Digitalisasi TASPEN lewat Andal memberi pelajaran penting bagi bank dan asuransi tentang AI, GCG, dan inklusi keuangan di era digital banking Indonesia.
TASPEN, Digitalisasi ASN & Pelajaran untuk AI di Perbankan
Lebih dari 2,5 juta unduhan Andal by Taspen per 30/11/2025 mungkin terdengar seperti angka biasa. Tapi untuk ukuran aplikasi layanan publik yang menyasar ASN dan pensiunan, ini sinyal kuat: aparatur negara sudah nyaman dengan layanan digital, bahkan untuk urusan paling sensitif seperti pensiun.
Ini menarik karena pola yang sama sedang terjadi di perbankan dan asuransi. Nasabah makin terbiasa mengurus tabungan, pinjaman, hingga polis asuransi lewat mobile app. Bedanya, sektor keuangan sudah mulai melangkah lebih jauh dengan AI di digital banking: dari chatbot, scoring kredit, sampai deteksi fraud.
TASPEN memberi contoh menarik: kombinasi visi jangka panjang, GCG yang kuat, dan transformasi digital bisa bikin layanan sosial (pensiun ASN) jauh lebih efisien dan dipercaya. Di sisi lain, perbankan dan asuransi bisa belajar banyak, terutama dalam mengadopsi AI tanpa mengorbankan kepercayaan publik.
Tulisan ini membahas:
- Bagaimana strategi digitalisasi TASPEN membangun pondasi kepercayaan
- Apa hubungannya GCG dengan etika penggunaan AI di keuangan
- Pelajaran praktis untuk bank dan asuransi yang sedang mengembangkan AI digital banking dan layanan keuangan berbasis teknologi
1. Apa yang Dilakukan TASPEN: Visi, GCG, dan Digitalisasi yang Nyata
TASPEN tidak hanya bicara visi dan misi di atas kertas. Mereka mengikat visi sebagai perusahaan asuransi sosial dan dana pensiun yang unggul, terpercaya, dan berkelanjutan ke dalam tiga hal konkret:
- Pilar strategis yang jelas: kinerja terbaik, tata kelola kuat, keberlanjutan operasional, dan posisi sebagai mitra kesejahteraan ASN aktif maupun pensiun.
- GCG yang terukur: skor GCG kategori “Sangat Baik” dengan nilai 99,191 pada 2025, skor maturitas GRC naik dari 3,69 (2022) ke 4,89 (2024), dan skor CGPI 86,4 dengan predikat “Most Trusted”.
- Transformasi digital yang menyentuh pengguna: Andal by Taspen, TOOS (TASPEN One Hour Online Services), dan Layanan Tanpa Dokumen.
Andal by Taspen: Contoh Layanan Publik yang Mulai “Berpikir Digital”
Aplikasi Andal by Taspen bukan sekadar kanal informasi. Fitur-fiturnya sudah menyentuh fungsi yang krusial bagi peserta:
- Autentikasi peserta
- TASPEN Care (layanan bantuan/pengaduan)
- Informasi manfaat pensiun
- Lokasi layanan dan kanal pelayanan
- PPID (informasi publik)
- Penyampaian SPTB secara digital dan real time
Untuk ASN yang tersebar sampai daerah 3T, konsepnya jelas: layanan publik tidak lagi bergantung pada kantor fisik. Ini sangat relevan dengan digital banking, di mana nasabah di daerah yang minim cabang bank tetap bisa mengakses layanan penuh via aplikasi.
Intinya, TASPEN membuktikan bahwa layanan tinggi risiko dan tinggi regulasi seperti pensiun ASN bisa dikelola secara digital tanpa mengorbankan kepercayaan.
2. Jembatan ke Perbankan: Dari Andal ke Super App Keuangan
Apa hubungan digitalisasi TASPEN dengan AI dalam digital banking? Lebih dekat dari yang kelihatan.
Polanya sama:
- Peserta TASPEN = nasabah bank/asuransi
- Andal by Taspen = mobile banking/super app keuangan
- GCG TASPEN = tata kelola risiko & etika AI di bank/asuransi
Pelajaran Kunci untuk Bank dan Asuransi
-
Mulai dari kebutuhan paling kritis, bukan dari fitur paling keren
Andal fokus ke autentikasi, SPTB, dan informasi manfaat. Di bank, ini bisa diterjemahkan menjadi:- Pembukaan rekening digital yang aman
- Informasi saldo, mutasi, dan status klaim yang jelas
- Status transaksi dan pengaduan yang transparan
-
Bangun kepercayaan dulu, baru percepat otomasi dan AI
Skor GCG dan sertifikasi ISO (37301 kepatuhan, 9001 mutu, 37001 anti penyuapan) menunjukkan: TASPEN menjaga kerangka tata kelola dulu, baru gas digital.
