Bitcoin tertekan, tapi minat kripto di 2025 melonjak. Apa alasannya dan bagaimana peran AI di perbankan dan pariwisata menangkap peluang ini?

Gelombang Kripto 2025: Harga Turun, Minat Naik
Pasar kripto lagi kurang bersahabat. Bitcoin tembus ke bawah level psikologis US$90.000, altcoin ikut terseret merah, dan sentimen takut masih dominan. Tapi di balik grafik yang bikin deg-degan, minat investor justru melonjak sepanjang 2025.
Data survei global menunjukkan sekitar 55% hedge fund di dunia sudah pegang aset terkait kripto di 2025, naik dari 47% tahun sebelumnya. Rata-rata alokasi memang baru sekitar 7%, tapi arahnya jelas: semakin banyak dana institusi yang menganggap kripto sebagai bagian dari ekosistem keuangan, bukan sekadar spekulasi musiman.
Ini menarik untuk kita di Indonesia, apalagi kalau dikaitkan dengan era digital banking dan AI. Pola minat terhadap kripto sebenarnya sinyal bahwa konsumen makin nyaman dengan layanan finansial berbasis teknologi – dari aplikasi investasi, bank digital, sampai produk berbasis AI.
Artikel ini membahas:
- Kenapa orang tetap memborong kripto di 2025 meski Bitcoin tertekan
- Apa yang dilirik investor institusi dari aset digital
- Risiko yang sering disepelekan
- Hubungannya dengan AI dalam perbankan dan fintech Indonesia
- Bagaimana bank dan fintech bisa menangkap peluang ini dengan solusi berbasis AI
1. Apa yang Sebenarnya Terjadi di Pasar Kripto 2025?
Gambaran singkat pasarnya begini:
- Bitcoin (BTC): turun sekitar -0,93% dalam 24 jam ke kisaran US$89.540, penutupan di bawah US$90.000 jadi sinyal bearish jangka pendek.
- Secara teknikal, BTC sedang menguji support sekitar US$88.000.
- Dalam timeframe 1 jam terakhir, BTC justru mencatat kenaikan +1,10% – artinya, buyer masih ada, hanya lebih hati-hati.
- Altcoin besar seperti Solana (SOL) dan Cardano (ADA) koreksi masing-masing -1,58% dan -1,93%, indikasi rotasi modal atau profit taking.
- TRON (TRX) jadi pengecualian, naik +2,28% ke sekitar US$0,2798, didukung fundamental jaringan dan volume transaksi stablecoin yang tinggi.
Jadi, bukan pasar “mati”, tapi pasar sedang selektif. Investor mengurangi risiko di aset agresif, sambil mencari aset yang dianggap lebih defensif atau punya fundamental jaringan kuat.
Dari sudut pandang perilaku, ini mirip nasabah bank saat kondisi ekonomi tidak pasti: dana dipindah ke instrumen yang dianggap lebih aman, tapi jarang benar-benar keluar dari sistem keuangan. Bedanya, di kripto prosesnya terjadi 24/7 dan sangat dipengaruhi algoritma dan bot trading.
2. Kenapa 2025 Jadi Tahun Ramai-ramai Masuk Kripto?
Meski volatil, 2025 justru mencatat rekor minat institusi terhadap kripto.
Beberapa poin penting dari survei AIMA (Alternative Investment Management Association) dan PwC:
- 55% hedge fund global sudah memegang aset kripto (naik dari 47%).
- Rata-rata alokasi portofolio ke kripto sekitar 7%.
- Lebih dari separuh hedge fund yang berinvestasi di kripto baru menempatkan <2% dari total aset kelolaan.
Artinya:
- Ini masih tahap eksplorasi. Kripto sudah dianggap cukup penting untuk “dicoba”, tapi belum jadi tulang punggung portofolio.
- Minat ini didorong oleh dua faktor utama:
- Regulasi di AS yang makin jelas dan relatif ramah aset digital
- Dukungan politik, termasuk sikap pro-kripto dari Presiden AS saat ini
- Ada harapan bahwa aset digital akan semakin nyambung dengan sistem keuangan arus utama.
Dalam bahasa sederhana: institusi besar mulai menguji air. Mereka tidak lagi mengabaikan kripto, tapi juga belum berani all-in.
Apa Pelajaran Buat Investor Ritel Indonesia?
Buat investor individu di Indonesia, ada tiga pelajaran praktis:
- Institusi masuk saat regulasi membaik, bukan cuma saat harga naik. Artinya, Anda juga perlu memperhatikan arah kebijakan dan aturan, bukan hanya grafik.
- Porsi kecil dulu itu sehat. Hedge fund saja banyak yang mulai dari <2% aset. Investor ritel pun sebaiknya tidak menjadikan kripto sebagai satu-satunya instrumen.
