Kredit UMKM kontraksi 0,64% di akhir 2025. Artikel ini membahas bagaimana AI di perbankan bisa mengubah penilaian kredit dan membuka akses pendanaan bagi UMKM.

Kredit UMKM Tertekan, Saatnya Perbankan Serius Pakai AI
Pertumbuhan kredit UMKM kita resmi masuk zona minus: kontraksi 0,64% yoy per November 2025, menurut Gubernur BI Perry Warjiyo dalam RDG BI 17/12/2025. Padahal UMKM menyumbang lebih dari 60% PDB dan menyerap mayoritas tenaga kerja di Indonesia.
Ini bukan sekadar angka di laporan BI. Kontraksi kredit artinya sangat konkret: lebih banyak pengajuan pinjaman UMKM ditolak, plafon dipangkas, atau pencairan diperlambat. Di ujungnya, cashflow usaha seret, ekspansi tertunda, dan risiko PHK naik.
Di sisi lain, BI mencatat minat bank menyalurkan kredit sebenarnya masih ada, lending requirement longgar, tapi segmen konsumsi dan UMKM dipersempit karena risiko kredit meningkat. Artinya masalahnya bukan cuma “bank nggak mau kasih kredit”, tapi cara bank menilai risiko UMKM sudah nggak cukup relevan dengan realitas lapangan.
Di sinilah AI dalam industri perbankan Indonesia mulai terasa urgent, bukan sekadar jargon digital banking. Bukan cuma untuk chatbot atau rekomendasi produk, tapi untuk mengubah cara bank menilai, memberi, dan memantau kredit UMKM.
Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Kredit UMKM 2025?
Kontraksi 0,64% di akhir 2025 bukan kejadian mendadak. Datanya pelan-pelan sudah memberi sinyal sejak pertengahan tahun:
- Juli 2025: pertumbuhan kredit UMKM masih +1,82%
- Agustus 2025: turun ke +1,3%
- Oktober 2025: nyaris nol, +0,11%
- November 2025: resmi kontraksi −0,64% yoy
Jadi selama kurang lebih empat bulan, kredit UMKM pelan-pelan mengerem sampai mundur.
Beberapa penyebab yang sering muncul di diskusi dengan pelaku industri:
- Suku bunga kredit tetap tinggi, margin usaha UMKM tipis
- Bank makin ketat di segmen yang dianggap berisiko, terutama UMKM dan konsumsi
- Banyak pengusaha kecil masih wait and see terhadap ekspansi
- Data keuangan UMKM tradisional berantakan atau tidak terdokumentasi
Kombinasi ini bikin satu pola berulang: UMKM yang sebenarnya layak, ikut tertolak karena bank kekurangan data dan alat analisis yang tepat.
Masalah Inti: Model Penilaian Kredit UMKM Sudah Ketinggalan
Kalau mau jujur, sebagian besar proses penilaian kredit UMKM di bank masih berat di:
- Laporan keuangan formal
- Agunan (jaminan fisik)
- Rekening koran tradisional
- Riwayat kredit di sistem informasi debitur
Untuk korporasi besar, pendekatan ini masih oke. Tapi buat UMKM Indonesia yang banyaknya belum tertib administrasi, model ini menyaring terlalu banyak pelaku usaha yang sebenarnya sehat.
Di lapangan, saya sering lihat pola seperti ini:
- Warung yang omzetnya jalan terus, tapi semua transaksi tunai, buku catatan ala kadarnya
- Penjual online aktif di marketplace, angka transaksinya tinggi, tapi nggak punya laporan keuangan formal
- Petani atau nelayan dengan siklus musiman, arus kasnya naik-turun, tapi pola tahunan sebenarnya stabil
Dari kacamata bank konvensional, semua ini “berisiko tinggi” karena data nggak rapi. Dari kacamata AI dan data analytics, justru ini ladang data alternatif yang bisa dipakai untuk menilai kelayakan.
Di Sini AI Masuk: Dari Kontraksi ke Inklusi Keuangan
Jawabannya ya: AI bisa membantu membalik tren kontraksi kredit UMKM — kalau dipakai dengan benar, dalam ekosistem yang diatur dengan baik oleh regulator seperti BI dan KSSK.
