Dukungan BNI ke film *Timur* bukan sekadar sponsor. Ini contoh bagaimana bank digital berbasis AI bisa mengakselerasi industri kreatif dan pariwisata Indonesia.

BNI, Film Timur & AI: Saat Industri Kreatif Bertemu Bank Digital
Sebagian orang masih menganggap film hanya soal hiburan. Padahal di balik satu judul film seperti Timur, ada ratusan pekerja, rantai pasok panjang, dan arus uang digital yang besar. Di titik inilah perbankan dan teknologi—termasuk AI—mulai kelihatan giginya.
Dukungan BNI untuk film Timur karya perdana Iko Uwais sebagai sutradara bukan sekadar aksi sponsor. Ini contoh nyata bagaimana bank besar mulai melihat industri kreatif dan pariwisata sebagai mesin baru ekonomi digital Indonesia. Relevan banget dengan tema Hospitality 4.0, ketika wisata, hiburan, dan layanan keuangan semua bergerak ke arah digital dan berbasis data.
Di artikel ini, kita bahas:
- Kenapa kolaborasi BNI dan film Timur penting untuk ekonomi kreatif
- Bagaimana AI di perbankan bisa mengakselerasi industri kreatif dan pariwisata
- Contoh konkret skema digital & AI yang bisa dipakai pelaku kreatif dan pelaku wisata
- Apa peluangnya buat kamu yang main di industri kreatif, film, atau hospitality
Dukungan BNI ke Film Timur: Lebih dari Sekadar Sponsor
BNI ikut mendukung film Timur, debut penyutradaraan Iko Uwais, yang tayang nasional mulai 18/12/2025. Bentuk dukungannya nggak cuma logo di poster, tapi aktivasi langsung ke penonton:
- Meet and greet dan nonton bareng di Surabaya, Semarang, dan Bandung (13–14/12/2025)
- Kehadiran kru Uwais Pictures dan para pemain
- Booth activation BNI di Semarang untuk interaksi langsung dengan pengunjung
Nama besar seperti Raffi Ahmad, Jimmy Kobogau, Auffa Assegaf, dan Yentonius Jerriel Ho ikut hadir di Surabaya dan Semarang, sementara di Bandung ada Executive Producer Timur, Nagita Slavina, di CGV 23 Paskal Shopping Center.
Dari sisi ekonomi kreatif, ini penting karena:
- Menciptakan demand: nonton bareng dan meet and greet terbukti mengangkat antusiasme penonton terhadap film lokal.
- Menggerakkan ekosistem: dari studio, bioskop, food & beverage di mall, hingga sektor transportasi dan pariwisata lokal.
- Mendekatkan bank ke nasabah muda: audiens film laga-drama dengan nilai keluarga dan persaudaraan adalah segmen yang sangat digital, terbiasa cashless, dan potensial untuk produk bank digital.
Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI, menegaskan bahwa film seperti Timur bukan hanya karya seni, tapi juga sumber pertumbuhan ekonomi baru dan wadah pengembangan talenta muda. Ini sikap yang tepat: bank tidak lagi hanya membiayai sektor tradisional, tapi juga ekonomi kreatif.
Dari Bioskop ke Aplikasi: Di Mana AI Perbankan Masuk?
Kalau dilihat sekilas, hubungan antara film laga dan AI di perbankan mungkin terasa jauh. Tapi kalau kita tarik ke ekonomi digital dan perilaku penonton, justru nyambung banget.
1. Data Penonton = Emas untuk Inovasi Produk
Setiap aktivitas promosi BNI untuk Timur menghasilkan data:
- Kota mana dengan antusiasme tertinggi
- Segmen umur yang paling aktif ikut nonton bareng
- Pola transaksi (pakai kartu debit, kartu kredit, QRIS, atau e-wallet)
- Respon terhadap promo bundling tiket + benefit BNI
Di sinilah AI perbankan bekerja:
- Segmentasi otomatis: algoritma mengelompokkan penonton berdasarkan demografi, perilaku transaksi, dan minat.
