Transformasi digital TASPEN jadi cermin kuat untuk asuransi dan bank digital: bagaimana AI, GCG, dan aplikasi terintegrasi membangun kepercayaan dan efisiensi.
Dari TASPEN ke Bank Digital: Pelajaran AI & GCG
Sebanyak lebih dari 6 juta ASN dan pejabat negara mengandalkan TASPEN untuk jaminan hari tua dan pensiun. Di belakang layar, transformasi besar sedang berjalan: digitalisasi layanan, penguatan tata kelola, sampai pemanfaatan teknologi untuk efisiensi.
Yang menarik, perjalanan TASPEN ini sangat mirip dengan apa yang sedang dan harus terjadi di industri asuransi dan perbankan digital di Indonesia: layanan makin digital, risiko makin kompleks, dan kepercayaan publik jadi kunci. Di titik inilah AI dalam industri asuransi dan perbankan mulai bukan sekadar wacana, tapi kebutuhan.
Tulisan ini membahas apa yang dilakukan TASPEN—dari visi, GCG, sampai digitalisasi Andal by Taspen—lalu menerjemahkannya menjadi pelajaran praktis untuk:
- perusahaan asuransi,
- bank digital,
- dan institusi keuangan yang sedang membangun fondasi AI dan otomasi.
1. Apa yang Bisa Dipelajari Industri Keuangan dari Visi & Misi TASPEN
TASPEN tidak sekadar menambah aplikasi dan fitur. Mereka mengikat semua itu pada visi yang jelas: menjadi perusahaan asuransi sosial dan dana pensiun yang unggul, terpercaya, dan berkelanjutan.
Buat saya, di sinilah banyak perusahaan keuangan sering salah arah. Mereka lompat ke AI, chatbot, dan otomasi, tapi:
- tidak punya visi jelas,
- tidak punya metrik kepercayaan,
- digitalisasi jadi kosmetik, bukan fondasi.
Lima pilar TASPEN dan relevansinya untuk bank & asuransi
Dari konten resmi TASPEN, misi dan pilar strategisnya bisa diringkas menjadi:
- Kinerja terbaik – mengelola dana dan layanan secara andal dan profesional.
- Menjaga kepercayaan – mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (GCG).
- Keberlanjutan operasional – memastikan layanan jangka panjang, bukan hanya jangka pendek.
- Mitra kesejahteraan peserta – fokus ke manfaat nyata bagi peserta, bukan cuma produk.
- Transformasi digital & SDM adaptif – memodernisasi proses dan meng-upgrade manusia di balik sistem.
Industri perbankan dan asuransi yang serius ke arah AI dan digital banking seharusnya meniru pola ini:
- Setiap inisiatif AI harus nyambung ke visi.
- Contoh: model AI underwriting untuk mempercepat approval polis sambil menjaga kualitas risiko.
- Digitalisasi harus punya indikator kepercayaan.
- Contoh: NPS (Net Promoter Score), tingkat komplain, dan SLA penyelesaian sengketa.
- Teknologi tanpa SDM adaptif akan mentok.
- Data scientist, aktuaris, dan risk officer harus melek AI—bukan cuma tim IT.
AI yang baik di industri keuangan bukan soal “lebih canggih”, tapi soal “lebih dipercaya”.
2. GCG TASPEN: Fondasi Sebelum Bicara AI & Otomasi
Sebelum bicara algoritma, TASPEN merapikan dulu tata kelola (GCG). Hasilnya tidak main-main:
- Skor GCG kategori “Sangat Baik” selama hampir satu dekade.
- Skor GCG 2025: 99,191.
- Skor Maturitas GRC: naik dari 3,69 (2022) menjadi 4,89 (2024).
- Skor CGPI 2025: 86,4 dengan predikat “Most Trusted”.
Ini bukan sekadar angka. Buat sektor perbankan dan asuransi, ini sinyal kuat: AI dan digital banking butuh fondasi GCG yang solid.
Kenapa GCG krusial untuk AI di keuangan?
Di industri keuangan, AI akan menyentuh tiga area sensitif:
- Pengelolaan dana – risiko pasar, likuiditas, dan investasi.
- Data nasabah/peserta – privasi dan keamanan data pribadi.
- Pengambilan keputusan otomatis – persetujuan kredit, underwriting, klaim, fraud detection.
