Banjir Sumatra merusak 112 pasar rakyat. Di balik kerusakan fisik, AI dalam perbankan dan digital banking bisa jadi kunci pemulihan ekonomi dan inklusi keuangan.
Dari 112 Pasar Rusak ke Urgensi Inklusi Keuangan Digital
112 pasar rakyat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat rusak akibat banjir dan longsor akhir tahun 2025. Di atas kertas itu hanya angka. Di lapangan, itu berarti ribuan pedagang kehilangan lapak, aliran uang tunai tersendat, dan satu ekosistem ekonomi lokal mendadak lumpuh.
Ini bukan sekadar soal memperbaiki bangunan pasar atau membangun hunian sementara (Huntara). Ini soal bagaimana rumah tangga yang kehilangan usaha bisa tetap bertransaksi, menerima bantuan, dan mengamankan sisa tabungan mereka. Di titik inilah digital banking, inklusi keuangan, dan pemanfaatan AI di sektor perbankan jadi penentu: apakah pemulihan ekonomi berjalan cepat dan adil, atau tersendat berbulan-bulan.
Dalam seri “AI dalam Industri Konstruksi Indonesia: Proyek Cerdas”, biasanya kita bicara soal BIM, sensor di proyek, dan manajemen material. Tapi bencana di Sumatra membuka satu perspektif baru: konstruksi ulang ekonomi dan infrastruktur sosial pascabencana tak bisa lepas dari ekosistem perbankan digital yang cerdas, didukung AI.
Tulisan ini mengurai tiga lapis sekaligus:
- Fakta lapangan: kerusakan pasar dan rencana Huntara BNPB
- Dampak ekonomi dan tantangan inklusi keuangan di wilayah bencana
- Bagaimana AI dalam perbankan dan digital banking bisa jadi tulang punggung pemulihan, berdampingan dengan proyek konstruksi fisik.
Gambaran Dampak Banjir Sumatra: Ekonomi Rakyat yang Tersendat
Dampak fisik banjir Sumatra sudah jelas dan terukur.
- 112 pasar rusak
- Aceh: 65 pasar
- Sumatra Utara: 44 pasar
- Sumatra Barat: 3 pasar
- Ribuan pengungsi tersebar di berbagai titik
- Infrastruktur jalan dan jembatan rusak, beberapa akses baru mulai dipulihkan dengan Jembatan Bailey
Pasar tradisional di Indonesia bukan hanya tempat jual beli; itu jantung ekonomi lokal:
- Pedagang kecil menyimpan modalnya dalam bentuk stok barang dan uang tunai.
- Banyak yang belum terhubung ke bank atau fintech, apalagi punya akses ke kredit formal.
- Transaksi sepenuhnya cash, tanpa jejak digital.
Saat pasar hancur:
- Modal fisik rusak atau hanyut.
- Jejak keuangan nyaris nol. Tak ada histori transaksi digital yang bisa dipakai sebagai dasar pengajuan kredit.
- Bantuan sulit tepat sasaran, karena data pedagang dan rumah tangga terdampak tersebar di kertas, buku catatan, atau bahkan hanya di kepala aparat desa.
BNPB mulai menyiapkan Huntara di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Huntara adalah langkah penting, tapi itu baru soal tempat tinggal. Pemulihan yang serius baru terjadi jika:
- Korban bisa kembali beraktivitas ekonomi.
- Akses keuangan tidak terputus meski mereka berpindah lokasi.
- Bantuan, subsidi, dan pembiayaan usaha kecil bisa mengalir cepat dan terukur.
Ini titik temu yang jarang disentuh: proyek konstruksi pascabencana harus dipikir bareng dengan proyek konstruksi sistem keuangan digital.
Di Mana Peran AI & Digital Banking di Tengah Bencana?
Jawabannya: AI dan digital banking bisa bekerja di tiga fase bencana: pra-bencana (prediksi), tanggap darurat, dan pemulihan.
1. Fase Pra-Bencana: Prediksi Risiko & Perencanaan Ekonomi
Dalam konteks konstruksi dan infrastruktur, kita sudah mulai pakai AI untuk:
- memprediksi kerusakan bangunan,
- menganalisis kontur tanah,
- mensimulasikan skenario banjir.
Logika yang sama bisa diterapkan di sektor keuangan:
-
Model risiko berbasis lokasi
Bank bisa memanfaatkan data BMKG, Badan Geologi, dan historis bencana untuk membuat peta risiko bencana per kecamatan. AI menggabungkan:- data curah hujan,
- pola banjir sebelumnya,
- densitas penduduk,
- konsentrasi rekening aktif & transaksi.
Dampaknya:
- Bank tahu wilayah mana yang butuh produk keuangan tangguh bencana (misalnya tabungan darurat, asuransi mikro bencana, restrukturisasi otomatis).
- Regulator dan bank bisa merancang skema KUR khusus wilayah rawan bencana jauh sebelum bencana datang.