Di perbankan, terlalu agresif mendorong AI untuk scoring kredit atau penawaran produk tanpa transparansi hanya akan menimbulkan distrust dan regulasi lebih ketat. -
Data sebagai aset jangka panjang, bukan hanya bahan campaign
Dengan jutaan pengguna Andal, pola penggunaan, lokasi, dan jenis layanan yang diakses bisa dianalisis. Kalau di bank, data transaksi dan interaksi nasabah adalah bahan bakar untuk:- AI personalisasi produk
- Deteksi fraud secara real time
- Rekomendasi finansial yang lebih relevan
Sederhananya, kalau Andal adalah pondasi digital TASPEN, maka mobile banking + AI adalah pondasi ekosistem keuangan masa depan.
3. GCG vs AI: Etika yang Sama, Teknologi yang Berbeda
GCG sering dianggap urusan dokumen, komite, dan laporan. Padahal di era AI, GCG berubah jadi “rem tangan” utama supaya teknologi tidak keluar jalur.
TASPEN memberi beberapa sinyal penting:
- Skor GCG "Sangat Baik" hampir satu dekade
- Sertifikasi ISO kepatuhan, mutu, dan anti penyuapan
- Divisi kepatuhan dengan sertifikasi profesional
Ini relevan langsung dengan penggunaan AI di layanan keuangan, termasuk digital banking dan asuransi.
Tanpa GCG, AI di Keuangan Itu Berbahaya
AI di industri keuangan biasanya dipakai untuk:
- Underwriting otomatis: menilai risiko nasabah secara cepat
- Pemrosesan klaim asuransi: membaca dokumen, memverifikasi data
- Deteksi fraud: mencari pola anomali di jutaan transaksi
- Rekomendasi produk & personalisasi: menyesuaikan tawaran dengan profil nasabah
Kalau tanpa kerangka GCG yang kuat, masalahnya bisa fatal:
- Bias algoritma: kelompok tertentu lebih sering ditolak kredit
- Data disalahgunakan: pelanggaran privasi nasabah
- Keputusan AI yang tidak bisa dijelaskan: nasabah dirugikan tanpa penjelasan yang layak
Di titik ini, pendekatan TASPEN relevan:
GCG bukan penghambat inovasi. Justru fondasi supaya AI dan digitalisasi jalan jauh tanpa menciptakan skandal baru.
Bank dan perusahaan asuransi di Indonesia butuh hal serupa:
- Kebijakan internal yang jelas: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan AI
- Transparansi: nasabah tahu kapan mereka berinteraksi dengan AI, bukan manusia
- Explainable AI: keputusan penting (penolakan kredit, penetapan premi) bisa dijelaskan secara logis
4. Digitalisasi Layanan Publik sebagai Pondasi Inklusi Keuangan
Saat TASPEN mempercepat digitalisasi layanan ASN, ada efek samping positif yang jarang dibahas: literasi digital keuangan ikut terdorong.
Bayangkan ASN di kabupaten yang sudah terbiasa:
- Masuk ke aplikasi Andal
- Cek status manfaat pensiun
- Mengirim SPTB secara online
Orang yang sudah nyaman melakukan hal itu, akan lebih mudah:
- Menggunakan mobile banking
- Mengakses asuransi digital
- Mencoba produk fintech lending atau reksadana online
Dari TASPEN ke Ekosistem Keuangan Digital
Beberapa efek rantai yang bisa terjadi:
-
Naiknya kepercayaan terhadap layanan berbasis aplikasi
Kalau urusan pensiun yang sensitif saja bisa aman di aplikasi Andal, maka mental blok terhadap aplikasi keuangan makin menurun. -
Data sebagai jembatan ke financial inclusion
Data penghasilan, masa kerja, dan profil ASN yang diolah dengan benar (tetap patuh privasi) bisa jadi dasar scoring kredit yang lebih adil di bank dan fintech.
Di sini, AI scoring berperan: menilai risiko bukan hanya dari jaminan fisik, tapi dari pola penerimaan gaji, kedisiplinan, dan stabilitas pekerjaan. -
Produk keuangan yang lebih relevan untuk ASN
Bank dan asuransi bisa merancang:- Kredit dengan skema potong gaji
- Produk investasi untuk ASN yang bersiap pensiun
- Asuransi tambahan yang menyesuaikan manfaat TASPEN
Tentu ini butuh kerja sama, regulasi, dan standar keamanan data yang ketat. Tapi arahnya jelas: digitalisasi layanan publik seperti TASPEN membuka jalan bagi inklusi keuangan berbasis AI.