- Rekomendasi produk personal: misalnya, penonton aktif di event hiburan cenderung ditawari kartu kredit dengan promo lifestyle, cicilan gadget, atau tabungan khusus travelling.
- Prediksi loyalitas: AI bisa mengukur siapa saja yang berpotensi jadi nasabah jangka panjang, bukan cuma nasabah musiman.
Semua ini bikin bank nggak lagi menembak buta. Komunikasi lebih relevan, biaya akuisisi nasabah turun, dan pengalaman nasabah naik.
2. Hospitality 4.0: Saat Film, Wisata, dan Bank Satu Ekosistem
Film bioskop seperti Timur sering jadi pemicu wisata tematik:
- Fans datang ke lokasi syuting
- Paket city tour bertema film
- Kolaborasi hotel, restoran, dan destinasi lokal
Di level Hospitality 4.0, AI bisa:
- Menghubungkan data: transaksi hotel, tiket pesawat, tiket bioskop, dan makan di restoran bisa membentuk profil wisatawan yang lebih lengkap.
- Mempersonalisasi penawaran: misalnya, setelah seseorang nonton Timur di Bandung dan menginap di hotel tertentu, minggu berikutnya ia dapat rekomendasi paket “Weekend Action Movie & Staycation” di kota lain.
- Mengelola risiko kredit: pelaku wisata kecil-menengah yang ikut paket kolaborasi (hotel, travel, restoran) bisa dinilai kelayakan pembiayaannya melalui AI yang membaca arus transaksi digital mereka.
Jadi, dukungan BNI ke film bukan berhenti di layar bioskop. Ini bisa jadi pintu masuk ekosistem pariwisata + hiburan + perbankan digital yang semua pergerakannya terbaca data dan diproses AI.
AI Sebagai Mesin Inklusi Keuangan bagi Pelaku Kreatif
Industri kreatif dan pariwisata punya masalah klasik: cashflow naik-turun dan sering dianggap “tidak bankable”. Proyek film seperti Timur butuh dana besar di depan, sementara pemasukan baru datang belakangan. Di sini perbankan berbasis AI bisa bikin aturan main yang lebih adil.
1. Scoring Kredit Berbasis Transaksi Digital
AI bisa membaca pola transaksi berikut:
- Tiket bioskop yang terjual
- Kerja sama brand & sponsor
- Royalti digital (streaming, OTT, dsb.)
- Penjualan tur wisata terkait film
Dari situ, bank dapat:
- Menyusun credit scoring alternatif yang tidak hanya mengandalkan agunan fisik.
- Memberi pembiayaan pra-produksi untuk rumah produksi yang historisnya terbukti punya performa baik.
- Menawarkan pembiayaan invoice ketika sudah ada kontrak tayang atau distribusi.
Ini sangat relevan buat:
- Rumah produksi independen
- Event organizer festival film & musik
- Pelaku pariwisata yang bikin pengalaman tematik (movie tour, culinary trail, dsb.)
2. Rekening & Dompet Digital Khusus Komunitas Kreatif
BNI bisa (dan sejujurnya, menurut saya seharusnya) mengembangkan ekosistem rekening dan dompet digital yang tailored untuk pelaku kreatif:
- Dashboard pemasukan proyek per proyek
- Analitik otomatis: film atau event mana yang paling cuan
- Fitur bagi hasil untuk tim (pemain, kru, partner)
AI di belakang layar akan:
- Mengkategorikan transaksi
- Mendeteksi pola kebocoran biaya
- Memberi rekomendasi penghematan dan optimasi cashflow
Ini nggak cuma membantu mereka bertahan, tapi juga merencanakan pertumbuhan yang lebih sehat.
Pelajaran untuk Industri Pariwisata: Meniru Pola Timur x BNI
Apa yang dilakukan BNI di film Timur sebenarnya bisa jadi template untuk pariwisata Indonesia yang sedang masuk fase Hospitality 4.0.