1. Credit Scoring Alternatif Berbasis Data Digital
AI memungkinkan bank membuat model credit scoring berbasis data non-tradisional, misalnya:
- Data transaksi di marketplace dan POS digital
- Riwayat pembayaran tagihan (listrik, pulsa, internet, e-wallet)
- Pola arus kas di rekening bank dan dompet digital
- Rating dan ulasan pelanggan di platform online
Dengan teknik machine learning, bank bisa memprediksi probabilitas gagal bayar bukan hanya dari laporan keuangan, tapi dari perilaku keuangan sehari-hari. Ini krusial untuk UMKM yang belum punya laporan formal, tapi aktif di ekosistem digital.
Hasilnya:
- UMKM tanpa agunan besar tetap bisa mendapatkan limit kredit yang masuk akal
- Proses persetujuan lebih cepat karena model jalan otomatis di belakang
- Bank bisa tetap mengendalikan risiko karena model terus belajar dari data realisasi pembayaran
2. Early Warning System Risiko Kredit UMKM
Salah satu alasan bank menahan kredit UMKM adalah trauma kenaikan NPL. Di sinilah AI membantu di sisi monitoring setelah pencairan.
Model AI bisa memantau sinyal-sinyal dini, misalnya:
- Frekuensi transaksi turun tajam beberapa minggu berturut-turut
- Pola keterlambatan pembayaran mulai muncul dan makin sering
- Kegiatan usaha di kanal digital tampak sepi (posting berkurang, pesanan turun)
Kalau sistem mendeteksi pola berbahaya, bank bisa:
- Kontak debitur lebih awal
- Tawarkan restrukturisasi ringan sebelum macet total
- Beri pendampingan bisnis melalui program kemitraan
Dengan cara ini, risiko bank turun, akses kredit UMKM tidak perlu diperketat berlebihan.
3. Penentuan Harga Kredit (Suku Bunga) yang Lebih Adil
Selama ini banyak UMKM mengeluh bunganya “dipukul rata” karena dianggap berisiko tinggi. Dengan AI, bank bisa menghitung risk-based pricing per debitur secara lebih presisi:
- UMKM dengan pola pembayaran bagus dan arus kas stabil bisa dapat bunga lebih rendah
- Yang risikonya lebih tinggi tetap bisa dapat kredit, tapi dengan plafon dan skema berbeda
Akibatnya, portofolio kredit UMKM bank jadi lebih seimbang: pertumbuhan tetap dikejar, tapi dengan struktur risiko yang terkendali.
Peran BI: Dari Soroti Angka ke Mengakselerasi Solusi AI
Perry Warjiyo sudah menegaskan BI akan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk mendorong pertumbuhan kredit dan memperbaiki struktur suku bunga. Kalau dibawa ke konteks AI dan digital banking, ada beberapa langkah strategis yang realistis:
1. Standar & Pedoman Credit Scoring Berbasis AI
BI bersama OJK dan KSSK bisa mendorong:
- Pedoman pemanfaatan alternative data untuk kredit UMKM
- Prinsip transparansi model AI (kenapa nasabah ditolak/diterima)
- Batasan supaya AI tidak bias pada sektor atau wilayah tertentu
Ini penting supaya inovasi AI di perbankan tetap sejalan dengan perlindungan konsumen dan stabilitas sistem keuangan.
2. Sandbox & Pilot Project Inklusi Keuangan AI-First
Regulator bisa mempercepat adopsi dengan:
- Sandbox regulasi untuk model scoring UMKM berbasis data digital
- Pilot project dengan bank besar dan BPD di daerah dengan konsentrasi UMKM tinggi
- Kolaborasi dengan pemain teknologi (fintech, e-commerce, POS) untuk data sharing yang aman dan terukur
Ini bukan lagi wacana. Negara lain sudah jalan, Indonesia sebenarnya punya modal kuat: penetrasi mobile tinggi, transaksi digital tumbuh pesat, dan UMKM mulai akrab dengan platform online.
