Lonjakan Transaksi Non-Dolar & Peran AI di Bank RI

AI dalam Industri Pariwisata Indonesia: Hospitality 4.0By 3L3C

Transaksi non-dolar RI tembus Rp 369,56 T di 2025. Ini bukan sekadar berita makro, tapi peluang besar untuk AI di perbankan, bank digital, dan pariwisata.

AI perbankanlocal currency settlementbank digital Indonesiainklusi keuanganpariwisata Indonesiahospitality 4.0transaksi lintas negara
Share:

Featured image for Lonjakan Transaksi Non-Dolar & Peran AI di Bank RI

Transaksi Non-Dolar Tembus Rp 369,56 T: Sinyal Baru untuk Bank Digital

Per akhir November 2025, nilai transaksi perdagangan Indonesia yang tidak lagi memakai dolar AS lewat skema local currency settlement (LCS) sudah menembus US$ 22,13 miliar atau sekitar Rp 369,56 triliun (kurs Rp 16.699/US$). Tahun lalu di periode yang sama, angkanya baru US$ 12,5 miliar.

Lonjakan ini bukan sekadar berita makroekonomi. Ini sinyal kuat bahwa ekosistem keuangan Indonesia makin lokal, makin digital, dan makin butuh teknologi cerdas. Di balik angka LCS yang naik, ada peluang besar untuk perbankan digital, AI di perbankan, dan bahkan pariwisata Indonesia yang makin terhubung dengan pembayaran lintas negara.

Artikel ini membahas kenapa lonjakan transaksi non-dolar ini penting, bagaimana kaitannya dengan financial inclusion, peran AI di perbankan Indonesia, dan apa artinya untuk sektor seperti pariwisata dan hospitality 4.0.


Apa Itu LCS & Kenapa Tiba-Tiba Jadi Besar?

Intinya sederhana: LCS (local currency settlement) adalah mekanisme perdagangan internasional yang memakai mata uang lokal masing-masing negara, bukan dolar AS. Jadi, kalau Indonesia ekspor-impor dengan Tiongkok, pembayaran bisa pakai rupiah dan yuan. Dengan Jepang, rupiah dan yen. Dan seterusnya.

Bank Indonesia menyebut beberapa poin penting di 2025:

  • Nilai transaksi LCS year-to-date (sampai November 2025) mencapai US$ 22,13 miliar.
  • Naik jauh dari US$ 12,5 miliar di periode yang sama tahun lalu.
  • Negara mitra LCS bertambah: Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, lalu disusul Korea Selatan dan Uni Emirat Arab (UEA) di 2025.
  • Tiongkok masih mendominasi sekitar 64% total LCS, Jepang 17,8%.
  • Jumlah pelaku (bank, korporasi, dan pelaku usaha lain) sudah di kisaran 13.000–15.000.

Ini menunjukkan satu hal: pelaku usaha Indonesia makin nyaman bertransaksi lintas negara tanpa dolar. Di balik layar, bank-bank lokal dan bank digital harus memproses lebih banyak transaksi lintas mata uang, real-time, dan dengan risiko yang lebih kompleks.

Dan di titik inilah AI di perbankan mulai jadi krusial, bukan sekadar wacana.


Dari Makro ke Mikro: Dampak LCS ke Perbankan dan Inklusi Keuangan

Lonjakan transaksi LCS bukan cuma urusan BI dan korporasi besar. Ada dampak langsung ke inklusi keuangan dan layanan bank digital yang dipakai masyarakat dan UMKM.

1. Biaya dan Risiko Valas Bisa Turun

Ketika transaksi bisa langsung memakai rupiah dan mata uang mitra dagang:

  • Biaya conversion berlapis lewat dolar bisa berkurang.
  • Eksposur terhadap volatilitas USD sedikit lebih terkendali.
  • Harga untuk eksportir dan importir bisa jadi lebih kompetitif.

UMKM yang bergerak di pariwisata, misalnya operator tur di Bali yang berhubungan dengan agen di China atau Jepang, sangat diuntungkan ketika bank lokal menawarkan produk rekening multi-mata uang berbasis LCS dengan biaya lebih rendah.

2. Pintu Masuk ke Ekosistem Keuangan Digital

Semakin banyak pelaku yang terlibat di LCS (13–15 ribu pelaku), semakin besar kebutuhan:

  • Rekening digital yang mudah buka tanpa harus ke cabang.
  • KYC dan e-KYC yang cepat dan aman.
  • Aplikasi mobile banking yang bisa menangani multi-mata uang.

