Khutbah, Asuransi Syariah & AI: Kolaborasi Baru Literasi Keuangan

AI dalam Industri Asuransi Indonesia: Transformasi Digital••By 3L3C

OJK menggandeng masjid untuk dakwah asuransi syariah. Di sisi lain, AI di bank dan asuransi bisa jadi “asisten imam” literasi keuangan umat di era digital.

asuransi syariahAI di perbankanliterasi keuangan syariahinklusi keuangan digitalOJKdana pensiun syariahtransformasi digital asuransi
Share:

Featured image for Khutbah, Asuransi Syariah & AI: Kolaborasi Baru Literasi Keuangan

Khutbah Masjid, Asuransi Syariah, dan AI: Jalur Baru Literasi Keuangan Umat

Indonesia punya lebih dari 280 ribu masjid dan mushala yang aktif. Setiap Jumat, jutaan jamaah duduk mendengarkan khutbah, sementara jutaan lainnya mengikuti pengajian rutin di kampung, perkantoran, sampai komplek perumahan.

Di saat yang sama, data OJK per 2025 menunjukkan literasi asuransi syariah sudah 45,4%, tapi inklusi baru 28%. Artinya: banyak yang tahu, jauh lebih sedikit yang pakai. Ada jarak besar antara pengetahuan dan tindakan.

Langkah OJK menggandeng Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan meluncurkan Buku Khutbah Syariah Muamalah PPDP bukan sekadar program seremonial. Ini sinyal kuat: pendidikan keuangan umat harus turun ke akar rumput, lewat bahasa agama, dan bisa diperkuat oleh teknologi seperti AI di industri asuransi dan perbankan.

Tulisan ini membahas tiga hal:

  • kenapa khutbah dan dakwah bisa jadi senjata utama literasi asuransi syariah,
  • bagaimana AI di perbankan dan asuransi bisa melanjutkan dakwah itu ke ranah digital,
  • apa langkah praktis yang bisa diambil lembaga keuangan, pengelola masjid, dan nasabah.

Mengapa OJK Masuk ke Mimbar Masjid?

Jawabannya sederhana: masjid adalah kanal komunikasi paling dipercaya umat.

OJK melihat fakta yang cukup mengganggu:

  • Literasi asuransi syariah: 45,4% (paham konsepnya),
  • Inklusi asuransi syariah: 28% (punya produknya).

Artinya, 2 dari 3 orang yang sudah paham asuransi syariah tetap belum menjadi peserta. Biasanya karena tiga hal:

  • masih ragu soal kehalalan dan skema akad,
  • trauma kasus asuransi di masa lalu,
  • belum merasa butuh atau belum paham manfaat konkret.

Di sinilah khutbah dan dakwah berperan.

Ketika kehalalan, keadilan, dan manfaat sosial dijelaskan oleh ustaz atau imam yang dipercaya jamaah, resistensi terhadap produk keuangan syariah biasanya turun drastis.

OJK melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun, Ogi Prastomiyono, secara terbuka mengatakan bahwa buku khutbah PPDP (perasuransian, penjaminan, dana pensiun) syariah sengaja dibuat untuk mengisi kekosongan materi dakwah muamalah. Fokusnya bukan sekadar teori, tapi panduan praktis mengelola risiko dan masa depan finansial dengan cara yang sesuai syariat.

Ini relevan dengan data lain: hingga Oktober 2025, aset PPDP Syariah menembus Rp70,8 triliun, tumbuh 6,21% yoy. Artinya, minat mulai naik, tapi butuh akselerasi. Jaringan masjid adalah jalur logis untuk itu.


Dari Mimbar ke Mobile App: Literasi Keuangan Harus Nyambung ke Aksi

Khutbah dan ceramah punya kekuatan membentuk mindset. Tapi untuk mengubah mindset jadi tindakan, perlu jembatan:

  • kanal informasi lanjutan,
  • simulasi produk,
  • proses pengajuan yang mudah,
  • pendampingan saat klaim.

Di sinilah AI di perbankan dan asuransi syariah bisa melanjutkan “dakwah” di dunia digital.