3. Integrasi dengan Program Pemerintah untuk UMKM
Program KUR, pembiayaan ultra mikro, hingga pembiayaan hijau untuk UMKM bisa jauh lebih tepat sasaran jika didukung AI scoring dan dashboard risiko yang terpusat. Pemerintah bisa tahu:
- Sektor mana yang sebenarnya paling resilien
- Kawasan mana yang perlu intervensi tambahan
- Pola gagal bayar yang bisa diantisipasi secara kebijakan, bukan reaktif
Contoh Praktis: Journey UMKM dengan Bank yang Sudah Pakai AI
Biar nggak abstrak, bayangkan alur berikut sebagai versi baru digital banking untuk UMKM:
-
Pendaftaran via aplikasi
Pelaku UMKM mengisi data dasar, lalu menghubungkan:- Akun marketplace
- Rekening bank
- E-wallet atau payment gateway
-
Analisis otomatis dengan AI
Dalam hitungan menit, sistem menghitung:- Rata-rata omzet bulanan
- Musim ramai dan sepi
- Stabilitas arus kas
- Pola pengeluaran dan pembayaran supplier
-
Penentuan limit & bunga personal
Aplikasi langsung menampilkan:- Plafon kredit yang wajar
- Estimasi cicilan
- Simulasi skenario (kalau cicilan mundur, apa konsekuensinya)
-
Monitoring berkelanjutan
Setelah kredit cair, AI terus memantau:- Kalau omzet naik stabil: bank bisa tawarkan top up
- Kalau omzet turun: bank bisa kirim notifikasi saran, atau ajakan review ulang jadwal cicilan
-
Chatbot berbasis AI berbahasa Indonesia
UMKM bisa tanya apa saja di aplikasi:- “Kalau saya tambah karyawan 2 orang, cicilan masih aman nggak?”
- “Omzet saya bulan ini turun, apa opsi yang saya punya?”
Ini inti dari AI dalam industri perbankan Indonesia: Era Digital Banking. Bukan sekadar aplikasi kelihatan modern, tapi proses pengambilan keputusan kredit yang benar-benar berubah.
Langkah Nyata untuk Bank & Pelaku UMKM
Untuk Bank dan Pelaku Industri Keuangan
Kalau Anda di sisi bank atau lembaga keuangan, beberapa langkah realistis yang bisa mulai digarap 3–6 bulan ke depan:
- Audit internal: seberapa besar porsi kredit UMKM yang ditolak karena “data kurang lengkap”?
- Identifikasi sumber data alternatif yang sudah tersedia (misalnya kerja sama dengan payment gateway atau e-commerce)
- Bangun pilot model AI untuk satu segmen UMKM dulu, bukan langsung semua
- Invest di kapabilitas data science dan model governance khusus kredit UMKM
Untuk UMKM yang Butuh Pendanaan
Buat pelaku UMKM, trennya jelas: bank akan makin mengandalkan data digital. Jadi beberapa hal ini sangat membantu:
- Pakai satu atau dua rekening utama untuk usaha, jangan tercampur dengan rekening pribadi
- Mulai catat transaksi dengan aplikasi kasir atau pencatatan sederhana
- Aktif di kanal pembayaran digital, bukan hanya tunai
- Jaga reputasi pembayaran tagihan, karena ini akan jadi bagian dari “jejak kredit” Anda
Semakin rapi jejak digital keuangan Anda, semakin mudah AI di bank membaca bahwa usaha Anda layak mendapat modal.
Penutup: Dari Kontraksi ke Peluang, Tergantung Cara Kita Merespons
Kontraksi kredit UMKM sebesar 0,64% di akhir 2025 adalah sinyal keras bahwa model lama sudah tidak cukup. Kalau responsnya hanya mengetatkan syarat dan menunggu situasi membaik, angka ini bisa makin dalam.
Ada jalur lain yang jauh lebih sehat: menggunakan AI dan data digital untuk memperluas inklusi keuangan UMKM, sambil tetap menjaga kualitas kredit. BI sudah menyoroti masalahnya, sekarang giliran bank, fintech, dan pelaku UMKM sendiri untuk mengambil langkah konkret.
Era digital banking di Indonesia akan dinilai bukan dari seberapa keren aplikasinya, tapi dari seberapa besar ia bisa mengalirkan kredit berkualitas ke jutaan UMKM yang selama ini terpinggirkan. Pertanyaannya sederhana: apakah Anda mau jadi bagian dari gelombang bank yang memakai AI untuk menumbuhkan UMKM, atau tetap bertahan di model lama sampai portofolio mengecil sendiri?