Disney investasi USD 1 miliar di OpenAI. Dari sini, bank, hotel, dan pelaku pariwisata Indonesia bisa belajar cara serius membangun strategi AI generatif.
Disney Taruh Rp15 Triliun di AI, Lalu Apa Urusannya dengan Bank & Hotel di Indonesia?
Walt Disney Co baru saja mengumumkan investasi sekitar USD 1 miliar (lebih dari Rp15 triliun) ke OpenAI. Bukan sekadar taruh uang, lewat kerja sama ini pengguna aplikasi Sora bakal bisa membuat video pendek dengan lebih dari 200 karakter Disney, Marvel, Pixar, dan Star Wars secara legal.
Buat industri hiburan, ini jelas langkah besar. Tapi buat saya, sinyal terbesarnya justru ke arah lain: kalau level Disney saja all-in di AI generatif, tidak ada lagi alasan perbankan dan pariwisata Indonesia berjalan pelan-pelan.
Artikel ini bagian dari seri “AI dalam Industri Pariwisata Indonesia: Hospitality 4.0”, tapi sudut pandangnya saya geser sedikit: kita pakai Disney–OpenAI sebagai “contoh nyata” untuk membedah apa yang bank, hotel, OTA, dan pelaku pariwisata Indonesia bisa lakukan dengan AI generatif, mulai dari fraud detection, chatbot perbankan & hotel, sampai personalisasi pengalaman tamu.
Apa Sebenarnya yang Disney Beli dari OpenAI?
Intinya, Disney membeli kapabilitas kreatif skala besar yang sulit mereka bangun sendiri dalam waktu singkat.
Dari berita CNBC Indonesia:
- OpenAI meluncurkan Sora (model AI pembuat video) pada September.
- Pengguna cukup mengetikkan perintah teks, Sora menghasilkan video pendek.
- Lewat perjanjian lisensi 3 tahun, Sora legal memakai lebih dari 200 karakter Disney, Marvel, Pixar, Star Wars.
Artinya apa?
-
Disney mengubah cara produksi konten
Bukan lagi hanya studio dan animator yang bisa bikin konten bernuansa Disney, tapi juga kreator, brand, bahkan fans — dengan kontrol hak cipta tetap di tangan Disney. -
Monetisasi IP jadi jauh lebih luas
Lisensi karakter + AI video = ribuan konten baru, campaign, dan pengalaman interaktif tanpa perlu merekrut ribuan orang baru. -
Uji coba AI generatif skala besar di industri yang sangat ketat soal IP
Hollywood terkenal sensitif dengan hak cipta. Kalau mereka saja mulai mengadopsi AI generatif, sektor lain bakal ikut.
Pelajarannya: Disney tidak sekadar beli teknologi, tapi membangun ekosistem baru di atas AI. Ini pola yang bisa ditiru bank dan pelaku pariwisata.
Paralel ke Bank & Hospitality: AI Bukan Lagi “Nice to Have”
Di Indonesia, kita sudah lihat bank dan pelaku pariwisata mulai pakai AI, tapi sebagian masih di level “coba-coba”:
- Chatbot di aplikasi mobile banking yang kadang hanya jadi FAQ terbungkus UI cantik.
- Hotel pakai AI hanya untuk chatbot reservation di website.
- OTA memakai rekomendasi destinasi yang masih sangat generik.
Kalau dibandingkan dengan langkah Disney, gap-nya jelas:
Disney: “Bagaimana AI bisa mengubah cara kami menciptakan dan memonetisasi pengalaman?”
Sebagian pelaku lokal: “Bagaimana AI bisa menurunkan cost call center?”
Keduanya sah, tapi fokus pertama jauh lebih strategis.
Untuk perbankan dan pariwisata Indonesia — terutama di era digital banking dan Hospitality 4.0 — pertanyaannya harus naik kelas:
“Kolaborasi AI seperti apa yang mampu mengubah cara kita melayani nasabah dan tamu secara personal, aman, dan berkelanjutan 3–5 tahun ke depan?”
Pelajaran Kunci dari Disney–OpenAI untuk Bank Digital
1. Bangun Ekosistem, Bukan Hanya Beli Tools
Disney tidak hanya membeli lisensi software. Mereka:
- mengunci kolaborasi 3 tahun,
- mengatur lisensi IP secara jelas,
- dan memikirkan model bisnis baru di atas Sora.
