IHSG mencetak rekor, bank digital seperti AGRO mulai dilirik. Di balik euforia ini, AI diam-diam jadi mesin utama transformasi digital banking Indonesia.

IHSG Rekor & Bank Digital: Saatnya AI Masuk Gigi Tiga
IHSG tembus rekor di kisaran 8.700 per 15/12/2025. Di balik euforia window dressing dan penurunan suku bunga global, satu segmen pelan-pelan mulai naik ke panggung utama: bank digital. Salah satu yang mulai banyak dilirik adalah Bank Raya Indonesia (AGRO).
Ini menarik bukan cuma dari sisi cuan saham. Yang lebih menarik: bank digital adalah “rumah alami” untuk penerapan AI di perbankan Indonesia. Mulai dari chatbot bahasa Indonesia yang benar-benar paham nasabah, sampai penilaian kredit UMKM berbasis data, semuanya jauh lebih mudah dilakukan di platform yang sejak awal dibangun digital.
Tulisan ini membedah dua hal sekaligus:
- Kenapa momentum IHSG dan bank digital seperti AGRO penting buat ekosistem digital banking Indonesia.
- Bagaimana AI bisa jadi mesin utama yang mendorong profitabilitas, inklusi keuangan, dan minat investor di sektor ini.
1. IHSG Rekor & Bank Digital: Mengapa Momen Ini Krusial?
Lonjakan IHSG dan turunnya suku bunga global sedang membuka jalan lebar bagi saham-saham growth di sektor keuangan, termasuk bank digital.
Dari data yang dirilis, IHSG:
- Menembus level sekitar 8.680–8.776 di pekan kedua Desember 2025.
- Didukung foreign inflow setelah The Fed memangkas suku bunga pada Desember 2025.
Efeknya ke bank digital di Indonesia:
- Investor asing mulai mencari growth story baru di emerging market.
- Saham-saham blue chip dan konglomerasi sudah banyak yang mahal, sehingga bank digital terlihat lebih menarik sebagai next theme.
- Rencana IPO Superbank menambah variasi emiten bank digital dan mengangkat sentimen sektor ini.
Di tengah dinamika ini, AGRO (Bank Raya) menarik karena:
- Masih punya valuasi yang relatif murah.
- Punya dukungan ekosistem BRI.
- Sangat potensial untuk didorong oleh AI dan data-driven banking.
Realitasnya, bull market seperti sekarang sering jadi titik awal re-rating valuasi saham bank digital, apalagi kalau ada narasi teknologi dan AI di belakangnya.
2. AGRO: Valuasi Menarik, Pondasi Digital Sudah Jadi
Dari sisi valuasi, AGRO masih berada di zona yang “masuk akal” dibanding bank digital lain.
Beberapa angka penting:
- PBV AGRO: ~1,6x (per 28/11/2025).
- Rata-rata PBV bank digital: ~3,2x.
Artinya, secara sederhana:
- Pasar belum menghargai AGRO setara dengan peer bank digital lain.
- Ada ruang upside revaluasi kalau pertumbuhan kinerja dan narasi teknologi (termasuk AI) makin kuat.
Dari sisi kinerja 9M25 (Kuartal III-2025):
- Laba bersih naik 23,9% YoY menjadi sekitar Rp41,97 miliar.
- Kredit digital tumbuh 50,1% YoY, didorong produk Pinang Dana Talangan untuk Agen BRILink dan agen keuangan lain.
- Portofolio Pinang Dana Talangan mencapai Rp17,56 triliun (naik 47,9% YoY).
- Simpanan digital naik 61,4% YoY ke Rp1,75 triliun.
Dari sudut pandang investor, kombinasi ini menarik:
- Pertumbuhan laba sehat, bukan sekadar bakar uang.
- Model bisnis sudah jelas: bank digital berbasis ekosistem BRI dan agen.
- Basis dana dan kredit digital berkembang cepat.
Dari sudut pandang teknologi, ini artinya:
- AGRO sudah punya data transaksi yang padat (agen, UMKM, nasabah ritel) – bahan bakar utama untuk AI di perbankan.
- Jaringan fisik BRI + platform digital AGRO = laboratorium ideal untuk eksperimen AI yang langsung bisa di-scale.
3. Strategi O2O Bank Raya: Lahan Subur untuk AI
Keunggulan utama AGRO bukan cuma aplikasi digitalnya, tapi kombinasi online-to-offline (O2O) dengan ekosistem BRI.
Apa yang dimaksud strategi O2O di Bank Raya?
