Bank Raya mengangkat pedagang kaki lima lewat cluster digital. Dengan AI untuk credit scoring, chatbot, dan analitik usaha, inklusi keuangan jadi makin nyata.
AI & Bank Digital: Dorong PKL Naik Kelas di 2025
Sebagian besar pedagang kaki lima di Indonesia masih sulit mengakses kredit bank, padahal mereka menggerakkan triliunan rupiah transaksi tiap tahun. Data Bank Indonesia beberapa tahun terakhir konsisten menunjukkan bahwa jutaan pelaku usaha ultra-mikro masih mengandalkan kas tunai, catatan di buku, dan pinjaman informal.
Nah, di tengah situasi itu, langkah Bank Raya membangun Cluster Unggulan untuk pedagang kaki lima (PKL) Sidodadi di Semarang jadi contoh nyata bagaimana bank digital bisa turun langsung ke jalan, bukan cuma sibuk di kantor pusat. Dan kalau ditambahkan teknologi kecerdasan buatan (AI), dampaknya bisa jauh lebih besar: dari akses kredit, literasi keuangan, sampai pengelolaan usaha harian.
Tulisan ini bagian dari seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”. Fokusnya: bagaimana inisiatif seperti program TJSL Bank Raya bisa dikawinkan dengan AI untuk mendorong inklusi keuangan yang beneran terasa buat pelaku usaha kecil, terutama PKL.
Apa yang Sebenarnya Dilakukan Bank Raya untuk PKL?
Bank Raya, bank digital bagian dari BRI Group, menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis Cluster Unggulan untuk pedagang kaki lima Sidodadi di Semarang. Ini bukan sekadar bagi-bagi bantuan, tapi membangun ekosistem usaha.
Beberapa poin penting dari program tersebut:
- Fasilitas pendukung usaha untuk PKL di Cluster Sidodadi
- Pendampingan usaha dan literasi keuangan digital lewat community branch
- Edukasi pemanfaatan fitur-fitur digital seperti Saku Bisnis, QRIS Bisnis, dan Fitur Kasir di aplikasi Raya
Cluster Sidodadi ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Bank Raya sudah menggarap berbagai cluster seperti:
- Alun-Alun Kota Batu (Malang)
- Kuliner Keprabon (Surakarta)
- Pujasera Hayamwuruk (Semarang)
- Pasar Kranggan (Yogyakarta)
- Paguyuban Emak-Emak Pedagang Keprabon (Gedang Ambon) di Surakarta
- Cluster Jatiraras Cibinong, Bogor
Totalnya, sudah lebih dari 200 pelaku usaha yang diberdayakan. Di sisi pembayaran digital, QRIS Bisnis Bank Raya sudah dipakai lebih dari 11.000 merchant di 23 kota per September 2025.
Ini menarik karena bentuk dukungannya tidak berhenti di CSR seremonial. Bank Raya sambil pelan-pelan menggeser PKL dari:
“semua di kepala dan di buku catatan”
menjadi
“terekam rapi di aplikasi, tercermin di data transaksi”.
Dan data inilah yang jadi bahan bakar utama AI di perbankan.
Dari TJSL ke Inklusi Keuangan: Peran Bank Digital
Kalau kita bicara inklusi keuangan, isu utamanya sederhana:
- Pelaku usaha kecil sulit di-assess risikonya oleh bank
- Biaya layanan tradisional terlalu tinggi untuk tiket pinjaman kecil
- Literasi keuangan dan digital masih rendah
Program seperti Cluster Unggulan Bank Raya menyentuh tiga masalah ini sekaligus.
1. PKL Masuk ke Sistem Keuangan Formal
Begitu PKL mulai pakai Saku Bisnis dan QRIS Bisnis:
- Transaksi harian tercatat otomatis
- Arus kas bisa dilihat harian/mingguan/bulanan
- Rekening usaha terpisah dari rekening pribadi
Ini bukan cuma soal “keren karena pakai QRIS”. Ini soal menciptakan histori keuangan digital yang sebelumnya tidak ada. Buat bank, ini emas. Buat AI, ini bahan utama untuk analisis risiko kredit.
2. Usaha Lebih Tertib, Lebih Mudah Berkembang
Fitur seperti mass transfer, pemisahan hingga lima saku bisnis, dan Fitur Kasir bikin operasional PKL jauh lebih rapi:
- Gaji karyawan bisa dibayar otomatis (mirip payroll versi UMKM)
- Pembayaran ke supplier lebih terstruktur
- Stok dan penjualan bisa dipantau lewat satu aplikasi
Begitu usaha lebih tertib, peluang untuk naik kelas makin besar: bisa ajukan kredit, buka cabang, atau ikut pengadaan.
