BNI, Film ‘Timur’, dan Masa Depan AI Banking Kreatif

AI dalam Industri Pariwisata Indonesia: Hospitality 4.0By 3L3C

Dukungan BNI ke film ‘Timur’ bukan cuma urusan sponsor. Ini pintu masuk ke AI banking untuk ekonomi kreatif dan pariwisata, dari credit scoring hingga hospitality 4.0.

BNIekonomi kreatifAI perbankanfilm Timurdigital bankingpariwisata IndonesiaHospitality 4.0
Share:

Featured image for BNI, Film ‘Timur’, dan Masa Depan AI Banking Kreatif

BNI, Film ‘Timur’, dan Wajah Baru Perbankan Kreatif

Sebagian besar bank sibuk kejar segmen korporasi dan consumer massal. BNI memilih langkah sedikit beda: turun langsung ke dunia film lewat dukungan ke ‘Timur’, debut penyutradaraan Iko Uwais yang tayang nasional mulai 18/12/2025.

Ini bukan sekadar sponsor logo muncul di poster. Ada rangkaian meet and greet, nonton bareng, hingga booth aktivasi di Surabaya, Semarang, dan Bandung. Hadir pula nama besar seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai Executive Producer, plus Uwais Team dengan koreografi laga khas mereka.

Kenapa ini menarik buat kita yang lagi ngomongin AI dalam industri perbankan dan pariwisata (Hospitality 4.0)? Karena cara BNI mendekat ke ekosistem kreatif ini nyambung banget dengan arah digital banking dan financial inclusion di Indonesia, terutama untuk pelaku industri kreatif dan pariwisata yang selama ini sering “abu-abu” secara finansial.

Di artikel ini, saya mau bahas tiga hal:

  • Kenapa dukungan ke film seperti ‘Timur’ itu sebenarnya strategi perbankan digital, bukan cuma CSR
  • Bagaimana AI di perbankan bisa bantu ekosistem kreatif & pariwisata, dari aktor sampai pelaku hotel dan travel
  • Apa peluang konkret buat pelaku industri kreatif dan hospitality yang mau naik kelas pakai solusi digital & AI banking

Dari Premiere ‘Timur’ ke Strategi BNI di Ekonomi Kreatif

Intinya, dukungan BNI ke film ‘Timur’ adalah cara mereka mempertegas posisi sebagai bank yang serius di ekonomi kreatif, bukan cuma penonton.

Beberapa poin penting dari rangkaian kegiatan ‘Timur’:

  • Roadshow 13–14/12/2025 di Surabaya, Semarang, Bandung
  • Format meet and greet + nonton bareng bareng para pemain dan kru Uwais Pictures
  • Booth aktivasi di Semarang untuk interaksi langsung dengan nasabah dan calon nasabah
  • Hadir nama besar: Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Jimmy Kobogau, Auffa Assegaf, Yentonius Jerriel Ho

Dari kacamata branding, ini jelas memperkuat citra BNI sebagai bank yang dekat dengan anak muda dan penikmat film laga-drama keluarga. Tapi dari kacamata strategi bisnis, ada hal yang lebih menarik:

Industri film adalah salah satu subsektor ekonomi kreatif dengan rantai nilai panjang: dari penulis skenario, rumah produksi, talent agency, promotor, bioskop, sampai pariwisata.

Begitu sebuah film lokal seperti ‘Timur’ sukses:

  • Lokasi syuting bisa jadi destinasi wisata baru
  • Merch & IP (hak kekayaan intelektual) bisa berkembang ke event, festival, sampai theme attraction
  • Terbuka peluang bundling dengan hotel, restoran, dan travel (misalnya paket wisata “Jejak Lokasi Film Timur”)

Semua ini butuh layanan keuangan yang gesit, digital, dan paham pola pendapatan musiman, bukan sekadar rekening konvensional.


Mengapa Industri Kreatif & Pariwisata Butuh Bank yang “Melek AI”

Pelaku kreatif dan pariwisata di Indonesia sering menghadapi masalah yang sama:

Article image 2

  • Pendapatan tidak stabil: musiman, project-based, sangat tergantung rilis film, event, high season wisata
  • Tidak punya riwayat kredit rapi seperti pegawai kantoran
  • Banyak transaksi tunai atau via platform digital yang tidak selalu tercatat rapi di sistem bank tradisional

Dari sudut pandang bank konservatif, profil seperti ini dianggap berisiko tinggi. Akibatnya:

  • Sulit dapat pinjaman modal
  • Sulit dapat kartu kredit atau KUR
  • Sulit membangun skor kredit yang sehat

Di sinilah AI perbankan mulai terasa relevan.