Tanpa GCG yang kuat, tiga hal ini bisa berubah jadi masalah besar: diskriminasi algoritmik, penyalahgunaan data, sampai skandal fraud internal.
TASPEN menguatkan GCG dengan:
- ISO 37301:2021 Kepatuhan – memastikan proses patuh regulasi.
- ISO 9001:2015 Manajemen Mutu – standar kualitas proses layanan.
- ISO 37001:2021 Anti Penyuapan – barikade terhadap korupsi dan suap.
Di bank dan perusahaan asuransi yang ingin mendorong AI underwriting, deteksi fraud otomatis, dan scoring kredit, standar-standar seperti ini harus jadi referensi. Bukan sekadar untuk audit, tapi untuk mendesain:
- governance model AI,
- kebijakan penggunaan data,
- dan mekanisme audit algoritma.
AI di keuangan yang tidak ditopang GCG itu seperti mobil sport tanpa rem ABS. Cepat, tapi rawan kecelakaan.
3. Andal by Taspen: Blueprint Layanan Digital dan Automasi
Salah satu bukti paling konkret transformasi TASPEN adalah Andal by Taspen. Per 30/11/2025, aplikasi ini sudah diunduh lebih dari 2,5 juta kali.
Fitur Andal by Taspen mencakup:
- autentikasi peserta,
- TASPEN Care,
- informasi manfaat pensiun,
- lokasi layanan,
- PPID,
- penyampaian SPTB secara digital dan real time.
Ini sebenarnya sangat mirip dengan super-app yang sedang dibangun banyak bank digital dan asuransi insurtech.
Dari Andal ke bank & asuransi: di mana peran AI?
Kalau kita tarik ke konteks AI dalam industri asuransi Indonesia dan digital banking, langkah seperti Andal by Taspen bisa ditingkatkan dengan:
-
Chatbot dan virtual assistant berbasis NLP
- Untuk menjawab pertanyaan peserta soal saldo, hak manfaat, jadwal pembayaran, atau status klaim.
- Di bank digital: menjawab pertanyaan limit kartu, tagihan, hingga simulasi pinjaman.
-
Personalized recommendation
- Di TASPEN: rekomendasi edukasi pensiun, simulasi manfaat, atau pengingat kewajiban lapor.
- Di asuransi: rekomendasi produk berdasarkan profil risiko dan kebutuhan keluarga.
- Di bank: penawaran kredit, tabungan, atau investasi yang relevan berdasarkan pola transaksi.
-
Deteksi fraud dan anomali
- AI menganalisis pola pengajuan klaim, perubahan data, atau transaksi mencurigakan.
- Penting untuk sektor asuransi dan bank, terutama untuk menangani social engineering, aplikasi fiktif, dan pencucian uang.
-
Otomasi back-office
- Pencocokan data, verifikasi dokumen, hingga workflow klaim/pencairan bisa diotomasi dengan RPA + AI.
- Hasilnya: SLA lebih pendek, error manual berkurang, dan SDM fokus ke kasus kompleks.
Yang saya suka dari kasus TASPEN: mereka tidak berhenti di level “punya aplikasi”. Mereka membangun integrasi: Layanan Tanpa Dokumen, TASPEN One Hour Online Services (TOOS), sampai berbagai layanan digital lain yang memangkas friction.
Bagi bank digital dan perusahaan asuransi, pendekatannya bisa seperti ini:
- Mulai dari proses yang paling menyakitkan bagi nasabah/peserta.
Biasanya: buka rekening, klaim, komplain, dan perubahan data. - Desain ulang journey dengan prinsip zero paperwork dan real-time.
Setelah itu baru pikirkan: di titik mana AI bisa membantu mempercepat atau memperbaiki akurasi.
4. Reformasi Birokrasi, Asta Cita, dan Inklusi Keuangan Berbasis AI
Transformasi TASPEN tidak berdiri sendiri. Mereka menyelaraskan diri dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya di area:
- reformasi birokrasi,
- percepatan digitalisasi layanan publik,
- penguatan sistem perlindungan sosial.
Ini menarik jika dibandingkan dengan agenda inklusi keuangan dan digital banking di Indonesia.
