan aset sudah terjadi, pertumbuhan kecerdasan digitalnya yang harus menyusul.
2. Tantangan Nyata Bank Syariah di Era Digital
Di balik angka yang kinclong, ada beberapa PR yang, kalau jujur, belum tuntas di banyak bank syariah – baik dari sisi bisnis maupun teknologi.
2.1 Skala ekonomi kecil, biaya tinggi
Mayoritas BUS masih di kelompok KBMI 1. Artinya:
- Biaya operasional per nasabah cenderung tinggi
- Jaringan fisik terbatas
- Investasi teknologi mahal terasa berat
Tanpa otomasi dan AI, bank syariah berisiko terjebak di model bisnis padat manusia, bukan padat teknologi. Ini yang bikin margin gampang tertekan.
2.2 Penilaian pembiayaan masih konvensional
Banyak proses pembiayaan syariah yang:
- Lama karena verifikasi manual
- Mengandalkan dokumen formal dan agunan
- Sulit menjangkau segmen unbanked dan UMKM informal
Padahal salah satu misi keuangan syariah adalah inklusi dan keadilan ekonomi. Kalau scoring kredit masih ala 1990-an, mimpi inklusi hanya berhenti di brosur.
2.3 Risiko fraud dan kepatuhan yang makin kompleks
Transaksi makin digital, produk makin beragam (pembiayaan konsumtif, produktif, keuangan sosial syariah, dll.). Konsekuensinya:
- Pola fraud makin canggih dan tersebar
- Risiko kepatuhan syariah dan regulasi makin kompleks
Manual checking tidak akan sanggup mengejar kompleksitas ini dalam jangka panjang.
Di sinilah AI relevan, bukan sebagai tren teknologi, tapi sebagai jawaban praktis terhadap masalah bisnis.
3. Di Mana AI Paling Masuk Akal untuk Bank Syariah?
Jawabannya: di area yang langsung menyentuh pembiayaan, risiko, dan pengalaman nasabah. Tiga hal itu yang akan menentukan siapa yang bertahan lima tahun lagi.
3.1 AI untuk penilaian pembiayaan syariah yang lebih inklusif
AI bisa mengubah cara bank syariah menilai kelayakan pembiayaan.
Dari:
- Fokus pada slip gaji, laporan keuangan formal, dan agunan
- Proses lama dan paper-based
Menjadi:
- Menggunakan alternative credit scoring berbasis data transaksi digital:
- Riwayat transaksi rekening
- Pola belanja di e-commerce
- Pembayaran tagihan rutin
- Data perilaku dari aplikasi mobile banking
- Proses analisis otomatis dalam hitungan menit
Ini sangat kuat untuk:
- UMKM yang belum punya laporan keuangan rapi
- Pekerja informal (ojol, freelancer, pedagang online)
- Segmen muda yang aktif digital tapi belum punya riwayat kredit panjang
Selama algoritma scoring dirancang sejalan dengan prinsip syariah (transparan, adil, tak zalim pada kelompok tertentu), AI justru bisa memperkuat misi keadilan sosial ekonomi.
3.2 Deteksi fraud dan anti-penyalahgunaan produk syariah
AI unggul di pola: dia bisa membaca jutaan transaksi dan menemukan hal yang “tidak biasa”.
Contoh penerapan di bank syariah:
- Deteksi pembiayaan fiktif atau penggunaan dana tidak sesuai akad
- Mengidentifikasi pola transaksi mencurigakan terkait pencucian uang
- Membaca pola multiple account yang dipakai untuk mengakali batasan pembiayaan
Model AI bisa:
- Memberi skor risiko untuk setiap transaksi secara real-time
- Mengirim alert ke tim kepatuhan dan risiko
- Mengurangi beban manual review dan audit
Hasil akhirnya:
Rasio fraud turun, kualitas aset membaik. Pertumbuhan Rp1.028 triliun tadi bukan sekadar besar, tapi juga lebih sehat.
3.3 Chatbot dan asisten virtual berbahasa Indonesia (dan lokal)
Banyak bank syariah sudah punya aplikasi mobile. Tapi seberapa pintar aplikasi itu berinteraksi?
Chatbot berbasis AI bisa:
- Menjawab pertanyaan produk (tabungan, pembiayaan, investasi syariah) 24/7
- Membantu simulasi pembiayaan murabahah/ijarah dalam hitungan detik
- Menjelaskan perbedaan akad dengan bahasa yang mudah dicerna
- Mendukung Bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Jawa, Sunda, dll.) untuk daerah tertentu
Ini bukan hanya soal efisiensi call center, tapi juga edukasi keuangan syariah yang lebih masif dan personal.
3.4 Personalisasi layanan dan rekomendasi produk syariah
Dengan data transaksi dan preferensi nasabah, AI bisa membantu bank:
- Mengelompokkan nasabah berdasarkan perilaku (bukan hanya umur dan pekerjaan)
- Memberi rekomendasi:
- Top up investasi di produk sukuk ritel
- Rekomendasi akad pembiayaan yang paling sesuai profil risiko
- Pengingat pembayaran zakat atau sedekah terjadwal
Bayangkan pengalaman seperti aplikasi streaming yang tahu konten favoritmu, tapi ini untuk tabungan, pembiayaan, dan keuangan sosial syariah.
