Perbankan syariah menuju 2026 butuh lebih dari sekadar spin-off dan konsolidasi. AI bisa jadi katalis utama pertumbuhan, efisiensi, dan pengalaman nasabah.

AI & Perbankan Syariah Indonesia: Arah Baru Menuju 2026
Pangsa pasar perbankan syariah Indonesia mendekati 8% di akhir 2024. Angka ini tampak lumayan, tapi kalau dibandingkan dengan mayoritas penduduk Muslim dan besarnya ekonomi halal, jelas potensinya jauh lebih besar.
Di saat yang sama, industri perbankan lagi kencang-kencangnya masuk ke era digital banking: konsolidasi bank, spin-off unit usaha syariah, dan dorongan kuat ke layanan digital. Di tengah semua itu, satu faktor yang mulai membedakan pemain kuat dan pemain rata-rata adalah pemanfaatan AI (kecerdasan buatan).
Tulisan ini membahas arah perbankan syariah hingga 2026, tapi dengan satu kacamata tambahan: sejauh mana AI bisa menjadi akselerator pertumbuhan, efisiensi, dan pengalaman nasabah. Ini bagian dari seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”, jadi fokusnya selalu kembali ke satu pertanyaan: bagaimana teknologi, terutama AI, bisa mengubah cara bank syariah bermain di liga besar?
1. Konsolidasi Syariah: Skala Besar Butuh Otak Digital
Arah besar industri syariah menuju 2026 sudah cukup jelas: konsolidasi dan penguatan struktur.
- Pangsa pasar mendekati 8% dan berpotensi tembus dua digit jika skenario optimistis tercapai
- Munculnya bank syariah nasional baru dari akuisisi Bank Victoria Syariah oleh BTN dan spin-off UUS BTN
- Rencana spin-off UUS bank konvensional seperti CIMB Niaga dan Bank Permata
Semua ini mengarah ke satu hal: industri yang lebih besar, lebih kompleks, dan lebih kompetitif. Di titik ini, skala saja tidak cukup. Dibutuhkan otak digital untuk mengelola kompleksitas.
Peran AI dalam fase konsolidasi
Konsolidasi bukan cuma soal gabung badan usaha. Di belakang layar, ada pekerjaan berat:
- Integrasi core banking dan sistem pendukung
- Penyatuan data nasabah dari berbagai entitas
- Penyelarasan proses, produk, dan kebijakan risiko
Di sinilah AI dan data analytics jadi penyelamat waktu dan biaya:
-
Integrasi data nasabah yang lebih cepat
Model AI bisa membantu:- Data matching otomatis antar sistem berbeda
- Deteksi duplikasi CIF dan sinkronisasi profil nasabah
- Pembersihan data (data cleansing) dalam skala jutaan record
-
Analitik portofolio pembiayaan pasca-merger
Setelah merger atau spin-off, bank perlu cepat tahu:- Di mana konsentrasi risiko terbesar
- Segmen apa yang paling menguntungkan
- Produk mana yang harus dipertahankan, dikembangkan, atau dihentikan
Model AI untuk portfolio analytics bisa melakukan segmentasi dan simulasi skenario jauh lebih tajam dibandingkan analisis manual.
-
Perencanaan jaringan dan kanal yang lebih cerdas
Dengan memanfaatkan data transaksi, lokasi, dan demografi, AI bisa membantu menjawab:- Cabang mana yang layak dikonversi menjadi digital branch
- Wilayah mana yang cukup dilayani oleh mobile banking + agen
- Kanal mana yang paling efektif untuk segmen syariah tertentu
Sebagian besar bank masih mengandalkan intuisi manajemen. Menurut saya, dalam industri yang menuntut efisiensi tinggi, intuisi tanpa data dan AI akan jadi liability.
2. Dari Kepatuhan Syariah ke Pengalaman Nasabah Digital
Satu dekade pertama, narasi perbankan syariah didominasi oleh kepatuhan terhadap prinsip syariah. Itu tetap penting, tapi sekarang pasar menuntut lebih: kecepatan, kemudahan, dan pengalaman digital yang mulus.
Bank syariah bukan lagi hanya bersaing dengan bank syariah lain, tapi dengan semua bank dan bahkan fintech. Di sini, AI jadi senjata untuk mengangkat level pengalaman nasabah.
