Bunga deposito BRI, Mandiri, BNI tampak biasa. Bedanya, sekarang AI mulai mengatur cara bunga dan produk deposito ditawarkan ke tiap nasabah di era digital banking.

AI & Bunga Deposito: Strategi Baru BRI, Mandiri, BNI
Suku bunga BI sudah beberapa bulan bertahan di 4,75%, dan suku bunga deposito BRI, Mandiri, dan BNI per 15/12/2025 juga nyaris tak bergerak. Di atas kertas, angkanya kelihatan biasa saja: kisaran 2,25%–2,75% per tahun untuk deposito rupiah. Tapi di belakang layar, cara bank menentukan dan menawarkan bunga deposito pelan-pelan berubah: makin bergantung pada data dan AI.
Ini penting buat dua sisi: nasabah yang ingin imbal hasil lebih optimal, dan bank yang lagi agresif bertransformasi ke digital banking sambil mengejar inklusi keuangan. AI jadi jembatan di tengah: membantu bank menyesuaikan bunga dan fitur deposito ke profil tiap nasabah, bukan sekadar angka flat yang sama untuk semua.
Di tulisan ini, kita bahas tiga hal: gambaran bunga deposito terkini di BRI, Mandiri, BNI; bagaimana AI bisa mengubah cara produk deposito dirancang dan ditawarkan; dan apa artinya buat kamu sebagai nasabah di era digital banking Indonesia.
Gambaran Bunga Deposito BRI, Mandiri, BNI per Desember 2025
Secara makro, posisi suku bunga deposito BUMN besar saat ini dipengaruhi keputusan BI yang menahan BI Rate di 4,75%. Hasilnya, bunga deposito di banyak bank, termasuk BRI, Mandiri, dan BNI, cenderung datar dibanding November 2025.
Kisaran bunga deposito saat ini
Angka detail tiap bank bisa berbeda per tenor dan nominal, tapi dari data yang tersedia:
- Bank Mandiri
- Tenor 1–3 bulan: sekitar 2,25% per tahun
- Tenor 6–12 bulan: sekitar 2,50% per tahun
- Bank BNI
- Bunga termurah: sekitar 2,25% per tahun
- Bunga tertinggi (tenor panjang 12–24 bulan): sekitar 2,75% per tahun
- Bank BRI
- Menyediakan tenor fleksibel 1–36 bulan
- Bunga bervariasi, biasanya bersaing di kisaran yang mirip dua bank BUMN lain
Pola besarnya sama: tenor makin panjang, bunga cenderung lebih tinggi, dan ketiga bank memilih menahan suku bunga deposito di Desember 2025.
Kenapa bunga deposito bank BUMN “adem-ayem”?
Jawabannya kombinasi tiga faktor:
- BI Rate stabil → Bank tak perlu buru-buru menaikkan bunga dana pihak ketiga.
- Stabilitas rupiah & inflasi terjaga → Fokus BI masih ke stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.
- Likuiditas bank relatif longgar → Bank tak perlu bersaing agresif melalui bunga deposito tinggi.
Selama bertahun-tahun, penyesuaian bunga deposito sangat bergantung pada rapat dewan gubernur BI. Sekarang, faktor lain pelan-pelan ikut menentukan: analitik data dan AI yang membantu bank melihat perilaku nasabah lebih detail.
Dari Bunga Flat ke Personalisasi: Di Sini Peran AI
Bunga deposito tradisional itu generik: semua nasabah dengan tenor yang sama dapat bunga yang sama, berapapun profil risiko dan loyalitasnya. Dalam era AI di perbankan Indonesia, pendekatan ini mulai terasa ketinggalan.
AI memungkinkan bank menawarkan deposito yang lebih personal, misalnya bunga berbeda untuk:
- Nasabah yang selalu rollover deposito
- Nasabah UMKM yang pakai banyak produk bank (giro, kredit, payroll)
- Nasabah ritel digital yang aktif di mobile banking tapi dananya mengendap di tabungan biasa
Contoh skenario personalisasi berbasis AI
Bayangkan kamu nasabah BNI yang:
- Selalu menaruh dana > Rp200 juta di tabungan
- Jarang tarik tunai besar
- Belum punya deposito sama sekali
Model AI di sisi bank bisa membaca pola ini sebagai “nasabah konservatif dengan dana idle”. Sistem lalu secara otomatis:
- Menghitung potensi imbal hasil jika dana itu dipindah ke deposito
- Menawarkan bunga sedikit lebih tinggi atau promo tenor tertentu
- Mengirimkan rekomendasi personal via aplikasi BNI Mobile Banking: misalnya “Deposito 6 bulan dengan bunga X%, simulasi imbal hasil Rp Y”.