Sederhananya:
- Online: aplikasi digital Bank Raya untuk pembukaan rekening, pinjaman, dan transaksi.
- Offline: memanfaatkan jaringan BRI dan Agen BRILink di seluruh Indonesia.
Hasilnya:
- Akuisisi nasabah tidak hanya lewat iklan digital mahal, tapi juga lewat agen yang sudah dipercaya masyarakat.
- Penyaluran kredit bisa menyasar UMKM dan masyarakat di daerah yang mungkin belum tersentuh bank digital murni.
Di mana peran AI di strategi O2O ini?
Justru di sinilah AI punya ruang paling besar untuk bekerja:
-
Skoring Kredit UMKM & Agen
Dengan data transaksi dari:- Agen BRILink.
- Mutasi rekening.
- Riwayat pembayaran pinjaman.
AI bisa membangun credit scoring alternatif yang:
- Tidak hanya mengandalkan slip gaji atau agunan formal.
- Memperhitungkan pola transaksi harian, musiman, sampai pola cash flow warung.
Ini yang membuat produk seperti Pinang Dana Talangan bisa berkembang cepat namun tetap terkontrol risikonya.
-
Deteksi Fraud di Jaringan Agen
Aktivitas agen tersebar, volume transaksi besar, dan pola fraud makin canggih. AI dapat:- Mendeteksi pola transaksi tidak wajar (misal split transaksi, frekuensi abnormal, lokasi mencurigakan).
- Memberi alert dini ke tim risk dan compliance.
-
Personalisasi Penawaran di Aplikasi Digital
Nasabah yang sama bisa mendapatkan:- Limit pinjaman berbeda.
- Promo dan rekomendasi produk yang berbeda.
Berdasarkan:
- Riwayat top up e-wallet.
- Pembayaran tagihan.
- Pola penggunaan saldo.
Strategi O2O seperti milik AGRO adalah kombinasi ideal: data kaya dari lapangan + kanal digital yang fleksibel. AI bisa memanfaatkan keduanya tanpa harus membangun semuanya dari nol.
4. AI sebagai Mesin Inklusi Keuangan di Bank Digital
Kalau bicara AI dalam industri perbankan Indonesia, topik besarnya bukan sekadar efisiensi, tapi inklusi keuangan.
Bank digital seperti AGRO punya posisi strategis untuk:
- Menjangkau UMKM dan masyarakat unbanked/underbanked.
- Memberikan akses kredit kecil dan harian yang sebelumnya sulit diakses.
Contoh konkret penerapan AI untuk inklusi keuangan
-
Penilaian Kredit Alternatif (Alternative Credit Scoring)
Di luar BI Checking dan laporan keuangan formal, AI bisa menggunakan:- Data transaksi agen.
- Frekuensi dan nilai transaksi warung.
- Pola pembayaran tagihan PLN, pulsa, dan e-wallet.
Hasilnya:
- UMKM yang sebelumnya tidak “bankable” sekarang punya skor kredit yang bisa dipercaya.
- Bank bisa menetapkan limit dan tenor sesuai profil risiko dengan lebih presisi.
-
Chatbot Bahasa Indonesia untuk Edukasi Keuangan
Chatbot berbasis AI yang:- Paham bahasa Indonesia sehari-hari, bahkan campur bahasa daerah ringan.
- Menjawab pertanyaan dasar seperti cara buka rekening, bunga, biaya admin, sampai cara menghindari pinjol ilegal.
Dampaknya:
- Mengurangi barrier edukasi keuangan.
- Menghemat biaya call center.
- Tetap memberi sentuhan personal di kanal digital.
-
Rekomendasi Produk yang Tepat Sasaran
AI bisa menganalisis perilaku nasabah dan memberi rekomendasi misalnya:- “Usaha Bapak/Ibu stabil 6 bulan, kami bisa tawarkan top up limit modal kerja.”
- “Pengeluaran bulanan Anda konsisten, Anda cocok untuk produk tabungan berjangka Rp500.000 per bulan.”
Inklusi keuangan yang efektif bukan soal buka rekening massal, tapi memberi produk yang tepat ke orang yang tepat di waktu yang tepat. Di sinilah AI punya peran besar.
5. Sentimen Makro, AI, dan Minat Investor ke Bank Digital
Lingkungan makro saat ini lagi “ramah” ke saham keuangan dan bank digital yang punya narasi teknologi kuat.
Beberapa poin penting:
- Penurunan suku bunga The Fed membuka ruang penurunan biaya dana dan meningkatkan selera risiko investor global.