5. Bagaimana Bank & Asuransi Bisa Meniru Strategi TASPEN (Dengan AI)
Untuk bank, asuransi jiwa, dan asuransi umum yang sedang mengembangkan AI digital banking atau AI insurance, ada beberapa langkah praktis yang menurut saya realistis diambil sekarang.
1) Samakan Dulu Kompas: Visi, Risiko, dan Pelayanan
TASPEN punya visi jelas: unggul, terpercaya, berkelanjutan. Perusahaan keuangan perlu setara:
- AI bukan hanya untuk efisiensi biaya, tapi untuk meningkatkan kualitas layanan dan keadilan finansial.
- Tetapkan batas: keputusan apa yang boleh full-otomatis, dan mana yang wajib review manusia.
2) Bangun “Andal versi Keuangan” dengan Layer AI
Kalau Andal by Taspen adalah hub layanan untuk ASN, bank dan asuransi perlu hub serupa:
- Satu aplikasi untuk semua: tabungan, kredit, asuransi, investasi
- Chatbot AI yang benar-benar paham konteks transaksi nasabah, bukan sekadar FAQ
- Fitur klaim asuransi digital dengan AI OCR (baca dokumen otomatis) dan prediksi waktu pencairan
Mulai dari alur yang paling sering dipakai nasabah: cek saldo, bayar tagihan, klaim ringan—lalu secara bertahap tambahkan AI untuk prediksi dan personalisasi.
3) Terapkan Prinsip GCG ke dalam Desain AI
Beberapa prinsip praktis:
- Transparansi: jelaskan data apa yang digunakan AI dan untuk tujuan apa.
- Akuntabilitas: ada unit yang bertanggung jawab atas dampak keputusan AI, bukan sekadar vendor.
- Kewajaran: lakukan audit berkala atas model AI untuk memastikan tidak ada bias yang merugikan kelompok tertentu.
TASPEN menunjukkan bahwa sertifikasi seperti ISO 37301 dan 37001 bisa berjalan berdampingan dengan digitalisasi. Bank dan asuransi bisa menambahkan governance khusus AI di atas kerangka itu.
4) Fokus ke Use Case yang Langsung Terasa Manfaatnya
Beberapa contoh yang biasanya cepat terasa di nasabah Indonesia:
- Notifikasi cerdas: AI yang memberi peringatan ketika pola belanja di luar kebiasaan (indikasi fraud) atau ketika saldo berisiko minus.
- Asisten finansial personal: rekomendasi budget bulanan, pengingat jatuh tempo, hingga simulasi pensiun yang terhubung dengan manfaat TASPEN bagi ASN.
- Klaim asuransi cepat: foto dokumen, AI verifikasi, status klaim transparan di aplikasi.
Kuncinya: jangan terlalu teoretis. Buat AI terasa “membantu hidup sehari-hari”, bukan sekadar teknologi mahal di belakang layar.
Penutup: Dari Andal ke AI Banking – Satu Arah, Satu Tantangan
Digitalisasi TASPEN menunjukkan satu hal: layanan publik dan layanan keuangan punya tantangan yang mirip — tingkat kepercayaan tinggi, regulasi ketat, dan pengguna yang sangat beragam.
Perbedaan utamanya, sektor keuangan sudah mulai melangkah ke AI digital banking dan AI insurance, sementara banyak lembaga publik masih fokus ke digitalisasi dasar. Justru di titik ini, kolaborasi dan adopsi praktik terbaik bisa mempercepat dua hal sekaligus:
- Reformasi birokrasi & layanan publik digital, sejalan dengan agenda Asta Cita
- Inklusi keuangan berbasis AI yang lebih adil, aman, dan relevan bagi masyarakat Indonesia
Kalau TASPEN bisa membawa jutaan ASN nyaman dengan aplikasi Andal, tidak ada alasan bank dan perusahaan asuransi tidak bisa membawa jutaan nasabah ke level berikutnya: layanan keuangan cerdas berbasis AI yang tetap berpegang pada GCG kuat dan etika yang jelas.
Pertanyaannya sekarang: apakah organisasi Anda siap membangun “Andal versi keuangan” dan mengisinya dengan AI yang benar-benar memihak nasabah?