1. Co-Creation Konten & Pengalaman
Dalam Timur, ada kolaborasi kuat: Iko Uwais dan Uwais Team (koreografi laga), Raffi Ahmad & Nagita Slavina (executive producer), dan BNI (dukungan finansial & promosi). Pola yang sama bisa dipakai destinasi wisata:

- Kolaborasi destination branding: film, vlog, dan konten digital yang bercerita tentang kota atau daerah wisata.
- Bank hadir bukan hanya sebagai sponsor, tapi sebagai enabler transaksi digital di seluruh perjalanan wisata (transport, hotel, tiket atraksi, kuliner).
- AI menganalisis semua interaksi itu untuk menyusun paket dan promo yang relevan.
2. Chatbot & Asisten Digital Multibahasa
Dalam konteks Hospitality 4.0, satu hal yang sangat membantu wisatawan adalah chatbot cerdas yang:
- Bisa menjawab pertanyaan soal promo tiket, paket hotel, hingga diskon makan dengan kartu tertentu.
- Terintegrasi dengan sistem perbankan digital untuk menunjukkan metode pembayaran paling menguntungkan.
- Berbahasa Indonesia, Inggris, dan bahasa asing lain untuk melayani wisatawan mancanegara.
BNI, dengan positioning sebagai bank yang aktif di ekonomi kreatif, punya peluang besar mengembangkan asisten digital yang bukan hanya menjawab soal saldo, tapi juga memberi rekomendasi hiburan dan wisata berdasarkan pola transaksi.
3. Dynamic Pricing & Revenue Management Berbasis AI
Hotel dan destinasi wisata sudah lama bicara soal revenue management. Dengan dukungan bank dan AI:
- Data transaksi kartu dan QRIS di suatu kawasan wisata bisa menunjukkan puncak dan lembah kunjungan.
- AI membantu pelaku usaha menentukan harga dinamis (weekday vs weekend, low season vs peak season) tanpa harus menebak.
- Bank dapat menyiapkan promo cicilan atau cashback yang tepat waktu, misalnya mendorong kunjungan di low season.
Pola yang sama juga bisa diterapkan pada event film, festival budaya, dan konser.
Apa Artinya Buat Kamu: Kreator, Pelaku Wisata, dan Pejabat Daerah
BNI yang ikut mendorong film Timur sekaligus mempertegas satu hal: ekonomi kreatif dan pariwisata bukan lagi “pelengkap”, tapi mesin pertumbuhan yang serius. Dengan AI di perbankan dan digital banking yang makin matang, peluangnya terbuka lebar.
Kalau kamu:
- Rumah produksi / kreator film: mulai rapikan semua transaksi secara digital. Semakin bersih datanya, semakin mudah AI perbankan menilai kelayakan pembiayaan proyekmu.
- Pelaku wisata & hospitality: integrasikan pembayaran digital di semua touchpoint (tiket, hotel, restoran). Dorong kolaborasi dengan film, event, atau kreator konten yang relevan dengan destinasi kamu.
- Pemda atau pengelola destinasi: dorong kerja sama tiga pihak – bank, pelaku kreatif, dan pelaku wisata – dengan pendekatan data-driven. Minta bank menunjukkan insight AI mereka soal perilaku wisatawan di daerahmu.
Saya cukup yakin, gelombang berikutnya di industri pariwisata Indonesia bukan sekadar soal membangun hotel baru, tapi soal menggabungkan cerita (film & konten), pengalaman (hospitality), dan sistem finansial cerdas (AI perbankan) dalam satu ekosistem.
Film Timur mungkin “hanya” satu judul. Tapi kalau pola BNI di sini direplikasi ke banyak karya dan destinasi, kita sedang bicara ekonomi kreatif dan pariwisata yang dibiayai data, bukan sekadar insting.
Sekarang pertanyaannya sederhana: di posisimu sekarang, apa langkah paling realistis untuk mulai lebih digital, lebih terukur, dan lebih siap menyambut kolaborasi dengan bank berbasis AI?