Personalisasi seperti ini membuat DPK tumbuh lebih sehat: bukan sekadar mengejar nominal, tapi membangun hubungan jangka panjang.
4. Mengelola Risiko: AI Harus Tetap Syariah dan Etis
AI bukan jimat. Kalau salah kelola, bisa membawa risiko baru: bias, salah keputusan, dan ketidakadilan. Untuk industri syariah, isu ini malah lebih sensitif.
Beberapa prinsip yang menurut saya wajib dipegang bank syariah saat mengadopsi AI:
4.1 Transparansi dan keadilan dalam algoritma
- Hindari model yang tidak bisa dijelaskan sama sekali (black box total), terutama untuk keputusan pembiayaan
- Dokumentasikan: data apa yang dipakai, bagaimana model menilai risiko
- Lakukan audit bias: pastikan tidak ada kelompok tertentu (misalnya wilayah tertentu atau jenis pekerjaan) yang diperlakukan tidak adil tanpa dasar yang kuat
4.2 Kepatuhan syariah yang ikut naik kelas
Kalau bisnisnya pakai AI, Dewan Pengawas Syariah (DPS) juga perlu naik kelas secara kapasitas:
- Memahami konsep dasar algoritma dan data
- Terlibat dalam review model yang punya dampak langsung ke nasabah
- Menetapkan pedoman: data apa yang boleh dipakai, mana yang melanggar prinsip privasi dan kehormatan individu
4.3 Data privacy sebagai amanah, bukan sekadar compliance
Dalam perspektif syariah, data nasabah bukan cuma “aset digital”, tapi amanah.
Artinya:
- Penggunaan data untuk AI harus seizin nasabah (consent yang jelas)
- Penyimpanan dan pengolahan data harus aman
- Tidak menjual atau memanfaatkan data di luar tujuan yang disepakati
Kalau ini dijalankan dengan benar, bank syariah bisa memposisikan diri sebagai alternatif yang bukan hanya halal secara akad, tapi juga etis secara digital.
5. Langkah Praktis: Dari Rekor Aset ke Rekor Inovasi Digital
Pertanyaannya sekarang: apa yang bisa dilakukan bank syariah – dan juga pelaku teknologi yang ingin masuk ke sektor ini – dalam 12–24 bulan ke depan?
5.1 Untuk manajemen bank syariah
-
Mulai dari satu use case AI yang paling berdampak
Misalnya: credit scoring untuk UMKM atau deteksi fraud transaksi. -
Bentuk tim kecil lintas fungsi
Libatkan IT, risiko, bisnis, dan kepatuhan syariah sejak awal. Proyek AI yang hanya dimiliki IT biasanya berhenti di tahap demo. -
Bangun fondasi data dulu
Data yang bersih dan terstruktur jauh lebih penting daripada ambisi punya “AI canggih”. -
Uji coba terbatas, lalu skalakan
Mulai di segmen tertentu (contoh: pembiayaan ritel di kota besar), ukur dampaknya, baru perluas.
5.2 Untuk regulator dan ekosistem
- OJK bisa mendorong pedoman penggunaan AI di perbankan syariah, bukan untuk menghambat, tapi memberi kepastian
- Kolaborasi antara bank syariah dan startup AI lokal untuk solusi yang lebih relevan dengan konteks Indonesia
- Kampus dan lembaga riset bisa mengembangkan model AI yang selaras dengan prinsip maqashid syariah: keadilan, kemaslahatan, dan perlindungan hak
5.3 Untuk pelaku teknologi dan konsultan
Kalau Anda bergerak di AI dan digital banking, fase sekarang adalah jendela kesempatan:
- Industri ini sudah punya skala (Rp1.028 triliun aset) tapi belum matang digital
- Kebutuhan jelas: inklusi keuangan, efisiensi pembiayaan, manajemen risiko
- Ruang kolaborasi terbuka lebar, terutama untuk solusi yang siap pakai tapi bisa dikustomisasi syariah
Penutup: Dari Rekor Angka ke Rekor Dampak
Rekor aset Rp1.028 triliun membuktikan satu hal: perbankan syariah bukan lagi pemain pinggiran di industri keuangan Indonesia. Tapi untuk naik ke level berikutnya, pertumbuhan angka harus diiringi pertumbuhan kecerdasan digital.
AI di perbankan syariah bukan soal ikut tren teknologi. Ini tentang:
- Membuat pembiayaan lebih adil dan inklusif
- Menjaga aset tetap sehat dan bebas fraud
- Memberikan layanan digital yang setara atau lebih baik dari bank konvensional
Kalau Anda bagian dari industri ini — banker, regulator, atau pelaku teknologi — pertanyaannya sederhana: apakah strategi AI Anda sudah sejelas target aset Anda?
Kalau belum, justru sekarang, ketika aset lagi pecah rekor, adalah waktu paling tepat untuk mulai.