Bayangkan alurnya seperti ini:

  1. Khutbah Jumat di masjid membahas pentingnya asuransi syariah dan dana pensiun untuk menjaga keluarga dari risiko keuangan.
  2. Di akhir khutbah, takmir mengumumkan bahwa jamaah bisa bertanya lebih lanjut lewat kanal digital (misal aplikasi bank syariah atau asuransi syariah rekanan).
  3. Jamaah pulang, buka aplikasi, dan chatbot berbasis AI menjelaskan lebih rinci, bahasa simpel, sesuai prinsip syariah.
  4. Jamaah bisa:
    • menghitung kebutuhan proteksi,
    • membandingkan kontribusi,
    • mendaftar secara digital,
    • menyimpan dokumen polis di satu tempat.

Masjid mengawali kesadaran, AI memastikan tidak ada jamaah yang “nyasar” saat mulai bertindak.


Peran AI di Industri Asuransi Syariah: Dari Edukasi sampai Klaim

Article image 2

Dalam seri "AI dalam Industri Asuransi Indonesia: Transformasi Digital", ada beberapa area kunci di mana AI sudah terbukti mengubah cara kerja perusahaan asuransi. Untuk konteks gerakan literasi ala OJK–DMI ini, setidaknya ada lima peran strategis.

1. Chatbot Syariah sebagai “Muballigh” Digital

Chatbot berbasis AI di aplikasi bank atau asuransi syariah bisa:

  • menjawab pertanyaan dasar: apa itu tabarru’, akad wakalah bil ujrah, risiko apa yang ditanggung,
  • meluruskan miskonsepsi: “asuransi itu judi”, “pasti rugi”, dan sejenisnya,
  • melayani 24/7, kapan pun jamaah baru tergerak setelah mendengar ceramah.

Bedanya dengan FAQ biasa, chatbot AI bisa:

  • memahami bahasa natural: “saya kerja freelance, enaknya ambil produk apa ya?”,
  • adaptif terhadap gaya bahasa lokal,
  • memberi jawaban yang konsisten dengan panduan syariah dan regulasi OJK.

Kalau ini disambungkan dengan materi dari Buku Khutbah Syariah Muamalah PPDP, maka narasi dari mimbar dan dari layar HP akan senada.

2. Edukasi Personal: Konten Disesuaikan Profil Nasabah

Satu masalah besar literasi keuangan: edukasinya terlalu generik. AI bisa membantu membuat edukasi yang:

  • kontekstual dengan umur, penghasilan, tanggungan,
  • relevan dengan tujuan hidup: dana sekolah anak, pensiun, THR, hingga perlindungan usaha UMKM.

Contoh sederhana:

  • Nasabah umur 28, baru menikah, penghasilan Rp8 juta, tinggal di Bekasi.
  • AI mengelompokkan profil ini sebagai young family urban.
  • Sistem mengirim edukasi terarah:
    • urgensi asuransi jiwa dan kesehatan syariah,
    • simulasi biaya melahirkan dan sekolah dasar 10 tahun lagi,
    • rekomendasi kontribusi realistis.

Bukan lagi brosur seragam yang dibagikan di depan masjid, tapi pendampingan digital yang terasa personal.

3. Underwriting Otomatis yang Adil dan Cepat

Banyak orang akhirnya mundur saat proses asuransi karena:

  • terlalu banyak berkas,
  • menunggu persetujuan berhari-hari,
  • merasa “ribet dan lama”.

AI di underwriting memungkinkan:

  • analisis risiko lebih cepat berbasis data medis dan demografis,
  • skor risiko otomatis yang tetap mengikuti prinsip kehati-hatian,
  • keputusan awal (pre-approval) dalam hitungan menit.

Untuk konteks jamaah masjid di daerah, proses yang cepat membuat mereka tidak kehilangan momentum setelah terdorong oleh khutbah atau ceramah.

4. Klaim Lebih Transparan, Kurang Drama

Kepercayaan publik ke asuransi sering runtuh di tahap klaim. Di sini AI bisa membantu:

  • mengotomatiskan verifikasi dokumen klaim,
  • mendeteksi indikasi fraud tanpa mengorbankan nasabah jujur,
  • memberikan tracking status klaim real-time di aplikasi.