1. AI untuk Credit Scoring Pelaku Kreatif

Alih-alih hanya mengandalkan slip gaji dan jaminan fisik, AI-based credit scoring bisa membaca:

  • Riwayat transaksi digital (e-wallet, marketplace, platform tiket, pembayaran hotel)
  • Pola pendapatan musiman (misalnya naik drastis saat musim film, festival, atau libur panjang)
  • Reputasi dan konsistensi proyek (misalnya keterlibatan berulang dalam produksi film atau event tertentu)

Buat pemain seperti BNI yang aktif di ekosistem film:

  • Data transaksi dari penjualan tiket, kerja sama merchant, dan aktivitas digital bisa dipakai sebagai input model AI
  • Hasilnya: pelaku kreatif yang dulu dianggap “tidak bankable” bisa dinilai lebih akurat risikonya

2. AI untuk Personalisasi Produk Keuangan

Kebutuhan keuangan sutradara film beda dengan kebutuhan manajer hotel bintang lima. AI bisa membantu bank:

  • Mengelompokkan nasabah kreatif & pariwisata berdasarkan pola transaksi
  • Menawarkan produk yang tepat waktu: misalnya kredit modal kerja menjelang high season, atau fitur tabungan otomatis setelah rilis film
  • Menyusun limit & tenor dinamis berdasarkan proyeksi cashflow, bukan hanya snapshot data saat pengajuan

Dampaknya buat pelaku industri:

  • Produk keuangan terasa lebih relevan dan tidak memberatkan
  • Mudah mengelola arus kas yang naik-turun sepanjang tahun

3. AI Chatbot untuk Pelaku Wisata & Kreatif

Dalam konteks Hospitality 4.0, pelaku hotel, travel agent, hingga penyelenggara festival film mulai terbiasa dengan:

  • Chatbot reservasi multilingual
  • Notifikasi otomatis ke tamu
  • Rekomendasi paket wisata personal

Bank yang “satu frekuensi” dengan ekosistem ini akan:

  • Menyediakan chatbot perbankan 24/7 yang bisa bantu urusan rekening bisnis, tagihan, sampai pengajuan pinjaman ringan
  • Mengintegrasikan fitur keuangan ke aplikasi yang sudah dipakai pelaku industri, misalnya payment link, BNPL, atau escrow untuk project film

BNI yang sudah aktif di banyak event olahraga dan kreatif (balap, badminton, film) sebenarnya punya posisi bagus untuk melangkah ke arah ini.


Article image 3

Dari Bioskop ke Destinasi: Titik Temu Film, Pariwisata, dan Digital Banking

Satu film yang tepat bisa mengubah nasib sebuah daerah wisata. Contohnya sudah banyak, dari drama Korea yang mengangkat lokasi tertentu sampai film Indonesia yang bikin satu pantai tiba-tiba viral.

Film ‘Timur’ membawa tema aksi-drama dengan nilai keluarga dan persaudaraan. Kalau film ini sukses:

  • Lokasi syuting bisa diangkat jadi paket wisata tematik
  • Event nonton bareng bisa berlanjut jadi festival tahunan
  • Brand hotel, café, dan destinasi sekitar bisa ikut menempel ke narasi film

Sekarang bayangkan kalau itu dipadukan dengan AI dalam industri pariwisata Indonesia.

Personalisasi Pengalaman Wisata Berbasis AI

Hotel dan pelaku wisata bisa:

  • Menggunakan AI recommendation untuk menawarkan paket “Jejak Film Timur” kepada tamu yang sebelumnya beli tiket film laga atau suka destinasi serupa
  • Memakai sistem revenue management berbasis AI untuk menyesuaikan harga kamar, tiket tur, dan paket event saat hype film sedang tinggi

Bank seperti BNI bisa masuk di beberapa titik:

  • Menyediakan fasilitas pembayaran digital, cicilan, atau paket bundling (tiket film + voucher hotel)
  • Menggunakan AI untuk membaca lonjakan permintaan pariwisata di area tertentu setelah rilis film, lalu menawarkan modal kerja cepat ke pelaku usaha lokal

Jadi dari satu film, rantai dampaknya bisa memanjang ke:

  • Pekerja film
  • UMKM pariwisata
  • Hotel & restoran
  • Platform pemesanan tiket

Dan semuanya butuh ekosistem digital banking yang responsif dan cerdas.