Layanan publik digital sebagai inspirasi bank & asuransi
Apa yang dilakukan TASPEN—membawa layanan pensiun dan jaminan sosial ke kanal digital, bahkan menjangkau daerah 3T—sejajar dengan tantangan sektor keuangan:
- menjangkau masyarakat unbanked dan underbanked,
- memberikan produk asuransi mikro yang mudah diakses,
- menekan biaya operasional di daerah yang sulit dijangkau kantor fisik.
Di sini, AI dan otomasi bisa jadi jembatan:
-
Scoring alternatif untuk kredit & asuransi
Menggunakan data non-tradisional (pola transaksi digital, perilaku pembayaran, bahkan data ponsel) untuk menilai risiko, khususnya di segmen yang belum punya riwayat kredit. -
Onboarding digital yang aman
Teknologi e-KYC, face recognition, dan liveness detection yang didukung AI bisa mempercepat pembukaan rekening atau pembelian polis tanpa perlu tatap muka. -
Edu-tech finansial di dalam aplikasi
Konten edukasi personalisasi: tips pensiun, simulasi kebutuhan proteksi, manajemen utang, yang disesuaikan profil pengguna.
Ketika TASPEN memosisikan diri sebagai mitra kesejahteraan ASN, bank dan asuransi juga bisa memosisikan diri sebagai mitra literasi dan proteksi finansial masyarakat luas—dengan skala yang diperbesar lewat AI.
5. SDM, Budaya Data, dan Tantangan Nyata Transformasi AI
Angka GCG dan jumlah unduhan aplikasi memang impresif, tapi faktor penentunya tetap manusia.
TASPEN menegaskan pentingnya SDM yang:
- amanah,
- kompeten,
- dan adaptif.
Di dunia nyata, banyak proyek AI di sektor keuangan gagal bukan karena teknologinya jelek, tapi karena:
- data berantakan,
- unit bisnis dan IT tidak nyambung,
- budaya kerja masih “manual-first”.
Apa yang perlu dilakukan perusahaan asuransi & bank digital?
-
Bangun tim lintas fungsi untuk AI
Libatkan risk, compliance, legal, aktuaria, dan bisnis sejak awal. AI tidak boleh murni proyek IT. -
Investasi di literasi data & AI untuk seluruh organisasi
Tidak semua orang harus jadi data scientist, tapi semua pengambil keputusan harus paham:- apa yang AI bisa dan tidak bisa lakukan,
- bagaimana bias bisa muncul,
- bagaimana membaca output model.
-
Mulai kecil, iteratif, tapi terukur
Pilih satu use case: misalnya deteksi fraud klaim atau scoring kredit mikro.
Ukur: penurunan fraud, percepatan SLA, peningkatan kepuasan nasabah. -
Pastikan jalur audit dan explainability
Di asuransi dan perbankan, keputusan AI—menolak klaim, menolak kredit, dsb—harus bisa dijelaskan.
Ini menyangkut regulasi dan keadilan bagi nasabah.
TASPEN memberi contoh bahwa transformasi digital yang sehat selalu menggabungkan tiga hal: teknologi, tata kelola, dan SDM.
Penutup: Dari Jaminan Pensiun ke Bank Digital Berbasis AI
Kisah TASPEN menunjukkan satu pola yang relevan untuk seluruh industri keuangan Indonesia: digitalisasi dan AI hanya akan berbuah kalau ditopang visi yang jelas, GCG yang kuat, dan fokus ke kesejahteraan pengguna akhir.
Bagi perusahaan asuransi dan bank digital, beberapa hal yang layak diadopsi dari pendekatan TASPEN:
- jadikan AI sebagai alat untuk meningkatkan kepercayaan, bukan sekadar efisiensi,
- bangun aplikasi dan layanan digital yang benar-benar mengurangi friksi nasabah,
- lengkapi transformasi dengan standar GCG, ISO, dan budaya data yang matang,
- posisikan diri sebagai mitra kesejahteraan dan inklusi finansial, bukan hanya penjual produk.
Transformasi ke AI dalam industri asuransi Indonesia dan digital banking sudah berjalan, mau tidak mau. Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah perusahaan Anda akan membangunnya di atas fondasi kuat seperti TASPEN, atau sekadar ikut tren tanpa arah?
Jika jawabannya yang pertama, sekarang saatnya mulai memetakan: satu proses mana yang paling siap Anda otomatisasi dengan AI—dan bagaimana Anda memastikan proses itu tetap adil, transparan, dan dipercaya nasabah.