-
Simulasi dampak ekonomi
AI dapat menghitung skenario: “Jika 50% pasar di Kabupaten X lumpuh, berapa nilai transaksi hilang per hari? Berapa cepat cadangan likuiditas lokal habis?”
Angka-angka ini membantu pemerintah dan perbankan menyusun buffer dana dan jalur distribusi bantuan keuangan.
2. Fase Tanggap Darurat: Penyaluran Bantuan yang Cepat & Transparan
Saat banjir sudah terjadi dan korban mengungsi, masalah klasik muncul:
- Data korban berulang atau ganda
- Bantuan tidak merata
- Dana tunai rawan bocor
Di sinilah digital banking, rekening sederhana, dan AI bisa memperbaiki sistem.
a. Identifikasi penerima manfaat by name by address
Dalam laporan BNPB, sudah ada daerah yang mengusulkan Huntara lengkap dengan daftar penerima manfaat by name by address. Kalau data ini:
- terintegrasi dengan data kependudukan, dan
- terhubung ke rekening bank atau e-wallet penerima,
maka:
- Transfer bantuan tunai bisa langsung masuk ke akun masing-masing.
- AI bisa memeriksa duplikasi penerima (NIK sama, alamat beda-beda, dll).
- Audit jadi jauh lebih mudah karena setiap transaksi punya jejak digital.
b. Pembukaan rekening digital darurat di lokasi pengungsian
Bank digital dan fintech bisa berkolaborasi dengan BNPB dan pemda untuk:
- membuka rekening dasar (basic account) cukup dengan NIK dan verifikasi biometrik sederhana,
- menggunakan agen laku pandai, warung, atau posko sebagai titik cash-in/cash-out,
- memanfaatkan AI KYC (Know Your Customer) untuk verifikasi cepat, meski dokumen fisik terbatas.
Ini penting di lokasi seperti Aceh Tengah, Pidie, dan kabupaten-kabupaten lain yang melaporkan Huntara:
Pengungsi memang pindah fisik, tapi akses keuangannya jangan ikut “terbawa arus”.
c. Monitoring real-time distribusi bantuan
Dengan transaksi berbasis rekening:
- AI bisa menghasilkan dashboard real-time: berapa banyak bantuan tunai yang sudah tersalur per kabupaten, per klaster pengungsian, per kelompok usaha.
- Pola anomali (misalnya satu NIK menerima bantuan dari banyak program berbeda) bisa otomatis ditandai.
Hasilnya:
- Transparansi lebih tinggi
- Potensi kebocoran dana berkurang
- Kepercayaan publik ke pemerintah dan lembaga keuangan naik
3. Fase Pemulihan: Bangun Kembali Usaha, Bukan Hanya Bangunan
BNPB sedang menyiapkan Huntara, Kementerian PU akan memperbaiki pasar, jembatan Bailey sudah naik progres di beberapa titik. Di saat yang sama, sektor keuangan perlu menyiapkan jalur pemulihan ekonomi yang serius.
Beberapa hal yang bisa dilakukan perbankan dengan bantuan AI:
a. Kredit pemulihan berbasis data transaksi
Untungnya, makin banyak pedagang pasar yang sudah terbiasa:
- menerima pembayaran QRIS,
- bertransaksi via mobile banking,
- pakai aplikasi kasir digital.
Bagi bank, ini emas. AI dapat:
- membaca histori transaksi sebelum bencana,
- memperkirakan omzet normal pedagang,
- merancang plafon Kredit Pemulihan Usaha yang masuk akal, tanpa perlu jaminan fisik besar.
Dengan begitu, pedagang yang kiosnya akan direvitalisasi oleh PU:
- sudah punya modal kerja,
- tidak menunggu pasar 100% selesai untuk mulai jualan lagi.
b. Skema KUR dan restrukturisasi adaptif
Pemerintah sudah bicara soal regulasi baru KUR di wilayah bencana Sumatra. AI di sisi bank bisa membantu:
- mengklasifikasi debitur yang benar-benar terdampak banjir (berdasarkan alamat, pola transaksi berhenti, dan data lokasi),
- menawarkan restrukturisasi otomatis (penundaan cicilan, perpanjangan tenor),
- menandai debitur potensial penerima KUR tambahan untuk relaunch usaha.
c. Asuransi mikro bencana yang benar-benar terasa gunanya
Banyak produk asuransi mikro yang secara teori bagus, tapi penetrasinya minim karena:
- sulit diklaim,
- proses lama,
- masyarakat tidak percaya.
Dengan AI:
- Verifikasi klaim bisa dibantu data satelit, peta banjir, hingga foto lokasi.
- Pencairan klaim bisa otomatis ke rekening dalam hitungan hari, bukan bulan.
- Risiko moral hazard bisa diturunkan dengan deteksi pola klaim mencurigakan.
Hasil akhirnya: pedagang dan pekerja informal di pasar punya jaring pengaman yang sungguh berguna ketika bencana datang lagi.