Contoh Konkret: Bagaimana Pelaku Kreatif & Hospitality Bisa Manfaatkan AI Banking

Supaya nggak terlalu abstrak, berikut beberapa skenario praktis yang menurut saya cukup realistis di Indonesia dalam 2–3 tahun ke depan.

1. Rumah Produksi Film

Kondisi umum:

  • Pendapatan bertumpu pada beberapa proyek besar per tahun
  • Banyak transaksi ke vendor (kamera, kostum, lokasi, hotel, transport)

Dengan AI banking:

  • Bank menganalisis pola transaksi dari 2–3 proyek terakhir
  • Sistem memberi limit kredit dinamis untuk produksi film berikutnya
  • Pembayaran vendor bisa diatur lewat virtual account & payment scheduling sehingga cashflow lebih terkontrol

2. Hotel di Dekat Lokasi Syuting

Article image 4

Kondisi umum:

  • Tiba-tiba ramai saat syuting dan rilis film
  • Tapi low season kembali sepi

Dengan AI dalam industri pariwisata:

  • Sistem hotel memprediksi lonjakan tamu berdasarkan jadwal event, rilis film, dan data pencarian online
  • Bank menyediakan produk modal kerja fleksibel berbasis prediksi pendapatan (bukan sekadar data tahun lalu)
  • Integrasi payment gateway memudahkan penjualan paket “staycation + tiket film”

3. Kreator Individu (Aktor, Sutradara, Influencer)

Kondisi umum:

  • Pendapatan besar tapi tidak rutin, bergantung project dan endorsement

Dengan AI perbankan:

  • Aplikasi bank membaca pola pemasukan dari berbagai sumber digital
  • Sistem menyarankan alokasi otomatis: sekian persen ke tabungan, sekian ke investasi, sekian ke dana darurat
  • Penawaran produk (kartu kredit, pinjaman) muncul berdasarkan profil risiko aktual, bukan sekadar status pekerjaan

Dalam semua contoh di atas, pendekatan seperti yang BNI lakukan di film ‘Timur’ adalah langkah awal untuk mengenali ekosistem sebelum benar-benar menggarapnya dengan produk digital & AI secara penuh.


Apa Artinya Ini Buat Masa Depan AI Banking di Indonesia?

Kalau ditarik garis besar, dukungan BNI ke film ‘Timur’ menunjukkan beberapa tren penting:

  1. Bank mulai bergerak dari sekadar sponsor ke mitra ekosistem. Mereka bukan hanya tempel logo, tapi ikut mengaktifkan komunitas, bertemu langsung dengan penonton, dan memahami pola konsumsi hiburan.

  2. Ekonomi kreatif dan pariwisata makin jadi target serius perbankan. Keduanya punya potensi pertumbuhan tinggi dan sangat cocok dengan model digital banking, apalagi ketika digabung dengan AI.

  3. AI jadi jembatan antara sektor yang “tidak bankable” dan akses keuangan formal. Data transaksi digital, perilaku konsumsi, hingga tren wisata bisa diolah AI menjadi dasar keputusan kredit dan desain produk finansial.

Kalau kamu pelaku industri kreatif, pebisnis hotel, pemilik café di kota wisata, atau bahkan kreator individu, ada baiknya mulai:

  • Mencatat dan memusatkan transaksi di kanal digital (supaya “terbaca” oleh sistem AI bank)
  • Memanfaatkan fitur digital banking yang sudah ada (QRIS, payment link, auto-sweep ke tabungan/investasi)
  • Mencari bank yang aktif di ekosistemmu—seperti BNI di film, olahraga, dan pariwisata

Saya cukup yakin: beberapa tahun ke depan, akses modal, kemudahan transaksi, dan pengalaman nasabah akan sangat ditentukan oleh seberapa cerdas AI yang dipakai bank, dan seberapa dalam mereka memahami ekosistemmu.

Film ‘Timur’ mungkin “cuma” satu judul di layar bioskop bulan Desember ini. Tapi di balik layar, ada sinyal jelas: perbankan Indonesia sedang bergerak menuju era AI, lebih dekat ke dunia kreatif dan pariwisata, bukan lagi terpaku pada pola lama.

Pertanyaannya sekarang, kamu mau jadi bagian dari gelombang itu, atau cuma nonton dari jauh seperti penonton paling belakang di bioskop?