Nasabah tidak lagi hanya “pasrah” menunggu kabar dari agen. Mereka bisa cek sendiri: posisi klaim di mana, apa yang kurang, kenapa.

Transparansi seperti ini sangat sejalan dengan nilai keadilan (adl) dan kejelasan akad dalam syariah.

5. Analitik untuk Menentukan Materi Dakwah yang Paling Berdampak

Ada satu sisi menarik yang sering terlupakan: data dakwah.

Bayangkan jika:

  • materi khutbah terdigitalisasi dalam modul dan dikaitkan dengan kampanye edukasi di aplikasi bank atau asuransi,
  • AI menganalisis: setelah khutbah tema A, berapa banyak jamaah di wilayah tersebut yang:
    • mengakses materi asuransi di aplikasi,
    • mengajukan polis baru,
    • meningkatkan kontribusi.

Dari situ, OJK, DMI, AASI, dan industri bisa melihat:

  • tema dakwah apa yang paling efektif,
  • daerah mana yang butuh pendekatan berbeda,
  • segmen usia mana yang perlu format edukasi lain (video pendek, podcast, atau kelas online).

Ini bukan sekadar kampanye literasi keuangan, tapi eksperimen sosial terukur yang ujungnya memperkuat ekonomi umat.

Article image 3


Sinergi Masjid, Bank, dan Asuransi: Praktiknya Seperti Apa?

Secara praktis, kolaborasi masjid–OJK–industri keuangan berbasis AI bisa diwujudkan dalam beberapa langkah konkret.

1. Masjid sebagai “Hub” Literasi Keuangan Syariah

Takmir masjid dan DKM bisa:

  • menggunakan Buku Khutbah Syariah Muamalah PPDP sebagai rujukan khutbah Jumat dan pengajian rutin,
  • membuat sesi khusus bulanan: Kajian Muamalah & Perencanaan Keuangan Keluarga.

Lembaga keuangan syariah (bank dan asuransi) masuk sebagai pendukung:

  • menyediakan materi visual yang mudah dipahami,
  • memberi akses ke aplikasi edukasi keuangan dengan chatbot AI,
  • mengirim narasumber yang paham syariah dan produk.

2. Integrasi QR & Aplikasi di Lingkungan Masjid

Langkah sederhana tapi efektif:

  • setelah khutbah tentang asuransi syariah, di papan pengumuman ditempel QR Code,
  • jamaah yang tertarik tinggal scan,
  • diarahkan ke:
    • chatbot syariah,
    • kalkulator kebutuhan proteksi,
    • panduan singkat memilih produk.

Dakwah lisan langsung terhubung ke ekosistem digital yang dijalankan AI.

3. Program Khusus Dana Pensiun Syariah untuk Takmir & Jamaah Aktif

Topik dana pensiun jarang dibahas di masjid, padahal sangat relevan untuk:

  • guru ngaji,
  • marbot,
  • pengurus masjid,
  • pekerja informal di sekitar masjid.

Perusahaan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) syariah bisa membuat:

  • skema iuran ringan,
  • pendaftaran digital berbantuan AI,
  • edukasi personal soal manfaat jangka panjang.

Di balik semua ini, MoU antara DMI, AASI, dan ADPLK yang baru ditandatangani jadi payung kerja sama untuk memperluas distribusi dan edukasi produk syariah lewat jaringan masjid.


Tantangan Nyata: Tidak Cukup Hanya Punya AI

Saya pribadi cukup optimistis dengan arah ini, tapi ada beberapa tantangan yang tidak boleh disepelekan.

1. Trust: Teknologi Harus Di-backup Integritas

Umat akan menilai dari:

  • seberapa jujur produk dijelaskan,
  • bagaimana perusahaan menangani klaim,
  • apakah ada pendampingan ketika nasabah kesulitan.

AI bisa membuat proses lebih cepat dan mudah, tapi trust tetap dibangun oleh perilaku manusia dan kebijakan perusahaan.