Konstruksi Fisik vs Konstruksi Sistem: Harus Jalan Bareng
Dalam seri “AI dalam Industri Konstruksi Indonesia: Proyek Cerdas”, kita biasanya bicara:
- bagaimana AI membaca data sensor di proyek,
- bagaimana BIM memudahkan kolaborasi kontraktor,
- bagaimana drone dan computer vision mengawasi progres.
Kasus banjir Sumatra ini memperluas definisinya:
Proyek cerdas bukan cuma membangun gedung dan jembatan, tapi juga membangun sistem keuangan dan data yang tahan terhadap bencana.
Bayangkan satu paket program pascabencana yang terintegrasi:
- Tim konstruksi membangun Huntara dan memperbaiki pasar dengan bantuan AI untuk desain cepat, estimasi material, dan penjadwalan.
- Tim keuangan dan bank hadir di lokasi yang sama untuk:
- membuka rekening digital,
- mengedukasi literasi keuangan dasar,
- mengumpulkan data usaha mikro,
- menyalurkan bantuan dan kredit pemulihan.
- Satu platform data terpadu (pemerintah–perbankan–BNPB) yang dikuatkan AI untuk:
- memetakan korban,
- memantau aliran dana,
- mengukur progres pemulihan ekonomi per wilayah.
Jadi, ketika Jembatan Bailey di Sikabau, Bawah Kubang, Supayang, dan Padang Pantuang mencapai 70%–80% progres, alur uang digital ke warga sekitar juga sudah mengalir.
Ini bukan konsep futuristik. Teknologi yang dibutuhkan sudah ada:
- e-KYC berbasis NIK dan biometrik,
- QRIS dan mobile banking yang ringan,
- model AI untuk scoring mikro dan prediksi risiko,
- integrasi API antar sistem pemerintah dan bank.
Yang sering kurang adalah desain programnya: menyatukan konstruksi fisik, kebijakan publik, dan inovasi perbankan dalam satu kerangka pemulihan.
Langkah Praktis: Apa yang Bisa Dilakukan Pemangku Kepentingan?
Agar bencana seperti di Sumatra tak selalu membuat ekonomi rakyat lumpuh berkepanjangan, beberapa langkah konkret bisa mulai dipikirkan sekarang.
Untuk Pemerintah & Regulator
- Mendorong standar rekening dasar bencana: mudah dibuka di pengungsian, biaya rendah, bisa menerima semua jenis bantuan.
- Mensyaratkan integrasi data BNPB–Dukcapil–perbankan untuk program bantuan tunai.
- Mendesain insentif bagi bank yang aktif mengembangkan produk keuangan tangguh bencana, termasuk pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
Untuk Bank & Fintech
- Mengembangkan model AI risiko bencana hingga level kecamatan/kelurahan.
- Menyusun produk: kredit pemulihan usaha, tabungan darurat, asuransi mikro bencana, dengan proses klaim/penyaluran yang sangat sederhana.
- Menjalankan pilot project di wilayah rawan (Aceh, Sumatra Barat, NTT, Sulawesi Tengah) bekerja sama dengan pemda dan komunitas lokal.
Untuk Pelaku Konstruksi & Infrastruktur
- Mengintegrasikan perencanaan infrastruktur fisik (pasar, jembatan, Huntara) dengan kebutuhan infrastruktur digital: konektivitas internet, titik layanan perbankan, ruang edukasi keuangan.
- Menggunakan data dan AI untuk memilih lokasi Huntara dan pasar baru yang lebih aman dari banjir dan longsor, sehingga investasi ekonomi warga tidak “diparkir” lagi di zona merah.
Penutup: Dari Banjir ke Ekosistem Ekonomi yang Lebih Tangguh
Kerusakan 112 pasar rakyat di Sumatra menunjukkan satu hal: ekonomi informal Indonesia sangat rentan, tapi juga punya peluang besar jika disambungkan ke sistem keuangan digital yang cerdas.
AI dalam perbankan dan digital banking bukan sekadar tren teknologi. Dalam konteks bencana, itu bisa menjadi pembeda antara warga yang menunggu bantuan berbulan-bulan tanpa kepastian, dan warga yang bisa tetap bertransaksi, menerima dana, serta bangkit kembali usahanya beberapa minggu setelah banjir.
Kalau proyek konstruksi kita sudah mulai cerdas dengan BIM, sensor, dan AI, ekosistem keuangan di sekelilingnya juga perlu naik kelas. Ke depan, setiap rencana pembangunan pasar, jembatan, atau Huntara di wilayah rawan bencana idealnya selalu diiringi satu pertanyaan:
“Bagaimana kita memastikan semua pelaku ekonominya sudah punya akses ke rekening digital, proteksi, dan dukungan AI perbankan saat bencana berikutnya datang?”
Jawaban atas pertanyaan itu yang akan menentukan seberapa cepat Indonesia benar-benar pulih setiap kali bencana menghantam.