Chatbot syariah dan digital assistant
Banyak bank di Indonesia sudah punya chatbot, tapi sering kali terasa generik dan kaku. Bayangkan kalau bank syariah punya chatbot berbasis AI yang mampu:
- Menjawab pertanyaan seputar akad, bagi hasil, dan produk syariah dalam Bahasa Indonesia yang natural
- Menjelaskan perbedaan produk syariah vs konvensional secara sederhana tapi akurat
- Membantu simulasi pembiayaan rumah, kendaraan, atau modal usaha dengan skema syariah
Ini bukan hanya soal layanan 24/7, tapi juga alat literasi keuangan syariah yang efektif. Satu chatbot bisa menjawab ribuan pertanyaan yang dulu harus ditangani customer service manual.
Personalisasi layanan berbasis AI
Nasabah generasi muda semakin alergi terhadap penawaran yang generik. Mereka ingin:
- Rekomendasi produk yang relevan
- Edukasi yang disesuaikan dengan kondisi finansial mereka
- Pengingat dan notifikasi yang kontekstual, bukan spam
Dengan analitik perilaku transaksi dan model recommendation engine, bank syariah bisa:
- Menawarkan tabungan haji ke nasabah yang rutin transfer ke travel umrah
- Menyodorkan pembiayaan KPR syariah ke penyewa apartemen yang stabil pembayarannya
- Menawarkan pembiayaan UMKM ke nasabah yang terlihat terus tumbuh omzetnya di rekening
Pengalaman seperti ini yang bikin nasabah merasa, “Bank ini paham gue”. Itulah titik di mana loyalitas mulai terbentuk.
3. UMKM, Ekonomi Halal, dan Skoring Kredit Berbasis AI
Menuju 2026, hampir semua analis sepakat: UMKM dan ekonomi halal akan jadi mesin utama pertumbuhan perbankan syariah.
Tantangannya, UMKM sering:
- Tidak punya laporan keuangan rapi
- Riwayat kredit minim
- Bisnisnya sangat musiman
Model analisis kredit tradisional sering kesulitan di sini. Hasilnya, banyak UMKM halal tetap tidak terlayani. Di titik ini, AI untuk penilaian kredit alternatif jadi kunci.
Alternative credit scoring untuk UMKM syariah
Dengan AI, bank bisa menilai kelayakan pembiayaan UMKM menggunakan data non-tradisional, misalnya:
- Pola transaksi rekening bisnis dan pribadi
- Data penjualan dari marketplace atau POS digital
- Riwayat pembayaran tagihan utilitas
- Perilaku pembayaran di platform digital lain
Selama tetap dijaga kepatuhan syariah dalam penggunaan data dan transparansi, model ini bisa:
- Mengurangi reject rate nasabah UMKM yang sebenarnya layak
- Mempercepat proses persetujuan dari minggu menjadi hari, bahkan jam
- Mengurangi ketergantungan pada agunan fisik
Untuk perbankan syariah yang memang punya DNA keberpihakan ke sektor produktif, AI di area ini bukan sekadar opsi, tapi senjata strategis.
Ekosistem ekonomi halal dan peran AI
Industri halal mencakup:
- Makanan dan minuman
- Fesyen muslim
- Wisata halal
- Logistik halal
Bank syariah yang serius membangun ekosistem bisa memanfaatkan AI untuk:
- Memetakan klaster pelaku usaha halal di suatu daerah
- Mengidentifikasi rantai pasok (supplier–produsen–distributor–ritel)
- Mendesain skema pembiayaan ekosistem, bukan hanya per pelaku
Contoh praktis:
Satu bank syariah memetakan klaster produsen makanan halal di Jawa Barat. Dengan analitik AI, bank mengetahui pola siklus bisnis, pemasok utama, dan kanal distribusi. Dari situ, bank merancang produk pembiayaan musiman plus fasilitas invoice financing yang disesuaikan.
Model seperti ini jauh lebih kuat dibanding pendekatan “datang ke cabang, ajukan sendiri”.
4. Risiko, Fraud, dan Pelajaran dari Kasus Muamalat
Kasus restrukturisasi Bank Muamalat jadi pengingat keras:
Prinsip syariah tidak otomatis membuat bank kebal dari masalah kualitas aset dan pembiayaan bermasalah.