Nasabah yang dulu pasif, tiba-tiba dapat tawaran yang relevan, jelas, dan mudah dieksekusi dari ponsel. Bank mendapatkan dana yang lebih stabil, nasabah mendapatkan imbal hasil lebih baik. Menang dua arah.
Apa saja yang dianalisis AI untuk produk deposito?
Beberapa sinyal yang biasanya dipakai model analitik dan AI:
- Perilaku saldo: seberapa sering saldo naik-turun, pola gaji, dan pengeluaran
- Produk yang sudah dipakai: kartu kredit, kredit rumah, payroll, dan lainnya
- Respons terhadap promo sebelumnya: kalau kamu sering ambil promo, bank tahu kamu price sensitive
- Segmentasi risiko & profitabilitas: seberapa besar nilai jangka panjangmu bagi bank
Dari sini, bank bisa membuat “dynamic pricing” untuk deposito: bunga atau hadiah (reward) yang berbeda antar segmen, bukan satu angka untuk semua.
AI, Inklusi Keuangan, dan Deposito Digital
Satu hal yang sering dilupakan: deposito bukan cuma produk orang kota yang datang ke cabang. Di era digital banking, deposito bisa jadi pintu masuk inklusi keuangan buat jutaan orang yang sebelumnya hanya menabung di bawah bantal.
AI membantu di tiga area besar: edukasi, akuisisi, dan pengelolaan risiko.
1. Edukasi lewat chatbot & asisten virtual
Buat banyak orang, istilah tenor, penalti pencairan awal, pajak bunga itu membingungkan. Chatbot berbasis AI dalam bahasa Indonesia (bahkan bahasa daerah) bisa menjelaskan dengan gaya ngobrol:
- “Kalau kamu taruh Rp10 juta di deposito 12 bulan dengan bunga 2,5% per tahun, estimasi bunga kotornya sekitar Rp250 ribu, sebelum pajak.”
- “Kalau kamu cairkan sebelum jatuh tempo, biasanya kena penalti atau bunga tidak dibayar penuh.”
Chatbot di aplikasi BRI, Mandiri, BNI, dan bank digital lainnya bisa:
- Menjawab pertanyaan 24/7 tanpa nasabah harus ke cabang
- Menghitung simulasi deposito real-time
- Membantu nasabah membandingkan tenor dan jumlah setoran
Ini langsung mendorong literasi keuangan dan membuat deposito terasa tidak menakutkan bagi pemula.
2. Akuisisi nasabah baru yang sebelumnya “tidak kelihatan”
AI juga dipakai untuk mengidentifikasi calon nasabah yang sebelumnya tak tersentuh, misalnya:
- Pekerja lepas yang pendapatannya fluktuatif
- Pelaku usaha kecil yang transaksi lewat e-wallet dan QRIS
- Anak muda yang selama ini cuma pakai e-money dan dompet digital
Dengan menganalisis data transaksi digital (tentu saja dengan aturan perlindungan data yang ketat), bank bisa tahu siapa yang sebenarnya punya kapasitas menabung, lalu menawarkan micro-deposito atau deposito berjangka kecil dengan nominal mulai dari ratusan ribu saja via aplikasi.
Hasilnya:
- Inklusi keuangan naik
- Masyarakat kecil punya akses ke produk yang aman dan dijamin LPS
- Bank mendapatkan basis dana yang lebih luas dan terdiversifikasi
3. Manajemen risiko yang lebih akurat
Banyak bank dulu enggan membuka produk deposito fleksibel (misalnya bisa top up atau tarik sebagian) karena kompleks di sisi risiko likuiditas. AI mengubah perhitungan ini.
Dengan model prediksi berbasis data historis, bank bisa memperkirakan:
- Berapa persen nasabah biasanya mencairkan deposito sebelum jatuh tempo
- Kapan puncak pencairan terjadi (misalnya musim Lebaran, sekolah, akhir tahun)
Dari sini, bank bisa berani meluncurkan produk deposito yang lebih ramah nasabah:
- Fitur tarik sebagian tanpa menutup seluruh deposito
- Deposito otomatis diperpanjang (auto-rollover) dengan notifikasi cerdas
- Skema step-up rate (bunga naik tiap beberapa bulan untuk yang tidak mencairkan lebih awal)
Semua ini jauh lebih mudah dikendalikan ketika bank punya alat prediksi yang kuat berbasis AI.