Bank dan fintech di Indonesia bisa meniru pola ini:
-
Kemitraan strategis dengan startup AI lokal/global
Misalnya, kerja sama 3–5 tahun dengan perusahaan AI untuk:- model fraud detection khusus transaksi Indonesia,
- model scoring kredit untuk UMKM pariwisata (hotel, homestay, tour operator),
- analitik perilaku nasabah untuk produk tabungan/ritel.
-
Sandbox & co-creation
Bukannya beli produk jadi, bank menyiapkan sandbox data anonim untuk mengembangkan model bersama mitra AI. Hasilnya lebih relevan untuk perilaku nasabah lokal.
2. Gunakan AI Generatif untuk Personalisasi, Bukan Sekadar Chatbot
Sora dipakai untuk membuat konten video yang sangat spesifik. Pola yang sama berlaku di banking dan hospitality:
-
Perbankan ritel
AI generatif bisa membuat:- Penjelasan produk dalam bahasa sederhana, menyesuaikan profil nasabah.
- “Ringkasan keuangan bulanan” dalam bentuk narasi, bahkan video pendek edukasi keuangan.
-
Hotel & resort
Bayangkan hotel di Bali yang kirim video itinerary personal ke tamu sebelum datang:- rekomendasi tempat makan halal,
- spot sunrise yang cocok untuk keluarga,
- aktivitas ramah anak, semua dirangkai otomatis oleh AI dari preferensi tamu dan histori booking.
Ini jenis personalisasi yang benar-benar terasa, bukan sekadar “Dear Bapak/Ibu [Nama]” di email massal.
3. Lindungi Data & Hak Cipta dari Hari Pertama
Disney sangat vokal soal hak cipta. Mereka tidak akan melepas karakter Disney begitu saja ke model AI tanpa perjanjian lisensi detail.
Bank & pelaku pariwisata Indonesia harus sama ketatnya, terutama di:
-
Perlindungan data nasabah & tamu:
- pastikan data yang dipakai melatih model AI dienkripsi dan dianonimkan,
- atur dengan jelas apakah vendor AI boleh memakai data untuk melatih model mereka.
-
Kepemilikan model & output:
- siapa punya hak atas model yang dilatih dengan data transaksi bank?
- bagaimana jika terjadi kebocoran atau bias keputusan kredit?
Semakin cepat ini diatur, semakin kecil risiko “drama” hukum di kemudian hari.
Hospitality 4.0: Dari Chatbot Biasa ke “Disney-fied Experience”
Di seri Hospitality 4.0, kita bicara banyak soal:
- personalisasi pengalaman wisatawan,
- revenue management hotel,
- prediksi tren destinasi,
- chatbot multilingual.
Nah, apa yang dilakukan Disney bisa menjadi template mental untuk pelaku pariwisata Indonesia.
Contoh Konkret di Industri Pariwisata RI
-
Chatbot Multilingual yang Benar-Benar Membantu
Belajar dari Sora, model AI yang kuat mampu memahami konteks dan gaya bahasa.Hotel atau OTA Indonesia bisa membangun chatbot yang:
- fasih berbahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang,
- mengerti konteks budaya: halal, libur sekolah, hari besar nasional,
- bisa menyusun paket wisata dan jadwal perjalanan lengkap, bukan cuma jawab FAQ.
-
Konten Promosi Destinasi yang Dipersonalisasi
Kalau Sora bisa bikin video Marvel dalam hitungan menit, pelaku pariwisata bisa:- membuat video pendek personal untuk wisatawan yang tertarik ke Labuan Bajo, Bali, atau Likupang,
- menyesuaikan angle konten untuk:
- backpacker,
- keluarga dengan anak kecil,
- pasangan honeymoon.
-
Virtual Experience Sebelum Perjalanan
Disney memanfaatkan IP mereka di dunia digital, bank dan hotel bisa memanfaatkan data & aset visual mereka:- tur virtual 30–60 detik kamar hotel berdasarkan preferensi tamu,
- simulasi pengalaman naik kapal wisata, snorkeling, atau spa.
Semua ini bisa ditenagai AI generatif yang mirip konsep Sora, meskipun teknologinya tidak harus sama persis.