- Diversifikasi dan manajemen risiko jauh lebih penting daripada menebak koin mana yang “bakal terbang”.
3. Risiko Kripto: Dari Volatilitas sampai Flash Crash
Minat boleh naik, tapi risiko tidak ikut turun.
Beberapa risiko yang disorot laporan AIMA & PwC:
- Derivatif kripto sangat dominan: sekitar 67% hedge fund memilih masuk lewat instrumen derivatif, bukan beli aset dasarnya langsung.
- Derivatif memberi fleksibilitas untuk trading long/short, tapi membawa risiko leverage yang besar.
- Insiden flash crash pada Oktober 2025 jadi contoh nyata. Harga anjlok sangat cepat karena leverage berlebihan dan infrastruktur perdagangan yang belum cukup kuat.
Dampaknya bukan cuma angka di layar. Flash crash dan likuidasi massal:
- Mengikis kepercayaan investor baru
- Menunjukkan masih rapuhnya integrasi antara kripto dan sistem keuangan tradisional
- Menjadi alasan regulator di banyak negara semakin keras memperingatkan soal risiko stabilitas sistem keuangan
Di Indonesia, diskusi soal revisi regulasi (termasuk wacana perubahan aturan di sektor jasa keuangan) juga menyentuh industri aset kripto. Pelaku industri khawatir terhadap potensi PHK dan hengkangnya investor jika aturan dianggap terlalu menekan.
Jadi, kalau Anda merasa kripto “sudah pasti masa depan finansial”, perlu diimbangi dengan kesadaran: semakin terhubung ke sistem keuangan utama, semakin besar pengawasan dan kompleksitas risikonya.
4. Dari Kripto ke Digital Banking: Teknologi yang Dipercaya
Ini bagian yang sering terlewat: kenapa orang yang tertarik kripto biasanya juga cepat mengadopsi bank digital dan fintech?
Jawabannya sederhana:
Mereka sudah terbiasa mempercayai teknologi sebagai “wajah baru” layanan keuangan.
Beberapa pola perilaku yang terlihat di 2025:
- Pengguna kripto umumnya juga punya lebih dari satu aplikasi bank digital.
- Mereka nyaman melakukan transfer antar-negara, top up e-wallet, hingga bayar layanan internasional lewat kanal digital.
- Mereka terbiasa dengan UI/UX yang cepat, personal, dan transparan.
Di sinilah AI dalam perbankan Indonesia jadi krusial. Kalau ekosistem bank dan fintech tidak menawarkan pengalaman digital yang:
- Cepat
- Personal
- Transparan
maka nasabah tech-savvy cenderung akan lari ke platform lain yang menurut mereka lebih responsif, termasuk ekosistem kripto dan fintech global.
Peran AI: Dari Chatbot sampai Analitik Risiko
Beberapa area konkret di mana AI menjembatani minat terhadap kripto dan kepercayaan pada digital banking:
-
Chatbot & virtual assistant
- Menjawab pertanyaan soal investasi, biaya transaksi, dan risiko dengan bahasa yang mudah dipahami.
- Tersedia 24/7, mirip dengan pengalaman pengguna kripto yang terbiasa transaksi kapan saja.
-
Personalisasi rekomendasi produk
- AI bisa menganalisis pola transaksi nasabah yang gemar beli kripto: apakah mereka juga butuh tabungan dolar, reksa dana global, atau produk lindung nilai?
- Bank bisa menawarkan produk risk-on dan risk-off yang seimbang, bukan hanya jualan satu jenis instrumen.
-
Pendeteksian fraud dan anomali
- Aktivitas transfer ke bursa kripto, p2p lending, dan layanan global lain bisa dianalisis untuk mendeteksi pola mencurigakan.
- Ini membantu bank patuh regulasi tanpa menghambat nasabah yang sah dan aktif.
-
Skoring risiko yang lebih dinamis
- Nasabah yang aktif di kripto sering kali dianggap “berisiko tinggi” secara manual.
- Dengan AI, bank bisa melihat pola lebih halus: apakah mereka disiplin, jarang gagal bayar, konsisten menabung, dsb.
- Hasilnya, akses kredit dan produk lain bisa lebih inklusif.
5. Apa Artinya untuk AI dalam Industri Perbankan Indonesia?
Dari sudut pandang bank dan fintech Indonesia, tren kripto 2025 bukan hanya soal “kompetisi produk investasi”. Ini soal kompetisi pengalaman digital.