3. Literasi Keuangan Digital ala “Komunitas”
Bank Raya menggunakan konsep community branch dan komunitas cluster. Pendekatannya lebih gotong royong: edukasi bareng, tanya-jawab langsung, bukan cuma brosur.
Model ini cocok sekali kalau nanti disambungkan dengan chatbot AI, modul edukasi interaktif, atau simulasi keuangan berbasis aplikasi. Nanti kita bahas di bagian berikutnya.
Di Mana Posisi AI dalam Cerita PKL & Bank Digital?
Sekarang bagian paling penting buat seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia”: bagaimana AI bisa memperkuat program seperti yang dilakukan Bank Raya?
Jawabannya: di tiga area utama.
1. Penilaian Kredit Alternatif (AI Credit Scoring)
Masalah klasik PKL: nggak punya jaminan, nggak punya laporan keuangan formal. Padahal omzet hariannya mungkin jauh lebih besar dari gaji pekerja kantoran.
Dengan data transaksi dari:
- QRIS Bisnis
- Mutasi di Saku Bisnis
- Pola pembayaran ke supplier
- Rata-rata omzet per hari/minggu/bulan
AI bisa membuat model credit scoring alternatif, misalnya:
- Mengukur stabilitas omzet 6–12 bulan terakhir
- Menghitung rasio cashflow terhadap kebutuhan cicilan
- Memprediksi risiko macet berdasarkan pola penurunan/kenaikan transaksi
Jadi, walaupun PKL tidak punya agunan konvensional, bank tetap bisa memberi pinjaman yang:
- Lebih akurat risikonya
- Lebih adil besaran plafonnya
- Lebih cepat proses persetujuannya
Inilah inti inklusi keuangan berbasis AI: bukan memaksa PKL mengikuti standar korporasi, tapi memakai data aktivitas sehari-hari mereka sebagai dasar analisis.
2. Personalisasi Layanan & Rekomendasi Produk
Begitu data penggunaan aplikasi Raya terkumpul, AI bisa membantu mempersonalisasi pengalaman PKL:
- Rekomendasi jenis pinjaman: modal kerja harian, pembiayaan alat, atau KUR
- Saran menabung: misalnya menyisihkan persentase dari omzet harian secara otomatis
- Peringatan dini: “Omzet Anda turun 30% dalam 3 minggu, coba kurangi pengeluaran ini…”
Ini bisa dikemas dalam fitur seperti:
- Notifikasi pintar di aplikasi
- Dashboard kesehatan usaha sederhana: hijau (sehat), kuning (waspada), merah (butuh pendampingan)
Buat PKL, ini ibarat punya “asisten keuangan pribadi” yang selalu mengawasi arus kas tanpa perlu bayar konsultan.
3. Chatbot & Edukasi Keuangan Berbasis Bahasa Lokal
Banyak PKL yang malu bertanya soal keuangan atau teknologi. Di sinilah chatbot AI berbahasa Indonesia (bahkan campur bahasa daerah) jadi relevan.
Bayangkan chatbot di aplikasi Raya yang bisa menjawab:
- “Bedanya Saku Bisnis sama rekening biasa apa?”
- “Cara cek laporan penjualan bulan lalu gimana?”
- “Kalau mau ngajukan pinjaman modal berapa minimal omzetnya?”
Kalau dibuat dengan nada bahasa yang santai dan contoh yang dekat dengan keseharian (nasi goreng, angkringan, bakso), tingkat penerimaan PKL bakal jauh lebih tinggi.
AI juga bisa dipakai untuk:
- Menilai materi edukasi mana yang paling sering diakses
- Menyesuaikan konten literasi keuangan berdasarkan pola pertanyaan
- Memberi kuis singkat yang mengukur pemahaman pelaku usaha
Hasilnya: literasi keuangan digital naik, adopsi fitur bank digital ikut naik.
Bedah Fitur Bank Raya: Apa Manfaat Nyatanya Buat PKL?
Supaya nggak terlalu abstrak, mari pecah fitur-fitur yang disebut di program TJSL Bank Raya ke dalam manfaat praktis buat PKL.
Saku Bisnis: Dompet Digital Khusus Usaha
Saku Bisnis di aplikasi Raya berfungsi sebagai rekening khusus usaha dengan beberapa kemampuan penting:
-
Mass transfer real-time ke 10 rekening sekaligus
Cocok untuk: bayar karyawan, bayar supplier, bagi hasil partner. -
Pemisahan dana hingga 5 saku bisnis berbeda
Bisa dipakai untuk:- Pisahkan “modal”, “gaji”, “pribadi”, dan “tabungan perluasan usaha”
- Hindari kebiasaan “omzet hari ini langsung habis dibelanjakan”
-
Cek mutasi untuk pemantauan operasional
PKL bisa tahu:- Hari mana penjualan paling ramai
- Waktu transaksi terbanyak (pagi/siang/malam)
Kalau dikombinasikan dengan AI, data ini bisa dianalisis otomatis untuk rekomendasi jam buka, stok barang, sampai prediksi ramai sepi berdasarkan musim (misal Ramadan, libur Nataru, awal bulan vs akhir bulan).