Di era ekspansi agresif dan persaingan ketat, manajemen risiko berbasis data dan AI bukan lagi kemewahan.
Deteksi dini pembiayaan bermasalah
AI bisa membantu bank syariah:
- Memantau early warning indicators di level nasabah maupun portofolio
- Mendeteksi pola yang mengarah ke potensi NPF (Non Performing Financing)
- Mengklasifikasikan nasabah ke beberapa kategori risiko dan merekomendasikan tindakan (rescheduling, pendampingan, atau penagihan intensif)
Hal ini penting sekali ketika bank syariah mulai ekspansi cepat ke UMKM dan ritel. Tanpa alat deteksi dini, kenaikan pembiayaan bisa dengan cepat berubah jadi kenaikan NPF.
Deteksi fraud di era digital banking
Dengan semakin banyaknya transaksi di mobile banking dan internet banking, potensi fraud ikut naik:
- Account takeover
- Transaksi tidak wajar
- Penyalahgunaan identitas
Model AI untuk deteksi fraud bisa:
- Menganalisis pola transaksi real-time
- Menghentikan atau menunda transaksi mencurigakan
- Memberi skor risiko per transaksi
Untuk menjaga kepercayaan terhadap perbankan syariah, kombinasi tata kelola kuat + AI di manajemen risiko akan jadi pembeda utama.
5. Kebijakan Publik, Inklusi Syariah, dan Strategi Digital 2026
Arah industri tidak hanya ditentukan bank, tapi juga OJK, BI, dan pemerintah. Menuju 2026, sinergi kebijakan dengan agenda digital dan AI bisa mempercepat pertumbuhan perbankan syariah.
Peran regulator di era AI syariah
Beberapa langkah kunci:
- Mendorong standar tata kelola penggunaan AI di perbankan syariah (transparansi model, perlindungan data nasabah, prinsip keadilan)
- Memfasilitasi sandbox regulasi untuk inovasi AI di area pembiayaan UMKM, digital onboarding, dan e-KYC
- Memperdalam instrumen moneter dan pasar uang syariah yang juga bisa dimanfaatkan untuk algorithmic treasury management
Jika kebijakan spin-off dan konsolidasi disinergikan dengan panduan jelas soal AI, industri tidak hanya tumbuh besar, tapi juga tumbuh cerdas.
Literasi dan inklusi keuangan syariah berbasis teknologi
Rendahnya pangsa pasar syariah juga soal literasi, bukan sekadar produk. Di sini AI bisa membantu:
- Konten edukasi personal lewat aplikasi mobile
- Micro-learning tentang akad dan produk syariah berdasarkan profil nasabah
- Chatbot edukatif yang bisa diintegrasikan dengan lembaga pendidikan, ormas, dan komunitas
Model seperti ini jauh lebih skalabel daripada seminar tatap muka tradisional.
Penutup: Dari 8% ke Dua Digit – AI sebagai Katalis
Menuju 2026, skenario moderat menempatkan pangsa pasar perbankan syariah di 8–9%, sementara skenario optimistis bisa tembus dua digit jika:
- Konsolidasi berjalan mulus
- Spin-off menghasilkan bank syariah yang kuat, bukan rapuh
- Restrukturisasi bank bermasalah terselesaikan
- Transformasi digital dan pemanfaatan AI benar-benar dijalankan, bukan hanya jargon
Menurut saya, AI adalah pembeda utama apakah industri akan stagnan di angka satu digit tinggi, atau naik kelas menjadi pilar utama sistem keuangan nasional.
Bagi bank syariah, beberapa langkah praktis yang bisa mulai didorong dari sekarang:
- Bangun fondasi data yang rapi dulu, sebelum bicara AI yang canggih
- Mulai dari kasus penggunaan yang konkret: chatbot syariah, credit scoring UMKM, dan deteksi fraud
- Bentuk tim lintas fungsi (bisnis, risiko, IT, syariah) untuk mengawal proyek AI
- Pastikan semua inisiatif tetap taat pada nilai dan prinsip syariah, terutama terkait keadilan, transparansi, dan privasi
Perbankan syariah Indonesia sedang masuk fase pendewasaan. Jika AI dimanfaatkan dengan serius dan bijak, maka di 2026 kita tidak lagi melihat bank syariah sebagai sekadar alternatif, tetapi arus utama dalam ekonomi digital dan ekonomi halal Indonesia.