Masa Depan: Bunga Deposito Dinamis & Total Experience Digital
Kalau hari ini bunga deposito BRI, Mandiri, dan BNI masih terlihat stabil di 2,25%–2,75%, masa depan kemungkinan jauh lebih dinamis. AI membuka kemungkinan bunga yang:
- Berbeda antar segmen nasabah
- Berubah mengikuti perilaku, bukan hanya BI Rate
- Dikemas dengan pengalaman digital yang jauh lebih halus
Beberapa tren yang sangat mungkin muncul

-
Deposito dinamis di aplikasi
Nasabah bisa melihat penawaran bunga personal di aplikasi: “Khusus kamu: deposito 6 bulan dengan bunga X% jika buka sebelum 31/12/2025”. Bukan sekadar tabel statis di website. -
Bundling dengan produk lain
Misalnya:- Bunga deposito lebih tinggi jika kamu pakai kartu kredit bank yang sama
- Bunga tambahan jika gaji masuk ke rekening itu selama 6 bulan Semua dihitung dan disesuaikan otomatis oleh model AI.
-
Rekomendasi otomatis berbasis tujuan keuangan
Ini yang menurut saya paling sehat.Nasabah masuk ke aplikasi, memilih tujuan: “DP rumah 3 tahun lagi” atau “Biaya pendidikan anak 5 tahun lagi”. AI lalu:
- Membagi strategi antara deposito, reksa dana pasar uang, atau obligasi
- Menentukan berapa porsi yang aman ditaruh di deposito BRI/Mandiri/BNI
- Menampilkan simulasi “kalau menabung sekian per bulan dengan bunga saat ini, hasil akhirnya kira-kira sekian”
Apakah bunga deposito bisa jadi lebih menarik dengan AI?
Jawaban jujur: AI tidak secara ajaib membuat bunga deposito melonjak, karena bank tetap punya batasan biaya dana, risiko, dan aturan regulator. Tapi AI bisa membuat nilai efektif yang kamu rasakan jauh lebih menarik melalui:
- Penawaran personal (bunga sedikit lebih tinggi untuk segmen tertentu)
- Produk yang lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan
- Pengalaman digital yang membuat kamu benar-benar memanfaatkan produk itu, bukan sekadar dibiarkan menganggur
Bagi bank, ini juga soal efisiensi. Semakin tepat mereka menawarkan deposito ke orang yang memang cocok, semakin efisien biaya pemasaran dan semakin sehat struktur pendanaannya.
Apa yang Sebaiknya Kamu Lakukan Sebagai Nasabah?
Di tengah suku bunga deposito BRI, Mandiri, dan BNI yang stabil dan digital banking yang makin pintar, ada beberapa langkah praktis yang menurut saya masuk akal:
-
Jangan cuma lihat angka bunga mentah
Perhatikan juga:- Tenor dan fleksibilitas pencairan
- Kemudahan pengelolaan via aplikasi
- Promo atau penawaran personal yang muncul di mobile banking
-
Aktif cek penawaran di aplikasi bank
Kalau kamu nasabah BRI, Mandiri, atau BNI, biasakan:- Buka menu investasi/deposito di aplikasi secara berkala
- Cek apakah ada penawaran bunga khusus untukmu
- Bandingkan skenario tenor 1, 3, 6, dan 12 bulan
-
Manfaatkan chatbot atau CS digital
Daripada bingung sendiri, pakai chatbot AI untuk:- Hitung simulasi deposito
- Tanya soal penalti pencairan awal
- Minta rekomendasi produk sesuai tujuan (jangka pendek, menengah, atau panjang)
-
Gabungkan deposito dengan instrumen lain
Untuk tujuan jangka menengah–panjang, deposito jarang cukup sendirian. Biasanya lebih efektif kalau digabung dengan:- Reksa dana pasar uang/pendapatan tetap
- Obligasi negara ritel
Di sinilah AI di aplikasi digital banking akan banyak membantu: memberi rekomendasi kombinasi, bukan hanya jual satu produk.
Produk deposito BRI, Mandiri, dan BNI per 15/12/2025 mungkin terlihat biasa dari sisi angka. Tapi kalau lihat dari kacamata AI dalam industri perbankan Indonesia, kita sedang masuk fase baru: fase di mana bunga, tenor, dan fitur deposito makin ditentukan oleh data tentang kamu, bukan cuma tabel suku bunga acuan.
Kalau kamu ingin benar-benar diuntungkan dari tren ini, kuncinya sederhana: jangan pasif. Manfaatkan aplikasi digital banking, cek penawaran personal, dan gunakan bantuan AI (chatbot, simulasi tujuan keuangan, rekomendasi produk) untuk membuat setiap rupiah yang kamu simpan bekerja sedikit lebih keras — tanpa keluar dari zona aman yang kamu sukai.