QRIS Bisnis: Pembayaran Non-Tunai yang Terekam Rapi
QRIS Bisnis yang terintegrasi dengan Bank Raya sudah digunakan oleh lebih dari 11.000 merchant di 23 kota.
Manfaat langsung buat PKL:
- Terima pembayaran semua aplikasi dompet digital dan mobile banking
- Notifikasi langsung tiap ada transaksi
- Mutasi real-time dan pencairan dana bisa sampai 4 kali sehari
Buat bank dan AI:
- Terbentuk dataset transaksi yang kaya
- Bisa tahu tren penjualan per produk/jam/hari
- Bisa dipakai sebagai dasar penentuan limit kredit yang dinamis
Fitur Kasir: Langkah Pertama ke Arah “Usaha Tersistem”
Fitur Kasir di Saku Bisnis memungkinkan:
- Pencatatan penjualan per item
- Monitoring transaksi oleh pemilik maupun karyawan
Ini penting untuk PKL yang mulai punya karyawan atau cabang. Dengan Fitur Kasir, pemilik tidak perlu selalu di lokasi, tapi tetap bisa mengawasi omzet harian.
Kalau digabung dengan AI ke depan:
- Deteksi anomali transaksi (misalnya penjualan mendadak turun di satu shift)
- Saran stok berdasarkan histori penjualan
- Prediksi kebutuhan belanja bahan baku mingguan
Strategi Praktis: Jalan PKL Menuju “Naik Kelas Digital”
Buat kamu yang bergerak di PKL atau UMKM kecil, apa langkah konkret yang bisa diambil dari contoh Bank Raya ini?
1. Pisahkan Keuangan Usaha & Pribadi Sekarang Juga
Gunakan fitur seperti Saku Bisnis atau rekening usaha terpisah. Ini fondasi utama supaya:
- Arus kas usaha terlihat jelas
- Bank (atau AI mereka) bisa menilai kelayakan kredit dengan lebih akurat
2. Biasakan Semua Transaksi Terekam Digital
Minimal:
- Terima pembayaran pakai QRIS
- Catat penjualan di aplikasi kasir (bisa mulai dari fitur sederhana)
Semakin lengkap data digitalmu, semakin besar peluang dapat akses modal lebih besar dengan bunga lebih waras.
3. Manfaatkan Program Pendampingan & Literasi
Kalau ada program cluster, komunitas, atau pendampingan dari bank digital (seperti community branch Bank Raya), jangan disia-siakan. Biasanya di sana bisa dapat:
- Bantuan fasilitas usaha
- Edukasi cara pakai aplikasi keuangan
- Info program kredit yang cocok
4. Siap-Siap Hadapi Era AI di Perbankan
AI nggak akan menggantikan pedagang kaki lima. Yang terjadi justru sebaliknya: AI akan membantu PKL yang mau tercatat rapi, transparan, dan terbuka pada teknologi.
Yang perlu disiapkan:
- Mau belajar pelan-pelan pakai aplikasi
- Berani meninggalkan sedikit demi sedikit pola “semua di buku tulis”
- Menjaga konsistensi transaksi lewat kanal resmi (bukan cash tanpa jejak)
Penutup: Inklusi Keuangan Bukan Lagi Sekadar Slogan
Program Cluster Unggulan Bank Raya untuk PKL Sidodadi dan ratusan pelaku usaha lain menunjukkan satu hal penting: inklusi keuangan itu kerja lapangan, bukan cuma strategi PowerPoint.
Begitu bank digital seperti Bank Raya menggabungkan:
- Pendampingan komunitas (TJSL, community branch)
- Fitur operasional usaha (Saku Bisnis, QRIS Bisnis, Fitur Kasir)
- Dan ke depan, AI untuk credit scoring, chatbot, dan personalisasi layanan
maka PKL punya jalur nyata untuk naik kelas: dari usaha informal pinggir jalan menjadi pelaku usaha yang diakui sistem perbankan.
Bagi ekosistem perbankan Indonesia, ini arah yang sehat. AI bukan hanya dipakai untuk nasabah kelas menengah atas, tapi juga membuka pintu bagi jutaan pelaku usaha kecil yang selama ini berada di pinggir sistem.
Kalau kamu bergerak di bank, fintech, atau program pemberdayaan UMKM, sekarang momen yang tepat untuk meninjau:
Apakah data dan fitur yang sudah kamu miliki sudah benar-benar dimanfaatkan untuk inklusi keuangan berbasis AI, seperti yang mulai terlihat di inisiatif Bank Raya?