Beberapa poin strategis yang, menurut saya, perlu segera digarap:
5.1 Bangun Kepercayaan Lewat Transparansi Berbasis Data
Orang yang berani masuk kripto biasanya sudah akrab dengan:
- Grafik harga real-time
- Laporan portofolio harian
- Histori transaksi yang detail
Bank dan fintech bisa meniru hal ini di:
- Dashboard tabungan, deposito, dan investasi
- Simulasi risiko dan proyeksi imbal hasil
- Penjelasan biaya dan fee yang jujur dan upfront
AI membantu merangkai data kompleks menjadi insight yang mudah dicerna. Misalnya: “Dalam 6 bulan terakhir, profil risiko Anda mirip dengan 30% nasabah yang memilih kombinasi reksa dana pendapatan tetap + deposito valas.”
5.2 Edukasi yang Nyambung dengan Bahasa Kripto
Banyak konten edukasi keuangan di Indonesia masih terasa sangat formal dan kaku. Padahal, komunitas kripto terbiasa dengan:
- Thread singkat
- Contoh konkret
- Visual on-chain data
AI dapat dipakai untuk:
- Membuat konten edukasi personal di aplikasi bank: penjelasan risiko, simulasi skenario, Q&A otomatis.
- Menyusun materi edukasi yang menyesuaikan level pemahaman nasabah (pemula, menengah, advance).
Hasilnya, nasabah yang tadinya hanya kenal kripto pelan-pelan bisa memahami instrumen finansial lain: obligasi, reksa dana, bahkan produk syariah.

5.3 Jembatan antara Dunia Kripto dan Sistem Bank
Daripada “memusuhi” kripto, saya lebih setuju kalau bank dan fintech:
- Membangun kanal resmi untuk transaksi terkait aset digital (misalnya top up ke platform yang terdaftar & berizin).
- Menggunakan AI untuk memantau risiko dan mendeteksi pola aneh tanpa harus blokir buta.
- Menawarkan produk lindung nilai dan tabungan multi-mata uang yang relevan buat investor kripto.
Dengan pendekatan ini, bank tidak kehilangan nasabah tech-savvy, sekaligus memperkuat posisi sebagai pusat keuangan utama—bukan sekadar “rekening penampung”.
6. Dari Finansial ke Pariwisata: Pola Konsumen 2025 Sama
Seri konten ini fokus ke AI dalam Industri Pariwisata Indonesia: Hospitality 4.0. Lalu apa hubungannya kripto dan bank digital dengan pariwisata?
Lebih besar dari yang kelihatan.
Pola konsumen yang:
- Nyaman bertransaksi digital
- Mau mencoba kripto
- Suka layanan personal dan cepat
…adalah pola yang sama yang muncul di:
- Cara mereka memesan tiket pesawat dan hotel
- Ekspektasi terhadap chatbot hotel yang bisa jawab dalam beberapa detik
- Harapan bahwa paket wisata disesuaikan dengan minat dan budget mereka
Hotel, OTA, dan pelaku pariwisata yang memakai AI untuk personalisasi, chatbot multilingual, dan dynamic pricing sebenarnya melayani konsumen yang sama profilnya dengan pengguna kripto dan bank digital.
Satu pesan pentingnya:
Kalau bisnis pariwisata Anda belum serius memakai AI, Anda akan tertinggal dari ekspektasi konsumen yang sudah dibentuk oleh dunia kripto, bank digital, dan aplikasi fintech.
Penutup: Kripto Boleh Naik Turun, Kepercayaan ke Teknologi Tetap Naik
Pasar kripto 2025 memang fluktuatif: Bitcoin terkoreksi, altcoin banyak yang merah, dan risiko derivatif masih besar. Tapi di saat yang sama, minat institusi dan investor ritel terus mengalir, didukung regulasi yang makin jelas dan integrasi yang makin erat dengan sistem keuangan utama.
Bagi ekosistem perbankan dan fintech Indonesia, pelajaran kuncinya bukan sekadar “ikut jualan kripto”. Yang lebih penting adalah:
- Menyadari bahwa konsumen semakin percaya pada teknologi sebagai pintu layanan keuangan.
- Menggunakan AI untuk membangun kepercayaan, transparansi, dan inklusi finansial.
- Menghubungkan dunia aset digital dengan produk keuangan lain secara bertanggung jawab.
Di level yang lebih luas, pola ini juga merembet ke sektor lain – termasuk pariwisata dan hospitality 4.0. Konsumen yang nyaman berinvestasi kripto di ponsel yang sama akan berharap bisa:
- Booking hotel dengan beberapa klik
- Chat dengan asisten virtual yang paham bahasa mereka
- Mendapat rekomendasi perjalanan yang terasa “ngerti banget” preferensi pribadi
Kalau Anda pelaku bank, fintech, atau bisnis pariwisata, pertanyaannya sekarang bukan lagi, “Perlu pakai AI atau tidak?”, tapi “Seberapa cepat Anda siap melayani generasi nasabah dan wisatawan yang sudah hidup di dunia digital-kripto ini?”