Di Balik Layar: AI untuk Keamanan & Operasional Bank dan Hotel
AI yang tampak oleh pelanggan biasanya berupa chatbot atau konten video, tapi dampak bisnis terbesar sering justru ada di belakang layar.
1. Fraud Detection & Keamanan Transaksi
Bank di Indonesia menghadapi:
- social engineering,
- phising,
- transaksi mencurigakan lintas platform.
Model AI modern bisa:
- menganalisis pola transaksi real-time,
- memberi skor risiko dalam milidetik,
- memicu verifikasi tambahan bila ada kejanggalan.
Ini sama seperti Disney mengontrol bagaimana karakter mereka dipakai Sora. Di perbankan, AI mengontrol bagaimana transaksi bergerak di sistem.
2. Revenue Management Hotel dan OTA
AI tidak hanya menebak-nebak harga. Model yang serius akan mempertimbangkan:
- data okupansi historis,
- musim liburan nasional (Lebaran, Natal, Tahun Baru),
- event besar (konser, konferensi, MotoGP Mandalika),
- data kompetitor (range tarif di area sekitar).
Dari situ, AI bisa menyarankan:
- kapan harga dinaikkan/turunkan,
- paket bundling yang lebih laku (misalnya, kamar + sarapan + shuttle bandara),
- channel mana yang paling efektif (OTA A, OTA B, direct booking).
3. Operasional Harian yang Lebih Rapi
- Bank: otomatisasi proses KYC, verifikasi dokumen, pengelompokan tiket komplain, hingga routing ke tim yang tepat.
- Hotel: penjadwalan housekeeping, prediksi kebutuhan linen, sampai rekomendasi penambahan staf saat high season.
Persis seperti Disney yang memakai AI untuk produksi konten lebih cepat, bank dan hotel bisa memakai AI untuk mengurangi beban kerja manual repetitif.
Langkah Praktis: Dari “Tahu AI” ke “Pakai AI Beneran”
Buat manajemen bank, fintech, hotel, atau OTA yang serius mau mengikuti jejak Disney (dengan versi yang realistis), saya biasanya menyarankan alur seperti ini:
-
Pilih 1–2 Use Case Prioritas
Jangan langsung semuanya. Fokus di area yang:- dampaknya besar,
- datanya sudah relatif rapi.
Contoh:
- bank: chatbot layanan nasabah + fraud detection dasar,
- hotel: chatbot reservasi + rekomendasi harga dinamis.
-
Cari Partner AI, Bukan Vendor Saja
Mirip pola Disney–OpenAI:- buat kerja sama jangka menengah (3 tahun) dengan ruang iterasi,
- siapkan tim internal yang bisa “ngobrol nyambung” dengan tim AI.
-
Bangun Data Foundation
Tanpa data yang rapi, AI cuma jadi demo cantik.- bersihkan data nasabah/tamu,
- satukan sumber data (app, website, call center),
- tentukan standar privasi & anonimisasi.
-
Mulai Pilot Terbatas, Lalu Skala
Uji di segmen kecil:- nasabah tertentu,
- satu properti hotel dahulu,
- satu destinasi wisata.
Kumpulkan metrik: NPS, waktu respon, penurunan komplain, peningkatan booking.
-
Jangan Lupa Aspek Etika & SDM
- siapkan SOP pengawasan AI,
- latih staf untuk bekerja berdampingan dengan AI, bukan digantikan mentah-mentah.
Penutup: Kalau Disney Saja Berani, Kenapa Kita Masih Ragu?
Investasi USD 1 miliar dari Walt Disney ke OpenAI memberi pesan sederhana: AI generatif bukan eksperimen lagi, tapi bagian inti strategi bisnis global.
Untuk Indonesia, terutama di perbankan digital dan industri pariwisata/Hospitality 4.0, momen ini bisa jadi titik balik. Bukan sekadar mengikuti tren, tapi menyusun:
- kemitraan AI yang serius,
- model bisnis baru yang lebih personal,
- dan pengalaman nasabah/tamu yang terasa “ajaib”, seperti standar Disney, tapi dengan cita rasa lokal.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “perlu AI atau tidak”, tapi:
“Use case mana yang akan Anda jalankan duluan di 6–12 bulan ke depan, sebelum kompetitor Anda yang melakukannya?”