Ini selaras dengan tujuan financial inclusion: makin banyak pelaku usaha kecil yang sebelumnya enggan berurusan dengan bank untuk transaksi internasional, sekarang bisa ikut main karena prosesnya lebih sederhana dan user-friendly lewat kanal digital.

3. Data Transaksi Jadi “Emas Baru” untuk Kredit

Setiap transaksi LCS yang tercatat di sistem perbankan adalah data perilaku keuangan:

  • Volume transaksi ekspor-impor.
  • Stabilitas arus kas.
  • Pola pembayaran dan negara tujuan.

Data ini bisa dimanfaatkan AI credit scoring untuk menilai kelayakan kredit UMKM dan korporasi yang terlibat di ekosistem LCS. Bukan cuma mengandalkan jaminan fisik, tetapi juga rekam jejak transaksi internasional.

Bagi bank yang serius di banking berbasis AI, ini peluang besar untuk menciptakan produk pembiayaan yang lebih akurat dan inklusif.


Kenapa Era LCS Butuh AI di Perbankan Indonesia

Begitu transaksi non-dolar makin ramai, kompleksitas di sistem perbankan naik tajam. AI bukan tambahan “nice to have” lagi, tapi sudah jadi enabler utama.

1. Manajemen Risiko Valas yang Lebih Cerdas

Bank yang aktif memfasilitasi LCS harus mengelola:

  • Risiko kurs multiple currency (rupiah-yuan, rupiah-yen, rupiah-won, dan seterusnya).
  • Likuiditas multi-mata uang.
  • Eksposur harian dan intrahari.

Model AI prediktif bisa:

  • Memprediksi kebutuhan likuiditas rupiah vs mata uang mitra per hari/per musim.
  • Menganalisis pola transaksi eksportir/impor per sektor (misalnya manufaktur, pariwisata, hospitality).
  • Mengurangi mismatch dana dan menekan biaya funding bank.

2. Deteksi Fraud Lintas Negara

Semakin besar volume transaksi lintas negara, semakin besar ruang untuk:

  • Money laundering.
  • Trade-based money laundering (nilai invoice yang dimanipulasi).
  • Transaksi mencurigakan dengan negara berisiko tinggi.

AI fraud detection bisa memantau pola transaksi real-time:

  • Mendeteksi anomali pada nominal, frekuensi, atau mitra dagang.
  • Menghubungkan data transaksi LCS dengan pola di rekening domestik.
  • Mengirim alert otomatis ke tim compliance.

Ini tidak mungkin dikerjakan manual jika transaksi sudah triliunan rupiah per hari. Bank yang tidak mengadopsi AI di area ini akan kewalahan dan berisiko terkena sanksi regulator.

3. Otomatisasi Proses Trade Finance

Produk seperti LC (letter of credit), bank guarantee, dan trade finance lain selama ini identik dengan proses kertas yang rumit. Dengan LCS dan digitalisasi:

  • Dokumen bisa di-scan dan dianalisis oleh AI document understanding.
  • Validasi data (nomor invoice, tanggal, nominal, nama pihak) bisa diautomatiskan.
  • Waktu proses dari berhari-hari bisa dipangkas ke hitungan jam.

Bagi eksportir dan importir, ini berarti transaksi lebih cepat, cash flow lebih lancar. Bagi bank, berarti biaya operasional turun dan risiko human error mengecil.


Kaitan LCS, Bank Digital, dan Pariwisata: Hospitality 4.0

Sekilas, LCS terlihat seperti urusan perdagangan barang. Tapi kalau ditarik ke pariwisata Indonesia dan Hospitality 4.0, dampaknya cukup nyata.

1. Wisatawan Asing Butuh Pengalaman Pembayaran yang Mulus

Wisatawan dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, atau UEA yang datang ke Bali, Labuan Bajo, atau Danau Toba mengharapkan:

  • Bisa bayar dengan aplikasi pembayaran asal negara mereka.
  • Bisa top-up atau tarik uang di ATM lokal dengan kurs yang transparan.
  • Bisa bayar hotel, restoran, dan atraksi tanpa ribet tukar valas manual.

Saat bank-bank Indonesia terhubung lebih dalam lewat skema LCS dan correspondent banking yang lebih efisien, biaya konversi dan kecepatan settlement antar negara akan membaik.

Di sisi front-end, bank digital dan super-app pariwisata bisa memanfaatkan API perbankan untuk:

  • Menampilkan kurs real-time berbasis LCS.
  • Mengizinkan pembayaran langsung dari dompet digital luar negeri.
  • Memberi promo spesifik per negara asal wisatawan.