- Inflow asing ke emerging market, termasuk Indonesia, cenderung mencari:
- Pertumbuhan laba yang kuat.
- Valuasi yang belum terlalu mahal.
- Narasi teknologi yang credible (bukan sekadar jargon).
Di mata investor yang serius, kombinasi yang dicari kurang lebih seperti ini:
- Fundamental membaik → laba naik 20–30% YoY, NPL terkendali.
- Model bisnis jelas → misalnya fokus UMKM, ekosistem agen, digital-first.
- Narasi AI yang konkret, contohnya:
- Penghematan biaya operasional via chatbot dan otomasi back-office.
- Penurunan NPL karena credit scoring AI.
- Peningkatan fee-based income dari produk digital yang dipersonalisasi.
AGRO sudah punya beberapa kotak yang terisi:
- Pertumbuhan laba dan kredit digital sudah terdata.
- Ekosistem BRI memberi keunggulan struktural.
- Data dan infrastruktur siap untuk scale up penerapan AI.
Kalau AGRO (dan bank digital lain) mampu mengomunikasikan strategi AI mereka dengan jelas, pasar biasanya akan merespons dalam bentuk:
- Re-rating valuasi (PBV mulai mendekati rata-rata industri).
- Peningkatan minat dari investor institusi yang fokus ke fintech dan digital banking.
6. Apa Artinya untuk Pelaku Industri & Investor?

Bagian ini praktikal: apa yang sebaiknya dilakukan kalau Anda terlibat di industri perbankan, fintech, atau sedang melirik saham bank digital seperti AGRO.
Untuk manajemen bank & fintech
Fokus ke tiga area utama AI:
-
Proses kredit berbasis data
- Bangun model credit scoring AI dengan data internal (transaksi, riwayat pinjaman) + data eksternal yang legal.
- Mulai dari segmen yang sudah Anda kuasai: misalnya agen, UMKM tertentu, atau pekerja gig economy.
-
Chatbot & asisten virtual berbahasa Indonesia
- Integrasikan chatbot di aplikasi, WhatsApp, dan web.
- Latih model dengan data percakapan nyata, FAQ, dan kebijakan produk.
- Ukur dampak ke penurunan call center dan peningkatan kepuasan nasabah.
-
Fraud detection dan anti-money laundering berbasis AI
- Terapkan model untuk memantau transaksi real-time.
- Hubungkan dengan tim kepatuhan untuk quick response.
Untuk investor yang melirik saham bank digital
Beberapa checklist sederhana yang menurut saya relevan:
-
Valuasi:
Bandingkan PBV bank digital dengan rata-rata sektor. AGRO di sekitar 1,6x vs rata-rata 3,2x memberi indikasi masih ada ruang kenaikan, selama kinerja terjaga. -
Kinerja kuartalan:
Perhatikan pertumbuhan laba, kualitas kredit (NPL), dan biaya pencadangan. -
Narasi AI yang nyata, bukan gimmick:
Tanyakan (melalui paparan publik, laporan tahunan, dll.):- AI digunakan di mana saja?
- Ada angka efisiensi, penurunan NPL, atau peningkatan konversi yang jelas?
- Ada roadmap integrasi AI jangka 2–3 tahun ke depan?
-
Ekosistem:
Bank digital yang punya induk kuat (seperti BRI untuk AGRO) biasanya:- Lebih mudah mendapatkan dana murah.
- Lebih kaya data.
- Lebih cepat meng-scale produk AI ke jutaan pengguna.
Penutup: Era Baru Bank Digital adalah Era AI
IHSG yang mencetak rekor baru hanyalah latar belakang. Cerita besarnya adalah bagaimana bank digital Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk naik kelas lewat AI.
AGRO memberi contoh menarik:
- Valuasi masih relatif murah.
- Pertumbuhan laba dan kredit digital kuat.
- Ekosistem BRI membuat strategi O2O masuk akal dan scalable.
Langkah berikutnya yang akan membedakan pemenang dan pengekor di bank digital Indonesia adalah: seberapa serius mereka mengintegrasikan AI dalam tiap lapis bisnis, dari front-end (chatbot, personalisasi) sampai risk management dan operasi.
Buat pelaku industri, ini waktunya naik gigi tiga dalam transformasi digital banking berbasis AI. Buat investor, ini momen yang pas untuk lebih kritis: bukan cuma tanya "seberapa digital" satu bank, tapi "seberapa dalam AI-nya tertanam di model bisnis?"