2. Kapasitas SDM: Ustaz dan Petugas Masjid Perlu “Naik Kelas” Digital

Kalau dakwah sudah bicara asuransi syariah, tapi:

  • ustaz tidak paham gambaran dasar produknya,
  • pengurus masjid gagap teknologi saat jamaah bertanya soal aplikasi,

hasilnya akan setengah matang.

Article image 4

Perlu program pelatihan singkat:

  • literasi keuangan syariah untuk dai dan khatib,
  • pelatihan dasar penggunaan aplikasi dan chatbot AI untuk pengurus masjid.

3. Regulasi dan Perlindungan Data

AI di perbankan dan asuransi berurusan dengan data sangat sensitif:

  • data kesehatan,
  • penghasilan,
  • pola transaksi.

Integrasi antara kampanye dakwah dan platform digital harus benar-benar patuh pada:

  • aturan perlindungan data pribadi,
  • prinsip amanah dalam Islam.

Kalau ini dilanggar, bukan hanya masalah hukum, tapi juga masalah moral dan kepercayaan umat.


Langkah Praktis untuk Tiga Pihak Kunci

Supaya tidak berhenti di wacana, berikut langkah konkret yang menurut saya realistis dilakukan dalam 6–12 bulan ke depan.

Untuk Lembaga Keuangan (Bank & Asuransi Syariah)

  • Bangun atau tingkatkan chatbot AI syariah di aplikasi dan WhatsApp Business.
  • Sinkronkan konten chatbot dengan materi Buku Khutbah Syariah Muamalah PPDP.
  • Buat paket produk sederhana: proteksi dasar + dana pensiun mikro yang mudah dijelaskan di khutbah.
  • Siapkan dashboard analitik untuk mengukur dampak kampanye dakwah terhadap pembukaan polis dan rekening.

Untuk Pengurus Masjid & Organisasi Dakwah

  • Jadwalkan minimal 4 khutbah atau kajian muamalah per tahun yang fokus ke asuransi, penjaminan, dan pensiun syariah.
  • Gandeng bank atau asuransi syariah yang sudah siap dengan kanal digital berbasis AI.
  • Fasilitasi jamaah yang kesulitan teknologi: sediakan relawan muda yang membantu proses scan QR, instal aplikasi, atau konsultasi awal.

Untuk Jamaah dan Masyarakat Umum

  • Mulai dari hal sederhana: cari tahu status finansial keluarga, apa yang terjadi kalau pencari nafkah utama sakit atau wafat.
  • Manfaatkan chatbot dan aplikasi yang disediakan lembaga keuangan syariah resmi, bukan asal ikut tawaran di grup WhatsApp.
  • Kalau ragu, catat pertanyaan dan bawa ke pengajian atau konsultasi dengan ustaz yang paham fikih muamalah.

Menjadikan AI sebagai “Asisten Imam” Literasi Keuangan Umat

Gerakan OJK mendorong khutbah dan dakwah membahas asuransi, penjaminan, dan dana pensiun syariah adalah langkah berani dan tepat sasaran. Akar masalahnya bukan hanya kurang produk, tapi kurang pemahaman yang menyentuh hati dan akal secara bersamaan.

Di sisi lain, perkembangan AI dalam industri asuransi dan perbankan Indonesia membuka peluang besar: apa yang disampaikan di mimbar bisa langsung dilanjutkan di aplikasi, chatbot, dan layanan digital yang personal.

Kalau masjid menjadi pusat literasi, dan AI menjadi “asisten imam” yang siap menjawab detail teknis 24/7, jarak antara literasi 45,4% dan inklusi 28% bisa dipersempit jauh lebih cepat.

Pertanyaannya sekarang:

  • apakah lembaga keuangan syariah siap menyambut jamaah yang mulai sadar risiko?
  • dan apakah kita, sebagai bagian dari umat, siap menjadikan asuransi dan dana pensiun syariah sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keluarga, bukan sekadar wacana di khutbah?

Kalau jawabanmu condong ke “iya”, langkah kecil yang bisa dimulai hari ini sederhana: cek kembali proteksi yang sudah kamu miliki, lalu cari kanal digital syariah yang bisa membantumu merencanakan masa depan dengan lebih tenang — dan lebih cerdas.