2. AI untuk Personalisasi Pengalaman Wisata

Dengan data transaksi lintas negara yang lebih kaya, bank dan pelaku pariwisata bisa memakai AI analytics untuk:

  • Melihat negara mana yang spending tertinggi di hotel, restoran, dan atraksi.
  • Memetakan musim kunjungan tiap negara (Golden Week Jepang, libur Imlek Tiongkok, dsb.).
  • Menawarkan paket wisata dan metode pembayaran yang paling relevan.

Contoh praktis:

  • Hotel di Bali menghubungkan sistem PMS (property management system) dengan data pembayaran bank.
  • AI mengidentifikasi bahwa tamu dari Korea Selatan cenderung belanja spa package dan F&B premium.
  • Bank dan hotel membuat penawaran bersama: diskon 10% untuk pembayaran pakai kartu dari bank mitra Korea, dengan kurs berbasis LCS yang lebih kompetitif.

Ini inti dari Hospitality 4.0: bukan cuma digital, tapi data-driven dan dipersonalisasi.

3. Inklusi Keuangan untuk Pelaku Wisata Lokal

Pelaku pariwisata kecil – homestay, penyedia tur lokal, rental motor – sering kesulitan mengakses:

  • Rekening valuta asing.
  • Fasilitas pembayaran digital lintas negara.
  • Kredit modal kerja berbasis data transaksi.

Dengan LCS dan bank digital yang ditopang AI:

  • Mereka bisa membuka rekening rupiah yang terkoneksi ke skema pembayaran internasional.
  • Setiap transaksi wisatawan asing terekam sebagai data historis yang bisa dipakai untuk credit scoring.
  • AI credit scoring menilai kelayakan bukan dari agunan, tapi dari arus kas riil dan reputasi transaksi.

Hasilnya? Inklusi keuangan pariwisata naik, terutama di destinasi-destinasi baru di luar Bali dan Jakarta.


Apa yang Perlu Dilakukan Bank & Pelaku Bisnis Sekarang?

Lonjakan transaksi non-dolar ini sedang terjadi sekarang, bukan lima tahun lagi. Kalau ingin mengambil peluangnya, beberapa langkah praktis yang masuk akal adalah:

Untuk Bank dan Fintech

  1. Bangun Kapabilitas AI Inti
    Fokus ke tiga area dulu:

    • Fraud detection transaksi LCS.
    • Credit scoring berbasis data transaksi internasional.
    • Prediksi likuiditas dan risiko valas.
  2. Integrasikan Produk LCS ke Kanal Digital

    • Tampilkan informasi LCS dan kurs di mobile banking.
    • Sediakan proses pembukaan rekening dan fasilitas trade finance serba digital.
  3. Gandeng Pelaku Pariwisata dan Ekspor Jasa

    • Buat skema pembayaran khusus wisatawan negara mitra LCS.
    • Tawarkan paket pembiayaan ke hotel, restoran, dan operator tur berbasis analitik AI.

Untuk Pelaku Pariwisata & UMKM Ekspor Jasa

  1. Formal-kan Transaksi di Kanal Perbankan Digital
    Semakin banyak data transaksi yang tercatat, semakin mudah mendapat akses kredit di kemudian hari.

  2. Gunakan Layanan Bank yang Sudah Terhubung LCS
    Tanyakan ke bank: apakah sudah mendukung transaksi dengan Tiongkok, Jepang, Korea, atau UEA lewat skema LCS.

  3. Manfaatkan Data Penjualan untuk Negosiasi dengan Bank
    Bawa data transaksi, bukan hanya proyeksi. Bank dengan AI credit scoring akan jauh lebih responsif terhadap data nyata.


Penutup: LCS, AI, dan Masa Depan Bank Digital Indonesia

Lonjakan transaksi non-dolar Indonesia ke Rp 369,56 triliun sepanjang 2025 menunjukkan satu tren jelas: ekonomi kita bergerak ke arah yang lebih terintegrasi secara regional dan lebih digital.

Bagi perbankan Indonesia, terutama yang sedang membangun kapabilitas AI dan bank digital, ini peluang besar:

  • Mengelola risiko valas dan likuiditas dengan lebih presisi.
  • Memperluas inklusi keuangan ke UMKM dan pelaku pariwisata.
  • Mendukung Hospitality 4.0 dengan pengalaman pembayaran lintas negara yang mulus dan aman.

Siapa pun yang bisa menggabungkan LCS + digital banking + AI dengan ekosistem riil seperti pariwisata, akan jadi pemain yang paling diingat nasabah dalam beberapa tahun ke depan.

Pertanyaannya sekarang: apakah bank dan bisnis Anda sudah siap memanfaatkan era transaksi non-dolar ini, atau masih memperlakukan AI sekadar proyek percobaan?